BANGLI, BALI EXPRESS- Air Terjun Tukad Cepung menjadi salah satu air terjun yang bisa menjadi pilihan bagi para pencinta wisata alam.
Air Terjun Tukad Cepung berada di Desa Tembuku, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali.
Jika lewat Kota Bangli, cari saja jalur ke arah timur di simpang tiga Kelurahan Cempaga. Tidak sampai 1 jam sudah sampai di Desa Tembuku, tempat Air Terjun Tukad Cepung.
Apa menariknya Air Terjun Tukad Cepung? Objek air terjun yang mulai dirintis sejak 2016 ini sudah dikenal di mancanegara. Tak sedikit wisatawan asing singgah ke sana.
Sebelum pandemi Covid-19, jumlah kunjungan ke Air Terjun Tukad Cepung tembus 800 orang per hari.
Namun sama seperti objek wisata pada umumnya di Bali, pandemi yang melanda dunia sempat membuat pengelola air terjun itu tak bisa berkutik.
“Sekarang baru mulai merangkak lagi,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tukad Cepung I Ketut Joni Wismayana, Kamis, 15 Februari 2024.
Sejak November 2023, tingkat kunjungan wisatawan sudah menyentuh angka 100 orang per hari. “Sekarang 400-an per hari, lumayan,” kata Joni.
Masih sama dengan sebelum pandemi, wisatawan mancanegara mendominasi kunjungan ke sana. “Domestik paling 10 persen,” lanjut Joni.
Pria yang juga perajin ini mengungkapkan, wisatawan tertarik berkunjung ke Air Terjun Tukad Cepung tidak terlepas dari wisata alam yang disuguhkan di sana. Masih alami.
Dari areal parkir kendaraan, pengunjung akan disuguhkan pemandangan hijau yang menemani selama menapaki anak tangga dan jalan setapak sekitar 400 meter.
Tiba di sungai, pengunjung bisa menikmati dua air terjun berbeda. Jaraknya tidak terlalu jauh. “Satu di luar, satunya lagi di dalam gua,” terang Joni.
Soal tiket, harganya masih terjangkau. Harga tiket wisatawan asing maupun domestik sama, yaitu Rp30 ribu per orang. Tenang, bila mengajak anak yang usianya di bawah 10 tahun, itu gratis.
Hanya saja, pengunjung perlu memikirkan transportasi sebelum ke sana. Hindari menggunakan bus dengan kapasitas 45 seat atau lebih.
Sebab jalan desa menuju objek itu terbilang sempit untuk bus berukuran besar. “Jalan terlalu kecil, kalau satu jalur bus 45 seat bisa, papasan tidak bisa,” tegas Joni. (*)
Editor : I Made Mertawan