BALIEXPRESS.ID - Di balik deretan prestasi gemilang yang berhasil diukir Shin Tae-yong bersama Timnas Indonesia, tersimpan sebuah luka yang mendalam dan tak terlupakan.
Meskipun berhasil membawa Garuda terbang tinggi di berbagai kompetisi, ada satu mimpi besar yang harus kandas di tengah jalan, meninggalkan penyesalan yang membekas di hati sang pelatih asal Korea Selatan.
Dalam berbagai kesempatan, termasuk wawancara terbarunya dengan media Korea Selatan News Daily, Shin Tae-yong tak pernah secara gamblang mengungkapkan kekecewaannya terhadap hal-hal negatif selama masa baktinya di PSSI.
Baca Juga: Tari Baris Jojor di Desa Selulung, Kintamani Dipentaskan saat Pujawali, Simbol Kejujuran
Namun, ketika menyinggung soal Piala Dunia U-20 2023, nada bicaranya berubah. Ada kesedihan yang tersirat, sebuah penyesalan yang tampaknya masih membayangi.
"Piala Dunia U-20 adalah salah satu alasan saya datang ke Indonesia," ungkap Shin Tae-yong dengan nada yang lebih rendah dari biasanya.
"Saya sudah mempersiapkan diri dengan matang selama 4 tahun, tidak menyerah harapan hingga menit terakhir, tetapi Indonesia tidak jadi berpartisipasi."
Kata-kata tersebut bukan sekadar ungkapan kekecewaan biasa.
Bagi Shin Tae-yong, Piala Dunia U-20 bukan hanya sekadar turnamen. Itu adalah sebuah visi, sebuah proyek jangka panjang yang telah ia curahkan seluruh tenaga dan pikirannya.
Empat tahun persiapan matang, membangun tim muda potensial, dan membayangkan Indonesia tampil di panggung dunia di depan mata sendiri, semuanya sirna begitu saja.
Penyebabnya tak lain adalah keputusan pahit terkait pembatalan status tuan rumah Indonesia akibat penolakan terhadap kedatangan tim Israel oleh pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.
Konflik politik dan agama akhirnya merenggut kesempatan emas bagi Indonesia untuk menunjukkan diri di kancah sepak bola usia muda dunia.
"Jika jadi diselenggarakan, saya yakin turnamen itu akan menjadi dorongan besar bagi sepak bola Indonesia," lanjut Shin Tae-yong, menyiratkan betapa besar harapan yang ia pupuk untuk perkembangan sepak bola Tanah Air melalui ajang tersebut.
Kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah, sekaligus kehilangan kesempatan bagi para pemain muda Indonesia untuk berkompetisi di level tertinggi, menjadi pukulan telak bagi sang pelatih.
Meskipun setelahnya Shin Tae-yong mampu membawa Timnas senior dan U-23 meraih berbagai pencapaian bersejarah, bayang-bayang Piala Dunia U-20 yang gagal terwujud tampaknya masih melekat.
Ini bukan sekadar kegagalan teknis di lapangan, melainkan sebuah mimpi besar yang direnggut oleh faktor eksternal.
Penyesalan ini menjadi ironi tersendiri di tengah kesuksesan Shin Tae-yong lainnya. Ia berhasil membuktikan diri sebagai pelatih yang mampu mengangkat performa Timnas Indonesia, namun di balik itu, ada sebuah "luka" yang mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.
Mimpi untuk melihat talenta muda Indonesia bersinar di Piala Dunia U-20, di depan publik sendiri, harus terkubur.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, tidak semua hal dapat dikendalikan di atas lapangan.
Ada faktor-faktor di luar teknis dan taktik yang terkadang menjadi penentu, meninggalkan penyesalan mendalam bagi mereka yang telah berjuang keras untuk sebuah mimpi.
Bagi Shin Tae-yong, mimpi Piala Dunia U-20 yang hancur adalah penyesalan terbesar, sebuah babak kelam di tengah catatan gemilangnya bersama Timnas Indonesia. ***
Editor : I Putu Suyatra