BALIEXPRESS.ID - Bali dengan tegas menolak pelabelan atau pengadopsian konsep wisata halal.
Sebagaimana pernyataan resmi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Bali akan tetap mempertahankan identitasnya sebagai destinasi wisata berbasis budaya, yang berakar pada kearifan lokal dan kekayaan tradisi yang telah mendunia.
“Wakil Menteri Pariwisata telah menyatakan bahwa pembahasan mengenai wisata halal di Bali telah selesai. Tidak ada rencana atau kebijakan yang akan melabeli Bali sebagai destinasi wisata halal,” tegas Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Senin (23/12).
Baca Juga: Soal WNA Diduga Party Esek-Esek di Canggu, Ngaku Pesta Sambut Nataru, yang Hadir Harus Bayar
Sebagai destinasi unggulan, dikatakan Bali tetap berpegang pada prinsip pariwisata berbasis budaya.
Yang mana, seluruh aspek seperti atraksi, kuliner, dan layanan wisata mencerminkan keunikan tradisi lokal yang menjadi daya tarik utama.
Ketegasan Ketua BTB mendukung penuh pernyataan ini.
Baca Juga: Edarkan 286 Gram Hasis hingga Jamur Tahi Sapi dari Thailand, WNA Rusia Ditangkap BNNP Bali
BTB dengan tegas menolak penerapan sertifikasi halal pada produk atau layanan tradisional Bali yang tidak sesuai dengan konsep tersebut.
“Meskipun menghormati keberagaman kebutuhan wisatawan, termasuk wisatawan Muslim, Bali hanya menyediakan layanan yang ramah Muslim tanpa mengorbankan identitas budaya pulau ini,” katanya.
Pria yang akrab disapa Gus Agung melihat, melestarikan kearifan lokal dan budaya Bali adalah prioritas utama dalam menjaga keberlanjutan pariwisata.
Baca Juga: Jelang Nataru, Angka Hunian di Nusa Penida Belum Meningkat Signifikan
Bali akan terus menjadi destinasi inklusif yang ramah bagi semua wisatawan tanpa mengubah esensi tradisi dan budayanya.
Ketua BTB mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga nilai-nilai budaya Bali yang telah menjadi identitas dan kekuatan utama pariwisata pulau ini.
“Dengan demikian, Bali tetap akan menjadi destinasi unggulan dunia yang mengedepankan keindahan budaya tanpa kompromi terhadap tradisi dan ciri khasnya,” tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti