alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Disebut Bikin Dokumen Perceraian Palsu, Oknum Pengacara Dipolisikan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – ESK, 33 terpaksa dilaporkan ke Mapolres Buleleng oleh Pengadilan Negeri (PN) Singaraja. Pria yang keseharainnya bekerja sebagai pengacara ini dipolisikan lantaran terlibat tindak pidana pemalsuan dokumen dengan modus membuat perceraian palsu.

 

Dalam laporan bernomor LP-B/21/II/2021/BALI/RES BLL, tersebut kini masih dalam penyelidikan Satreskrim Polres Buleleng. Kasus ini bermula saat ESK menangani suatu perkara perceraian sebagai kuasa hukum pengugat (seorang pria). Dugaan pemalsuan putusan ini terungkap, ketika ada permohonan salinan putusan dari tergugat (istri klien ESK) ke PN Singaraja, pada 29 Januari 2021 lalu.

 

Dalam permohonan permintaan salinan putusan itu, lantaran suaminya (penggugat) sudah memiliki salinan putusan perceraian dan kutipan akta perceraian. Namun, ketika di cek oleh staf PN Singaraja, ternyata perkara itu masih dalam tahap persidangan dengan agenda pembacaan gugatan dan belum memasuki tahap putusan.

 

Ada sesuatu yang janggal, Panitera PN Singaraja kemudian melakukan croscek ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Buleleng. Pihaknya untuk memastikan terbitnya akta perceraian tersebut. Ternyata benar akta perceraian sudah terbit dengan memakai dasar putusan perceraian yang diduga palsu.

 

Ketua PN Singaraja, I Nyoman Dipa Rudiana saat dikonfrimasi pada Senin (1/3) menyebut atas terbitnya akta perceraian palsu tersebut, pihak PN Singaraja melalui Panitera melaporkan kejadian ini ke Polres Buleleng.

 

“Melalui Panitera membuat laporan polisi ke Polres Buleleng atas dugaan membuat putusan perceraian atas nama terlapor ESK,” ujarnya kepada awak media.

 

Terlapor sebut Dipa diduga membuat putusan perceraian palsu atas nama kliennya. Padahal, perkara perceraian yang ditangani ESK selaku oknum pengacara ini, masih dalam proses persidangan yang putusannya rencananya akan dibacakan pada 3 Maret 2021 ini.

 

Sebelum persoalan ini dilaporkan ke Polres Buleleng, menurut Dipa, pihak PN Singaraja sejatinya sudah memanggil ESK secara lisan untuk memberikan klarifikasi. Hanya saja, ESK selaku terlapor terus mangkir.

 

“Pihak Catatan Sipil bilang, yang mohon akta perceraian itu ESK, apa kapasitasnya kami tidak tahu. Dari Pengadilan menunggu itikad baik, tapi tidak datang, ya sudah kami lapor polisi,” ujar Dipa.

 

Ia menyebut laporan tersebut sebagai bentuk penyelamatan terhadap lembaga Pengadilan. Sebab, jika terus dibiarkan menjadi preseden buruk bagi lembaga pengadilan. “Ini stempel dipalsukan. Ini kan sampai punya stempel pengadilan, ini kan artinya perbuatan tidak sekali saja, karena kebetulan baru ini saja ketahuan,” ungkap Dipa.

 

Dipa pun meminta agar pihak kepolisian bisa secara profesional dalam menangani kasus yang telah dilaporkan ini. “Siapa yang berbuat, nanti polisi yang menyelidiki. Kami serahkan sepenuhnya kepada pihak polisi, untuk proses hukumnya,” ucap Dipa.

 

Terpisah, Kasubag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya, tak menampik ada laporan dari panitera PN Singaraja, atas dugaan pemalsuan putusan perceraian yang diduga dilakukan oleh seorang oknum pengacara. Ia menyebut jika kasusnya kini masih dalam tahap penyelidikan.

 

“Sudah kami terima (laporannya, red) seminggu lalu. Masih pemeriksaan saksi-saksi dan masih penyelidikan. Sementara baru ada sekitar 3 orang saksi yang sudah diperiksa, itu dari pelapor, perempuan (istri klien EKS) yang dirugikan dan ada satu orang lagi,” jelas Iptu Sumarjaya.

 

Terkait pemeriksaan terhadap terlapor, ia menyebut masih belum dilakukan. “Terlapor belum diperiksa. Nanti itu setelah menunggu gelar perkara. Kalau ada informasi lanjutan, kami sampaikan,” pungkas Iptu Sumarjaya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – ESK, 33 terpaksa dilaporkan ke Mapolres Buleleng oleh Pengadilan Negeri (PN) Singaraja. Pria yang keseharainnya bekerja sebagai pengacara ini dipolisikan lantaran terlibat tindak pidana pemalsuan dokumen dengan modus membuat perceraian palsu.

 

Dalam laporan bernomor LP-B/21/II/2021/BALI/RES BLL, tersebut kini masih dalam penyelidikan Satreskrim Polres Buleleng. Kasus ini bermula saat ESK menangani suatu perkara perceraian sebagai kuasa hukum pengugat (seorang pria). Dugaan pemalsuan putusan ini terungkap, ketika ada permohonan salinan putusan dari tergugat (istri klien ESK) ke PN Singaraja, pada 29 Januari 2021 lalu.

 

Dalam permohonan permintaan salinan putusan itu, lantaran suaminya (penggugat) sudah memiliki salinan putusan perceraian dan kutipan akta perceraian. Namun, ketika di cek oleh staf PN Singaraja, ternyata perkara itu masih dalam tahap persidangan dengan agenda pembacaan gugatan dan belum memasuki tahap putusan.

 

Ada sesuatu yang janggal, Panitera PN Singaraja kemudian melakukan croscek ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Buleleng. Pihaknya untuk memastikan terbitnya akta perceraian tersebut. Ternyata benar akta perceraian sudah terbit dengan memakai dasar putusan perceraian yang diduga palsu.

 

Ketua PN Singaraja, I Nyoman Dipa Rudiana saat dikonfrimasi pada Senin (1/3) menyebut atas terbitnya akta perceraian palsu tersebut, pihak PN Singaraja melalui Panitera melaporkan kejadian ini ke Polres Buleleng.

 

“Melalui Panitera membuat laporan polisi ke Polres Buleleng atas dugaan membuat putusan perceraian atas nama terlapor ESK,” ujarnya kepada awak media.

 

Terlapor sebut Dipa diduga membuat putusan perceraian palsu atas nama kliennya. Padahal, perkara perceraian yang ditangani ESK selaku oknum pengacara ini, masih dalam proses persidangan yang putusannya rencananya akan dibacakan pada 3 Maret 2021 ini.

 

Sebelum persoalan ini dilaporkan ke Polres Buleleng, menurut Dipa, pihak PN Singaraja sejatinya sudah memanggil ESK secara lisan untuk memberikan klarifikasi. Hanya saja, ESK selaku terlapor terus mangkir.

 

“Pihak Catatan Sipil bilang, yang mohon akta perceraian itu ESK, apa kapasitasnya kami tidak tahu. Dari Pengadilan menunggu itikad baik, tapi tidak datang, ya sudah kami lapor polisi,” ujar Dipa.

 

Ia menyebut laporan tersebut sebagai bentuk penyelamatan terhadap lembaga Pengadilan. Sebab, jika terus dibiarkan menjadi preseden buruk bagi lembaga pengadilan. “Ini stempel dipalsukan. Ini kan sampai punya stempel pengadilan, ini kan artinya perbuatan tidak sekali saja, karena kebetulan baru ini saja ketahuan,” ungkap Dipa.

 

Dipa pun meminta agar pihak kepolisian bisa secara profesional dalam menangani kasus yang telah dilaporkan ini. “Siapa yang berbuat, nanti polisi yang menyelidiki. Kami serahkan sepenuhnya kepada pihak polisi, untuk proses hukumnya,” ucap Dipa.

 

Terpisah, Kasubag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya, tak menampik ada laporan dari panitera PN Singaraja, atas dugaan pemalsuan putusan perceraian yang diduga dilakukan oleh seorang oknum pengacara. Ia menyebut jika kasusnya kini masih dalam tahap penyelidikan.

 

“Sudah kami terima (laporannya, red) seminggu lalu. Masih pemeriksaan saksi-saksi dan masih penyelidikan. Sementara baru ada sekitar 3 orang saksi yang sudah diperiksa, itu dari pelapor, perempuan (istri klien EKS) yang dirugikan dan ada satu orang lagi,” jelas Iptu Sumarjaya.

 

Terkait pemeriksaan terhadap terlapor, ia menyebut masih belum dilakukan. “Terlapor belum diperiksa. Nanti itu setelah menunggu gelar perkara. Kalau ada informasi lanjutan, kami sampaikan,” pungkas Iptu Sumarjaya.


Most Read

Artikel Terbaru

/