Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kunjungan Jatiluwih Merosot Tajam, Pengelola Sebut Seng Hanya untuk Halau Burung

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 7 Januari 2026 | 08:57 WIB
Pemasangan seng oleh petani di DTW Jatiluwih sebagai bentuk protes dan berharap keadilan setelah belasan akomodasi pariwisata ditutup oleh pemerintah, Kamis (5/12/2025). 
Pemasangan seng oleh petani di DTW Jatiluwih sebagai bentuk protes dan berharap keadilan setelah belasan akomodasi pariwisata ditutup oleh pemerintah, Kamis (5/12/2025). 

BALIEXPRESS.ID- Polemik penutupan 13 akomodasi wisata di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Tabanan yang berujung pada pemasangan seng di areal persawahan milik petani, mengakibatkan kunjungan wisatawan asing menurun hingga 80 persen.

Terkait kondisi tersebut, Pemkab Tabanan menawarkan solusi berupa moratorium khusus bagi masyarakat lokal pemilik lahan untuk tetap dapat menjalankan usaha di kawasan Subak Jatiluwih.

Moratorium tersebut dinilai sebagai jalan tengah untuk meredam polemik penutupan 13 akomodasi wisata yang dinilai melanggar aturan tata ruang di kawasan wisata Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Terkait moratorium ini, Manajer Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Purna, menyatakan moratorium khusus ini menjadi angin segar bagi industri pariwisata di DTW Jatiluwih, dengan adanya kesepakatan ini, kunjungan wisatawan asing bisa pulih kembali.

“Ini berita yang sangat bagus. Seng akhirnya dibuka atas inisiatif Bapak Bupati beserta jajarannya. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan yang telah memfasilitasi pencabutan seng ini,” ujar Purna, Selasa (6/1/2026).

Sebelum seng dicabut, John mengaku pihaknya harus memberikan alasan kepada wisatawan yang bertanya kenapa areal persawahan ini dipasangi seng.

Untuk menjawab pertanyaan itu, pihak pengelola menyampaikan kepada wisatawan jika seng dipasang untuk menghalau burung yang kerap merusak tanaman padi.

Selain kembali mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menyambut kedatangan wisatawan ke DTW Jatiluwih, pria yang akrab disapa Jhon itu mengatakan, pihaknya akan segera menyampaikan kabar pencabutan seng tersebut kepada berbagai pemangku kepentingan pariwisata, mulai dari Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali, freelance support pariwisata Jatiluwih, hingga sejumlah paguyuban pariwisata lainnya.

“Kami berharap ke depan tidak lagi terjadi konflik serupa di Jatiluwih karena dampaknya sangat signifikan terhadap sektor pariwisata, karena sejak berita ini muncul, tercatat tiga wholesaler pariwisata dari Jerman dan Prancis menghentikan penjualan paket wisata ke Jatiluwih, dengan alasan pertimbangan keselamatan wisatawan,” ungkapnya.

Dari data yang disampaikan, akibat polemik ini, kunjungan wisatawan mancanegara ke DTW Jatiluwih terjun bebas dari sebelumnya 800 hingga 1.000 orang per hari, saat konflik berlangsung angka kunjungan turun menjadi sekitar 100 hingga 120 orang per hari. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#seng #Jatiluwih #tabanan