Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Atlet Senior Bali, Ni Ketut Cita, Pulang Jalan Kaki 25 KM Usai Raih Emas di PON 2024: Lahir dari Keterbatasan Ekonomi

I Putu Suyatra • Kamis, 26 September 2024 | 04:49 WIB
JALAN KAKI: Atlet atletik asal Buleleng, Ni Ketut Cita pulang ke Singaraja dengan berjalan kaki. (Ni Ketut Cita untuk Radar Buleleng)
JALAN KAKI: Atlet atletik asal Buleleng, Ni Ketut Cita pulang ke Singaraja dengan berjalan kaki. (Ni Ketut Cita untuk Radar Buleleng)

BALIEXPRESS.ID – Perjalanan penuh tekad dan inspirasi datang dari Ni Ketut Cita, atlet senior asal Buleleng, yang berhasil meraih medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024.

Dalam nomor estafet 4x400 meter, Cita membuktikan kehebatannya dan membawa pulang emas.

Namun, bukan hanya kemenangan yang membuatnya mencuri perhatian. Nazar yang ia buat menjelang pertandingan, yakni pulang berjalan kaki ke kampung halamannya di Buleleng, pun ia tepati.

Cita, yang menyadari bahwa PON 2024 adalah kesempatan terakhirnya, dengan tulus berjanji kepada teman-temannya untuk berjalan kaki pulang ke Singaraja jika berhasil meraih emas.

"Sebelum tanding, saya bilang kalau juara di PON, mau jalan kaki pulang. Eh ternyata juara, teman-teman dan senior ingatkan janji itu," ujar Cita sambil tersenyum.

Perjalanan 25 KM Demi Menepati Janji

Setelah membawa medali emas pulang ke Bali pada 21 Agustus 2024, Cita memulai perjalanan panjangnya dari Desa Pancasari menuju Taman Kota Singaraja, dengan jarak tempuh mencapai 25 kilometer.

Ia berjalan kaki selama 4 jam, didampingi suami dan keponakannya yang mengikutinya dengan sepeda motor.

Tak disangka, di tengah perjalanan yang semakin gelap, sejumlah teman-temannya muncul untuk memberikan dukungan dan menemani hingga tiba di tujuan.

“Pas agak gelap, teman-teman datang. Mungkin mereka tahu dari live media sosial. Jadi perjalanan malam itu terasa aman karena didampingi,” ungkap Cita.

Meski awalnya hanya berencana berhenti di Tugu Singa, semangat dan dukungan yang datang membuatnya melanjutkan langkah hingga ke Taman Kota Singaraja.

"Ini rezeki pas lomba, lunasi hutang sama Tuhan, walaupun masih capek banget," tambahnya.

Perjalanan Panjang Seorang Atlet Senior

Karier Cita di dunia atletik sudah dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMP pada tahun 2006.

Berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Cita mengawali latihan atletik dengan berjalan kaki dari rumahnya di Desa Pancasari.

"Waktu itu nggak ada motor karena ekonomi sulit, jadi harus jalan kaki untuk latihan," kenangnya.

Hasil dari kerja kerasnya mulai terlihat pada PON 2012, di mana Cita meraih medali perunggu.

Prestasi itu berlanjut pada PON 2016 di Jabar dan PON Papua, di mana ia kembali meraih medali perunggu.

Akhirnya, di PON Aceh-Sumut 2024, Cita meraih puncak kariernya dengan menyabet medali emas yang diidamkan.

“Ini PON terakhir saya, karena di atletik ada batasan umur hingga 35 tahun,” ujar Cita, yang juga seorang personel Polisi Pamong Praja di Buleleng.

Pesan untuk Generasi Muda Atlet

Sebagai atlet senior yang telah menutup kariernya di PON dengan manis, Cita berharap prestasinya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya atlet-atletik di Buleleng.

"Semoga saya bisa jadi inspirasi untuk adik-adik di atletik. Yang baik diambil, yang buruk dibuang. Karena atlet atletik di Buleleng masih terhitung sedikit," tandasnya.

Dengan perjuangannya yang gigih, Cita tidak hanya menunjukkan kehebatannya di lintasan, tetapi juga menorehkan kisah inspiratif tentang tekad dan janji yang tak teringkari.

Perjalanannya yang panjang, baik di dunia olahraga maupun pulang berjalan kaki, akan selalu dikenang sebagai bukti dedikasi seorang atlet sejati. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#medali #bali #Ni Ketut Cita #atletik #emas #pon #buleleng