BALIEXPRESS.ID - Puri Saren Agung, yang lebih dikenal sebagai Puri Ubud, adalah salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Bali.
Istana kerajaan ini tidak hanya menampilkan arsitektur khas Bali yang megah, tetapi juga menyimpan banyak cerita dari masa Bali kuno.
Dengan lokasinya yang strategis di pusat Ubud, Puri Saren Agung menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa penting dalam sejarah Bali.
Pengunjung yang datang ke Puri Saren Agung dapat menikmati keindahan arsitektur bangunan secara gratis.
Setiap sudut puri ini menawarkan keindahan ukiran dan detail yang mencerminkan kekayaan budaya Bali.
Bagi para pecinta sejarah dan arsitektur, Puri Ubud adalah tempat yang tepat untuk mendalami warisan budaya Bali.
Selain keindahan arsitektur, Puri Saren Agung juga terkenal dengan pertunjukan tari tradisional Bali yang diadakan setiap malam.
Mulai pukul 19.30 Wita, pengunjung dapat menyaksikan keanggunan dan keindahan tari-tarian khas Bali dengan latar belakang puri yang megah.
Tiket untuk menyaksikan pertunjukan ini dijual dengan harga Rp 100.000 per orang.
Dilansir dari sultansinindonesieblog, Puri Saren Agung Ubud pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Ida Tjokorda Putu Kandel (1800-1823).
Hingga kini, Puri Saren Agung berfungsi sebagai pusat pelestarian budaya tradisional Bali, seperti tarian dan karya sastra, sekaligus menjadi kediaman Raja Ubud dan beberapa anggota keluarga kerajaan lainnya.
Sekitar tahun 1823, setelah wafatnya Ida Tjokorda Putu Kandel, putranya, Ida Tjokorda Putu Sukawati, menggantikan kedudukannya. Di bawah kepemimpinannya, Ubud mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang.
Kemudian pada tahun 1930-an, Bali mulai didatangi wisatawan asing. Fokus utama pariwisata saat itu terpusat di sekitar Ubud, berkat inisiatif Tjokorda Gde Agung Sukawati yang fasih berbahasa Inggris dan Belanda.
Dia mendirikan sebuah rumah tamu kecil, dan kakak laki-lakinya, Tjokorda Raka Sukawati, yang tinggal di seberang jalan, mengundang komposer terkenal Walter Spies untuk tinggal dan berkarya di Ubud.
Hal ini memicu minat seniman asing lainnya. Seperti seniman Rudolf Bonnet dan Willem Hofker datang ke Ubud untuk memperkenalkan seni lukis modern.
Ketika kabar tentang keindahan Ubud tersebar, desa ini menjadi tuan rumah bagi tokoh-tokoh terkenal seperti Noël Coward, Charlie Chaplin, H.G. Wells, dan antropolog ternama Margaret Mead. Dari sana lah lahir asosiasi seniman dalam Pita Maha. ***
Editor : Y. Raharyo