BALI EXPRESS - Bali Timur memiliki banyak destinasi wisata menakjubkan. Di antaranya Pura Besakih sebagai landmark-nya Kabupaten Karangasem, dan Gunung Agung sebagai gunung tertinggi di Bali.
Selain itu juga terdapat berbagai tradisi unik, seperti megibung yang menjadi ciri masyarakat Karangasem dan minuman alkoholnya yang terkenal.
Namun tidak banyak yang tahu kalau Karangasem juga memiliki banyak pantai yang indah.
Di antara deretan pantai di Karangasem, salah satunya adalah Pantai Labuan Amuk.
Pantai yang terletak di Desa Antiga, Kecamatan Manggis ini memiliki keunikan tersendiri.
Selain pasirnya yang berwarna putih, juga keindahan view Gunung Agung yang memanjakan mata.
Sebuah akun tiktok @dorss6.19 secara tersirat sangat mengagumi Pantai Labuhan Amuk ini.
Hal tersebut terlihat dari tiga foto dengan view Gunung Agung yang diunggah akun tersebut.
Terungkap, jika di balik pemandangan Gunung Agung tersebut terdapat sebuah pantai yang indah, yaitu Pantai Labuan Amuk.
Kedua keindahan tersebut dapat dinikmati dari atas Bukit Labuhan Amuk.
Namun diperlukan sedikit perjuangan untuk dapat menikmati keindahan Gunung Agung dan Pantai Labuhan Amuk dari Bukit Labuhan Amuk, karena melewati jalan terjal.
Sebagai tempat paling strategis untuk melihat keindahan Gunung Agung dan Pantai Labuhan Amuk, banyak warganet yang merasa khawatir terhadap Bukit Labuhan Amuk dengan memberikan pesan bijak.
Sebuah postingan dibuat akun @DORSSMOMENT menulis, ”Spill jalur? janji yak ga buang sampah sembarangan, kalo buang kenangan boleh si.”
Kekhawatiran tersebut juga diungkap akun tiktok @wira. Dalam unggahannya, akun tersebut menulis, “De san wi bek luu ditu njep.”
Hal ini meminta kepada pengunjung agar tidak membuang sampah di tempat tersebut.
Sementara itu akun tiktok @deeeee menimpali, “Cukup untuk simpanan pribadi aja bli... tau sendiri orang-orang fomo. Belajar dari bukit trunyan aja.”
Hal ini menyiratkan bahwa banyak yang merasa khawatir tempat tersebut tidak dirawat dan banyak sampah karena banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sana.
Ni Putu Sumariani*
Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Editor : Nyoman Suarna