BALI EXPRESS – Untuk mewujudkan keinginannya menikmati hidangan bebek, Ayu Gayatri, 44 mengubah sebuah gudang menjadi warung.
Warung ini berbeda dengan warung makan lainnya. Menunya saat ini hanya bebek goreng dan bebek bakar.
Meski hanya dua jenis menu sederhana, namun rasanya berani diadu. Kelebihannya, bumbunya menggunakan resep pribadi, tanpa penyedap rasa.
Warung yang dibuat Ayu dan suaminya Gede Kresna cukup unik. Konsep industrial terlihat menonjol, dipadukan dengan desain anyaman bambu di dinding.
Sebelumnya, warung itu adalah gudang kayu milik mertuanya. Banyak kayu-kayu yang digunakan untuk bahan bangunan.
Tetapi dalam waktu lama gudang itu teronggok tidak terurus. Ayu lantas berpikir untuk mengubah gudang itu menjadi ruang yang bermanfaat.
“Saya berpikir akan jadi apa gudang ini. Jadi saya buat warung saja. Saya dan suami juga suka makan bebek, dan di Singaraja sulit menemukan tempat makan bebek. Apalagi yang sesuai dengan selera kami,” ungkapnya, Rabu (23/1) siang.
Dengan semangat dan kecintaannya terhadap kuliner, Ayu memutuskan untuk menghadirkan cita rasa khas Surabaya menjadi menu hidangan bebek gorengnya.
Bebek goreng yang dijual Ayu di Warung Bebek Pesona Singaraja, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng memiliki ciri khas tersendiri.
Ayu menggunakan gagrak Surabaya untuk memasak bebeknya, sehingga menghasilkan bebek goreng kering namun tetap juicy.
Aroma harum dan kelezatan daging bebek yang gurih membuat orang dapat merasakan sentuhan khas Surabaya di setiap kunyahan.
Yang menarik, Ayu berhasil menciptakan rasa yang kuat dalam bebek gorengnya, tanpa menggunakan penyedap rasa seperti MSG.
Ayu yang juga turut berpartisipasi dalam Ubud Food Festival 2022, mengungkapkan bahwa dia sengaja menghindari penggunaan MSG dalam setiap masakannya.
“Inspirasinya memang dari bebek (gagrak) Surabaya. Tetapi saya kembangkan lagi, karena untuk membuat rasa masakan tanpa MSG, kan jadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Keputusan Ayu untuk membawa cita rasa Surabaya ke Desa Bengkala memiliki alasan tertentu.
Ia ingin Warung Bebek Pesona Singaraja menjadi pembeda dari rumah makan babi guling yang banyak dijumpai di daerah tersebut.
Ayu berharap setiap orang di Buleleng yang mendengar tentang bebek goreng akan langsung terpikirkan Warung Bebek Pesona Singaraja.
“Supaya punya ciri khas sendiri, kami pilih bebek,” katanya dengan mantap.
Selain itu, Ayu memilih bangunan yang dulunya adalah gudang workshop ayah mertuanya sebagai lokasi Warung Bebek Pesona Singaraja.
Dengan cara ini, dia dapat memberikan ciri khas pada rumah makannya, tanpa perlu menyewa tempat baru.
Sebelumnya, Ayu dikenal sebagai sosok di balik berdirinya Pengalaman Rasa, dapur dan laboratorium kuliner yang mengusung semangat melestarikan resep-resep turun-temurun.
Pengalaman rasa juga menjadi tempat eksklusif untuk menikmati olahan masakan khas Ayu.
Kini dengan Warung Bebek Pesona Singaraja, Ayu berharap dapat menghadirkan kelezatan bebek nusantara untuk dinikmati oleh masyarakat Buleleng dan sekitarnya.
Ayu berkomitmen untuk terus melakukan riset dan pengembangan menu di Warung Bebek Pesona Singaraja.
Cita-citanya adalah memberikan variasi menu bebek nusantara yang unik dan lezat kepada pelanggan setianya.
“Kalau kami bukan Balinese Style. Ini agak basah sedikit. Tidak garing, nanti akan menu bebek yang lain. Sementara ini dulu, bebek goreng dan bebek bakar,” ujarnya.
Editor : Nyoman Suarna