BALIEXPRESS.ID – Suasana Hari Raya Galungan di Desa Adat Penglipuran, Bangli, tahun ini dipastikan berbeda dari biasanya.
Jejeran penjor yang lazim berdiri di sepanjang jalan utama desa dan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan dipastikan tidak akan terlihat pada perayaan Galungan kali ini.
Saat dikonfirmasi, Klian Adat Penglipuran I Wayan Budiarta membenarkan hal tersebut, Minggu (14/6/2026).
Baca Juga: Niat Hati Menolong Anjing, Roger Terjebak Di Tebing Pantai Pandawa
Tak hanya tidak memasang penjor, warga Penglipuran juga tidak melaksanakan persembahyangan Galungan pada Rabu (17/6/2026).
“Iya benar, Galungan kali ini warga Penglipuran tidak memasang penjor,” ujar Budiarta.
Keputusan tersebut berkaitan dengan status cuntaka (sebel) yang berlaku di desa setelah seorang warga meninggal dunia pada Minggu pagi.
Baca Juga: Menteri Nusron Ingin Target PTSL Tahun 2027 Ditambah untuk Perluas Kepastian Hukum bagi Masyarakat
Sesuai aturan adat yang berlaku di sana, apabila ada warga meninggal dunia, Desa Adat Penglipuran berada dalam kondisi cuntaka selama tiga hari.
Akibatnya, masyarakat tidak dapat melaksanakan persembahyangan Galungan maupun memasang penjor yang merupakan sarana sakral dalam rangkaian Hari Raya Galungan.
Upacara penguburan warga yang meninggal dunia dijadwalkan berlangsung pada Senin (15/6/2026).
“Masyarakat tidak bisa memasang penjor karena penjor merupakan sarana sakral dalam rangkaian Galungan, bukan sekadar dekorasi,” tegasnya.
Meski berada dalam masa cuntaka, Budiarta memastikan aktivitas pariwisata di Desa Wisata Penglipuran tetap berjalan normal.
Wisatawan tetap dapat berkunjung seperti biasa, hanya saja tidak dapat menyaksikan pemandangan khas jejeran penjor yang selama ini menjadi ikon perayaan Galungan di desa tersebut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pengelola. Kunjungan wisata tetap berjalan saat Galungan,” katanya.
Dikonfirmasi terpisah, Manajer Desa Wisata Penglipuran I Wayan Sumiarsa mengatakan keberadaan penjor selama ini memang menjadi salah satu daya tarik wisata, terutama bagi wisatawan yang gemar berburu foto.
Namun demikian, ia menilai ketiadaan penjor tidak akan berdampak signifikan terhadap jumlah kunjungan wisatawan.
“Mungkin yang paling terasa pada kunjungan pagi hari karena momen penjor biasanya dicari oleh pencinta fotografi,” jelasnya.
Sumiarsa justru memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan selama rangkaian Hari Raya Galungan tetap meningkat.
Bahkan tren kenaikan kunjungan sudah mulai terlihat dalam tiga hari terakhir seiring libur sekolah.
“Hasil pantauan kami, sudah ada tren peningkatan kunjungan karena bertepatan dengan libur sekolah,” pungkasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan