SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sebagai pedagang es di pinggir jalan kawasan Bali Utara, tepatnya Jalan Ahmad Yani Barat, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Sahuri terus melakukan inovasi.
Hal ini lantaran dagangannya kerap ditiru pedagang lain.
Kali ini Sahuri memutuskan berjualan es yang diberi merk Es Lumut Pelangi sebagai kuliner terbarunya.
Merk Es Lumut Pelangi sengaja ditulis di depan gerobak yang dicat warna pink.
Ukuran gerobaknya standar, tidak terlalu besar.
Sejumlah toples berderet dengan isian buah-buahan segar.
Satu toples besar berisi bumbu asinan. Tiga toples lainnya berisi potongan-potongan agar-agar.
Agar-agar itulah yang diibaratkan sebagai lumut karena teksturnya kenyal dan licin mirip seperti lumut.
Warna-warni agar-agar itu pun terlihat segar dan menggiurkan.
“Karena teksturnya seperti lumut dan warnanya seperti pelangi, jadilah Es Lumut Pelangi. Sederhana saja, yang penting beda,” ujar Sahuri sembari menyiapkan seporsi es, Selasa (7/11) siang.
Tidak hanya es, Sahuri juga menjual asinan. Ada mangga, jambu, kedondong dan nanas.
Satu porsinya dijual dengan harga Rp 10 ribu. Sedangkan Es Lumut Pelasi Rp 5 ribu.
Asinan dan bahan-bahan lainnya dimasak dan disiapkan oleh istrinya. Tugas Sahuri hanya berjualan.
“Restu istri adalah rejeki. Semuanya disiapkan oleh istri saya sampai desain dan warna gerobak. Saya hanya jualan dari jam 12.00 Wita sampai 15.00 Wita,” terangnya.
Sebelum beralih ke es lumut dan asinan, Sahuri sempat berjualan jambu kristal.
Awal berjualan, jambunya laris manis. Jambu yang dijual manis dan renyah. Apalagi dijual dengan bumbu rujak.
Rujak jambu kristal Sahuri dalam waktu singkat jadi terkenal, banyak yang membeli.
Lama-lama pelanggannya semakin berkurang. Ia pikir karena pembeli sudah bosan, tetapi ternyata ada penjual lain yang menjual rujak jambu kristal.
“Itu saya tidak lama jualannya. Terlalu gampang untuk ditiru dan banyak yang jual. Daripada stress mikirin jualan yang gak laku, ya ganti produk,” kata dia.
Rujak jambu kristal pun disetop.
Ia beralih ke minuman. Namanya Es Jomblo. Warna gerobaknya saat itu dominan ungu muda dan manis. Lagi-lagi desain itu dibuat istrinya.
Nama unik itu dibuat Sahuri lantaran yang nongkrong di tempatnya rata-rata tidak memiliki pasangan.
“Yang rehat di sini semua teman-teman saya. Tapi jomblo semua. Hampir setiap hari di sini beli es. Jadi ya sudah saya namakan saja Es Jomblo,” tutur Sahuri.
Tak berselang lama, usaha Es Jomblo milik Sahuri lenyap. Gerobaknya lama tidak terlihat.
Ternyata Sahuri kembali ke rumah untuk merenung dengan istrinya merancang inovasi baru.
Es Jomblo terpaksa ia tutup karena ada yang meniru dan dagangannya tidak laku lagi.
“Kalau sudah tidak viral lagi, ya bagaimana mau hidup. Kalau mau tetap bertahan, harus berani beda dan berinovasi,” ucapnya.
“Es Jomblo itu bertahan sekitar 3 bulan saja. Habis itu saya putuskan untuk berhenti, dan sekarang jadi es lumut ini,” papar pria asal Surabaya itu.
Editor : Nyoman Suarna