KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Alat transportasi tradisional saat ini sangat jarang bisa ditemui. Pamornya kalah dengan alat transportasi modern seperti sepeda motor hingga mobil. Namun ditengah gempuran modernisasi, masih ada beberapa orang yang berjuang agar alat transportasi tradisional ini tidak punah.
Ia adalah I Ketut Dania, 62, warga Jalan Jempiring, Banjar Ayung, Klungkung, Bali. Dirinya sudah 13 tahun menjadi kusir Dokar yang mangkal di pusat Kota Klungkung.
“Dulu saya kuli bangunan, lalu ada teman mengajak jadi kusir Dokar,” ujarnya Minggu (3/9).
Ketika itu ajakan dari temennya ia sanggupi karena memang di tahun itu, Dokar sedang naik daun karena menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat. Bahkan kata dia, ada ratusan Dokar yang sering mangkal di pusat Kota Klungkung.
“Dulu ada ratusan (Dokar) sekitar tahun 1980-an, karena waktu itu ramai. Banyak wisatawan datang ke Kertagosa, langsung naik Dokar. Selain itu masyarakat lokal yang mau belanja ke pasar juga banyak yang pakai Dokar,” imbuhnya.
Sayangnya seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, jumlah Dokar yang menawarkan jasanya semakin berkurang.
Hingga kini hanya tersisa dua Dokar saja yang beroperasi. Dania sendiri dan satu orang lagi adalah sang kakak. Hal itu terjadi karena penumpang yang sepi.
“Teman saya itu keluar dari pagi sampai jam 11 karena sudah punya langganan. Kalau saya dari jam 9 sampai sore. Biasanya jam 4 saya pulang, tapi kalau sepi jam 3 saya sudah pulang,” papar ayah tiga orang anak itu.
Dalam sehari, jika sedang ramai Dania bisa berangkat hingga 5 kali saja, sedangkan jika sepi ia hanya bisa berangkat 2 kali saja. Namun jika sedang tidak hoki, ia bisa tidak mendapatkan penumpang sama sekali. “Sekarang sudah tidak kayak dulu. Kalau wisatawan yang tertarik, biasanya yang dari Tiongkok. Sisanya palingan masyarakat lokal,” sebutnya.
Padahal ongkos yang dirinya kenakan untuk sekali naik Dokar terbilang cukup terjangkau. Tergantung dari jarak. Jika dekat ia hanya mematok ongkos Rp30 Ribu, sedangkan jika agak jauh ia mematok ongkos Rp50 Ribu. “Ongkos tergantung jarak, mulai dari Rp30 Ribu sampai Rp50 RIbu,” ungkap Dania.
Ia sendiri sudah menganggap kuda yang selama ini menarik Dokarnya sebagai keluarga. Ia merawat kuda tersebut sebaik mungkin karena harus setiap hari bekerja.
“Merawat kuda itu sebenarnya susah susah gampang, tapi saya sudah anggap dia keluarga jadi saya merawat dia dengan sepenuh hati,” ujarnya.
Selain memberi makan rumput, ia juga memberikan makanan berupa telur bebek mentah agar stamina kuda semakin prima. Tak lupa ia juga menjaga kebersihan kuda asli Bali kesayangannya yang 13 tahun yang lalu ia beli seharga Rp9 Juta di daerah Jembrana. “Yang penting makanannya harus sehat,” tegasnya.
Ia pun berharap wisata Dokar di pusat Kota Klungkung bisa bangkit sebagaimana yang diwacanakan pemerintah lewat program City Tour. Sebab menurut informasi yang ia dengar, pemerintah sudah merencanakan mengenai paket wisata di pusat Kota Klungkung yang akan menggunakan Dokar dalam transportasinya.
Hanya saja hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut.
“Sempat saya dengar Dokar akan dilestarikan, jadi wisatawan akan diarahkan dari Kertagosa misalnya menuju Desa Wisata Kamasan itu naik Dokar. Tapi sampai sekarang tidak ada kami (kusir Dokar) ditugaskan atau bagaimana, belum ada lah kelanjutannya,” bebernya.
Dan apabila rencana itu benar terealisasi maka ia percaya teman-teman kusir Dokar lainnya pasti akan bangkit dan Dokar pasti akan kembali ramai menghiasi Kota Klungkung. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana