Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengejutkan, Anggota Fraksi Demokrat DPR RI Minta Kevin Diks Jadi Naturalisasi Terakhir di Timnas Indonesia

Y. Raharyo • Selasa, 5 November 2024 | 01:44 WIB
Kevin Diks
Kevin Diks

BALIEXPRESS.ID — Anggota Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah, menyampaikan pandangan mengejutkan terkait naturalisasi atlet. Dia berharap naturalisasi Kevin Diks menjadi naturalisasi yang terakhir di Timnas Indonesia.

Anita Jacoba Gah menyampaikan itu dalam rapat Komisi X DPR RI yang digelar pada Senin, 4 November 2024.

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur 2, itu menyampaikan di hadapan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo serta Sekjen PSSI Yunus Nusi.

Rapat itu membahas naturalisasi tiga pesepak bola. Selain Kevin Diks, juga ada dua pesepak bola perempuan, yakni Estella Loupattij dan Noa Leatomu.

"Kami berharap ini mungkin agak sedikit ekstrem, ya, kami berharap, sebagai rakyat Indonesia, sebagai wakil dari seluruh rakyat Indonesia, saya berharap bahwa semoga ini yang terakhir," kata Anita.

Anita mengatakan, Indonesia memiliki potensi atlet yang melimpah dari berbagai daerah, termasuk dari wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

"Karena kita tidak miskin atlet. Siapa bilang kita miskin atlet? Kita banyak atlet. Kenapa kita harus ambil dari luar terus," katanya.

Dia menyebut, NTT yang masuk sebagai provinsi tertinggal dan terbelakang, merupakan gudang atlet.

"Kalau hanya bisa lari, tinju, sepak bola, saya rasa pasti kita punya atlet banyak di Indonesia. Tetapi pertanyaan saya, kenapa kita harus mengambil dari luar? Bukan sekali ini, sudah beberapa kali. Perlu dipertanyakan dan perlu menjadi perhatian kita semua," katanya.

Dia mengatakan, Nusa Tenggara Timur, daerah asalnya yang dikenal sebagai wilayah tertinggal, sebenarnya memiliki banyak atlet berbakat. Menurutnya, atlet-atlet dari daerah terpencil sudah terbiasa dengan hidup yang keras sehingga memiliki fisik dan mental yang kuat.

Anita juga menilai, daripada mengambil atlet dari luar negeri, Indonesia sebaiknya mendatangkan pelatih internasional jika dibutuhkan. Hal ini, menurutnya, akan memberikan dampak yang lebih besar bagi pengembangan atlet Indonesia secara keseluruhan. Katanya, pengalaman naturalisasi atlet sebelumnya tidak selalu berbuah sukses.

"Pengalaman kemarin, kita ambil atlet dari luar ternyata tidak berhasil juga. Itu kita bicara tentang keberhasilan," tandasnya.

Karena itu, ia berharap Menpora dan PSSI dapat mengevaluasi dan membidik potensi atlet dalam negeri.

“Kalau atlet kita dilatih dan dibimbing dengan baik, saya yakin mereka bisa menjadi atlet kelas dunia. Indonesia mampu kok, hanya saja perlu pembinaan yang lebih fokus,” tambahnya.

Ia berharap agar pemerintah, terutama Kemenpora dan PSSI, dapat lebih serius mengembangkan atlet dalam negeri daripada terus mengandalkan pemain naturalisasi dari luar.

Anita juga menekankan harapannya agar PSSI dan Kemenpora lebih memperhatikan pembinaan atlet dari daerah-daerah yang memiliki potensi, namun sering kali terabaikan.

Baginya, keberhasilan atlet Indonesia di kancah internasional akan lebih membanggakan jika diraih oleh anak dari pembinaan di dalam negeri.

Walau demikian, Anita mewakili Fraksi Partai Demokrat mendukung naturalisasi ini. Namun dia kembali menitikberatkan bahwa proses pembinaan di dalam negeri harus menjadi perhatian penting.

"Kami Partai Demokrat mendukung, tetapi kami akan lebih bahagia lagi kalau itu adalah anak-anak kita sendiri, yaitu anak Indonesia. Walaupun saya dengar mereka ada darah Indonesia dari neneknya tadi ya. Tapi saya rasa, kalau anak-anak kita dilihat betul, dididik betul, ini menjadi catatan penting untuk Kemenpora dan PSSI," katanya. ***

Editor : Y. Raharyo
#timnas indonesia #dpr ri #Anita Jacoba Gah #naturalisasi #fraksi partai demokrat #Kevin Diks