Terkait hal ini, Pemkab Badung mengaku bakal melakukan sejumlah upaya guna menangani dampak abrasi. Rencananya akan dilakukan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida. Namun dipastikan seluruh pantai yang terdampak abrasi akan ditangani.
Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta mengatakan, akan melakukan penanganan dampak dari abrasi. Dalam melakukan penanganan, pihaknya mengaku tetap akan melakukan koordinasi dengan BWS Bali-Penida.
“Astungkara (abrasi) tidak sampai merusak pedestrian Pantai Kuta. Kaitan dengan yang itu sudah ada tim teknis kami, dan kami juga sudah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan BWS Bali-Penida. Jangan sampai niat baik kami ini melanggar hukum,” ujar Giri Prasta saat ditemui Senin (27/2).
Bupati asal Pelaga, Kecamatan Petang ini menegaskan, penanganan akan dilakukan di seluruh pantai yang terdampak abrasi. Sebab dirinya tidak akan tinggal diam jika mengetahui akan adanya dampak dari abrasi.
“Tetapi kami bicara terhadap kewenangan. Jadi kami harus berkomunikasi dengan pihak berwenang, baru bisa berjalan. Jangan sampai bukan kewenangan kami, tapi ingin berbuat baik, malah kami yang salah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Badung Ida Bagus Surya Suamba menerangkan, adanya abrasi sebenarnya telah terjadi di seluruh dunia. Hal ini berkaitan dengan adanya climate change atau pemanasan global. Sehingga menyebabkan volume air laut yang bertambah seiring dengan mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan.
“Ditambah dengan kondisi angin yang kencang. Karena juga pemanasan global, sehingga abrasi yang terjadi saat ini akan semakin parah kedepannya,” ujar Surya Suamba.
Menurutnya, Pemkab Badung telah menyiapkan skema penanganan dampak abrasi. Sebab di tahun ini telah dibuatkan kajian konservasi pantai. Mulai dari Kuta hingga Cemagi. “Nah pantai ini yang prioritas, saat ini dikaji. Sehingga 2024 akan dilakukan normalisasi, bahkan sampai dengan reklamasi. Atau penyelamatan pantai kami yang sepanjang 17 km, dari Kuta sampai Cemagi,” jelas birokrat asal Tabanan tersebut.
Lebih lanjut ia menambahkan, dari adanya kajian tersebut akan diketahui langkah-langkah yang harus dikerjakan. Sehingga abrasi yang terjadi dapat diminimalisasi.
“Untuk jangka pendek di Kuta. Saat ini sedang kami kaji yang terjadi abrasi sekarang. Dalam waktu dekat, sekarang, mungkin minggu depan, itu sudah akan kami lakukan perbaikan dengan membuat revetment. Dan juga penambahan pasir,” imbuhnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya