Beberapa bangunan yang dibuat pada zaman Belanda menjadi salah satu objek wisata City Tour Singaraja, melengkapi objek pawisata Bali. Tak lengkap bila jalan-jalan di Singaraja tidak mengunjungi tempat tersebut.
Banyak hal unik dan menarik yang ada di seputar Kota Singaraja yang menjadi objek wisata City Tour Singaraja. Di ujung utara Kota Singaraja ada Pelabuhan Tua Buleleng. Di kawasan ini ada beberapa bangunan tua yang dibuat pada jaman Belanda. Bangunan Belanda itu telah direnovasi dari bentuk aslinya. Namun sebagian masih ada yang dipertahankan. Satu bangunan tua kini diberdayakan sebagai museum tematik.
Sebagai bagian dari pariwisata Bali utara, objek City Tour Singaraja “menjual” museum yang mengisahkan sejarah singkat Gubernur Sunda Kecil, Mester I Gusti Ketut Pudja.
Tepat di hadapan museum terdapat monumen yang menjulang tinggi. Monumen itu disebut Yuda Mandala Tama. Patung pemuda dengan bendera merah putih itu melambangkan semangat pemuda saat melawan pasukan NICA dari Belanda. Tangan yang menunjuk ke arah laut pun mengabarkan bahwa pasukan NICA akan menyerang.
Bergeser ke sebelahnya terdapat restoran apung. Sebelum menjadi restoran, tempat itu adalah dermaga. Kapal-kapal besar sering berlabuh di dermaga itu. Awak kapal yang turun harus menggunakan sekoci untuk sampai ke daratan. Sekoci-sekoci itu akan berlabuh di dekat muara laut atau di tepi dekat dermaga. Tujuannya untuk membawa barang seperti kopi, cengkih serta ikan ke gedung Doana. Di sanalah tempat transaksi saudagar-saudagar besar.
Objek City Tour Singaraja ini kini bernama Gedung Mester Ketut Pudja. Saat ini gedung itu telah berdiri megah dan sering digunakan sebagai lokasi pertemuan maupun pernikahan atau acara lainnya.
Di bagian timur terdapat bangunan suci milik umat Tionghoa. Klenteng Ling Gwan Kiong adalah klenteng terbesar di Buleleng. Di balik berdirinya klenteng itu terdapat sejarah panjang. Hingga kini klenteng tersebut sering digunakan umat Tionghoa sebagai tempat beribadah.
Keluar dari Pelabuhan Tua Buleleng, tepatnya sebelah timur klenteng, terdapat jembatan dengan cat putih. Jembatan itu dikenal dengan jembatan Kampung Tinggi. Pada zamannya jembatan itu adalah akses utama masyarakat Buleleng, sebelum jalan raya dibangun di sebelahnya yang kini menjadi jalan utama.
Bergeser dari Pelabuhan Tua menuju arah kota. Di Jalan Imam Bonjol Singaraja akan dijumpai banyak pertokoan. Toko-toko itu sebagian besar milik orang Cina. Sekitar jalan itu termasuk kompleks pecinan di Buleleng. Termasuk bangunan-bangunan lama yang masih terlihat di atas pertokoan itu.
Dari jalan Imam Bonjol juga dapat mengakses Pasar Anyar. Pasar ini adalah pasar tertua di Buleleng. Sebelum dikenal sebagai Pasar Anyar Buleleng, dulu disebut Peken Pabean.
Jika perjalanan dilanjutkan menuju Jalan Gajah Mada maka akan disuguhkan dengan bangunan tua yang difungsikan sebagai sekolah SMPN 1 Singaraja. Bangunan sekolah itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Beberapa ornamen hingga gaya bangunan khas Belanda masih dipertahankan.
Tak jauh dari sekolah menuju ke selatan, tepatnya di Kelurahan Banjar Jawa, terdapat sebuah gardu listrik. Gardu itu menjulang tinggi dan besar. Gardu ini terlihat tidak biasa, sebab merupakan gardu lawas. Konon gardu listrik ini dibangun oleh Pemerintah Belanda. Bangunannya pun masih kokoh berdiri di pinggir jalan raya.
Masih lurus ke selatan melintasi Jalan Gajah Mada Singaraja, terdapat sebuah kuburan. Tidak hanya bersih, kuburan itu juga memiliki cerita unik. Di dalam kuburan terdapat satu pohon besar yang masih terjaga hingga kini. Pohon itu dahulu digunakan untuk memantau pergerakan pasukan penjajah yang datang melalui Pelabuhan Buleleng. "Bisa disebut pohon peninjauan ini, karena digunakan untuk neropong musuh," ujar tokoh masyarakat Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.
Di bagian depan kuburan Buleleng ini terdapat relief yang diukir cantik. Dari awal hingga akhir relief itu bercerita mengenai kehidupan manusia dari ikatan duniawi hingga surga dan neraka. Sangat unik.
Setelah melalui Jalan Gajah Mada, terdapat Pasar Buleleng. Pasar ini konon merupakan pusat desa. Di sebelahnya terdapat Puri Kanginan dan juga di seberangnya terdapat Puri Gede Buleleng. Di dekat puri terdapat Pancoran Desa. Konon pancoran ini dibangun raja Buleleng sebagai pemandian umum. Air yang mengalir ke pancoran itu berasal dari lingkungan puri yang merupakan kerajaan Buleleng pada jaman dulu.
Paling ujung selatan wisata kota Singaraja ditutup dengan keberadaan Pura Bale Agung atau Pura Desa Buleleng. Pura ini masih kental dengan nuansa ukiran gaya Buleleng. Dari Pura Desa bisa tembus ke Bale Agung. Tepatnya ke rumah tinggal Nyoman Rai Srimben yang tak lain dan tak bukan adalah ibunda Presiden RI pertama, Ir. Soekarno.
Bergeser dari kawasan Bale Agung, berbelok ke Jalan Veteran akan terlihat relief-relief unik di pagar Puri Seni Sasana Budaya. Kini bangunan itu telah menjadi cagar budaya. Relief yang terpasang merupakan relief tempel. Kemungkinan relief ini hanya terdapat di bangunan-bangunan milik puri.
Baca Juga: Dewan Badung Minta Kasus Pencurian Air Perumdam Segera Diselesaikan
Dari kawasan itu, terdapat Museum Buleleng. Di dalamnya terdapat beberapa benda purba seperti sarkofagus, bebtauan jaman megalitikum, hingga benda-benda peninggalan. Tak luput juga mobil dinas gubernur pertama dan terakhir Sunda Kecil, MR. Ketut Puja masih tersimpan di sana.
Di sebelahnya terdapat Museum Gedong Kirtya. Di museum ini tersimpan ribuan lontar. Ada lima ribu lebih lontar dengan beragam isinya. Museum ini dibangun oleh cendikiawan Belanda Van Deer Took. Hingga kini museum lontar Gedong Kirtya menjadi salah satu rujukan bagi peneliti dunia.
Tak jauh dari Gedong Kirtya, sekitar 100 meter ke barat terdapat sekolah SDN 1 Paket Agung. Dahulu sekolah ini disebut Sekolah Rakyat (SR) 1. Sekolah ini adalah sekolah pertama dan tertua di Buleleng. Di sinilah Ayah Bung Karno, Raden Soekemi, pernah mengajar. Patungnya pun diabadikan di depan sekolah.
Berdekatan dengan sekolah itu terdapat kantor DPRD Buleleng. Konon sebelum menjadi kantor DPRD Buleleng, bangunan itu difungsikan sebagai kantor Gubernur Provinsi Sunda Kecil. Dari gedung itulah MR. Ketut Puja memimpin.
Dari Jalan Veteran menuju barat akan terlihat patung Singa Ambara Raja menghadap ke utara. Patung itu adalah ikon Buleleng. Di balik kemegahannya, patung itu menyimpan beberapa misteri. Hal-hal aneh sering terjadi. Kekuatan magis dari patung itu tak dapat diragukan. Konon ketika terjadi Bom Bali I, Kapolda Bali yang dijabat Made Mangku Pastika memohon restu di patung itu agar dapat meringkus teroris.
Dari patung Singa Ambara Raja, di sebelah kiri terdapat bangunan Belanda yang menjadi kawasan heritage Kota Singaraja. Konon bangunan itu sempat dikelola sebagai rumah sakit. Namun kini dikelola secara pribadi.
Melintas di Jalan Ngurah Rai Singaraja memang cukup padat. Pusat Kota Singaraja terpampang nyata. Namun siapa sangka di sekitar jalan itu dahulu terdapat bioskop yang digemari pemuda pada masanya. Bioskop Mudaria. Kemudian di seberangnya terdapat bangunan tua yang dikelola TNI/AD sebagai koperasi TNI/AD. Konon bangunan itu adalah ruang dansa bagi para bangsawan Belanda. Dulu disebut BallRoom. Namun masyarakat dahulu menyebutnya bangunan Kamar Bola. Di belakangnya terdapat lapangan tenis. Lapangan itu disebut-sebut sebagai lapangan tenis pertama di Buleleng.
Menutup perjalanan wisata kota Singaraja adalah bangunan sebuah gereja. Lagi-lagi, bangunan ini masuk sebagai bangunan gereja pertama di Buleleng. Gereja ini pun disebut-sebut sebagai tempat ibadah bagi umat Kristen dari golongan bangsawan, tentunya untuk orang-orang Belanda yang sempat tinggal di Buleleng pada jaman kolonial dulu.
Bagaimana? Masih ragu untuk wisata kota di Buleleng?
Editor : Nyoman Suarna