alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

WN Ukraina di Bali Gelar Aksi, Minta Stop Perang dengan Rusia

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ratusan Warga Negara Ukraina menggelar aksi di depan Konsulat Kehormatan Ukraina, Jalan Gurita, Pegok, Sesetan, Denpasar Selatan, Selasa (1/3). Mereka menginginkan perang antara negaranya dengan Rusia berakhir. Kegiatan itu awalnya hendak digelar di depan Monumen Bajra Sandi, Renon, Denpasar.

Pantauan Koran Bali Express Jawa Pos Grup, WN Ukraina memadati lokasi aksi dengan membawa poster dan bendera negara. Poster tersebut bertuliskan “Stop War (Hentikan Perang)” hingga “Putin (Presiden Rusia) Stop Invasion (Hentikan Serangan). Menariknya ada juga warga Rusia yang ikut dengan membawa poster “Stop War, Russian Want Peace (Rusia ingin damai)”.

Menurut wanita bernama Chevganiuk Olga selaku Juru Bicara aksi tersebut, pihaknya ingin semua orang dari seluruh dunia melihat kebenaran dari kedua sisi, tidak hanya Rusia tapi juga Ukraina. Bahwa perang ini harus dihentikan dan orang Ukraina harus terlindungi dari agresi atau serangan Rusia. “Kami ingin semua turun ke jalan menyampaikan kebenaran, bahwa semua orang menentang, kami ingin hentikan ini, karena orang Ukraina dan Rusia banyak yang meninggal,” tandasnya dalam bahasa Inggris.

Dia menyebut semua warga Ukraina di Bali sangat sedih dan jiwa mereka menangis. Mereka ingin kedamaian di tanahnya dan akan melakukan apapun untuk itu. Bahkan beberapa dari mereka ingin pulang untuk melakukan sesuatu, tapi mereka sadar masih punya anak yang perlu dijaga di Bali. Sehingga mereka berusaha sebisanya untuk membantu, seperti menggalang dana, mengumpulkan makanan atau pakaian, serta berbicara dengan negara lainnya untuk berdonasi ke negaranya.

Bantuan untuk binatang juga diharapkan, karena bukan hanya orang-orang tapi binatang juga menderita. Lebih lanjut, wanita asli ibu kota Kiev ini mengaku sudah sebulan di Bali bersama putrinya untuk liburan dan seharusnya sudah kembali. Tapi karena situasi yang mencekam, maka dia memutuskan untuk tinggal demi keselamatan. Terlebih dari Pulau Dewata ini dia bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi negaranya seperti aksi ini.

Akan tetapi dia setiap saat dibuat khawatir karena eluarganya masih berada di Ukraina. Keluarganya tetap tinggal di rumah dan berharap bisa melindungi kota. “Ketika berangkat kemari kami tidak tahu akan terjadi seperti ini atau tidak ada tanda apapun, tentunya ada rasa takut bagi saya maupun keluarga, tapi kami orang Ukraina dapat mengatasi itu, walaupun mereka (Rusia) negara yang lebih besar, semangat kami tak akan pudar, apalagi seluruh dunia di pihak kami,” tandasnya.

Setiap saat Olga mengecek keadaan keluarganya melalui handphone. tentunya ada rasa stress tapi hanya itu yang bisa dilakukan. Mungkin kedepannya bisa saja dia akan pulang melewati salah satu negara di eropa yang berbatasan langsung seperti Polandia. Sementara itu, Warga Rusia bernam Dima Kazantcev yang turut hadir dalam aksi ini menuturkan dia dan banyak warga Rusia lainnya sangat kecewa dengan perang yang terjadi.

“Ketika semua itu (perang) dimulai, saya tidak bisa tidur, tidak hanya tetangga kami (Ukraina), dari hati kami juga tidak menginginkan perang ini, untuk Putin mungkin dia punya penilaian sendiri, tapi saya membencinya (perang),” tegasnya. Dia mengaku mendapat kabar bahwa orang Rusia yang menyuarakan ke jalanan agar berdamai, ditahan oleh polisi selama 10 hingga 15 hari.

Pria yang tampak hampir menangis ini menyadari tidak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Namun yang pasti, dirinya mendukung semua orang untuk damai, bukan hanya orang Ukraina dan Rusia, tapi orang diseluruh dunia. “Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi yang ku tahu Putin menggila, dia pikir negara bekas Soviet adalah negaranya juga, tapi tidak begitu, mereka adalah negara berdaulat, semua orang ingin hidup damai,” tutupnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ratusan Warga Negara Ukraina menggelar aksi di depan Konsulat Kehormatan Ukraina, Jalan Gurita, Pegok, Sesetan, Denpasar Selatan, Selasa (1/3). Mereka menginginkan perang antara negaranya dengan Rusia berakhir. Kegiatan itu awalnya hendak digelar di depan Monumen Bajra Sandi, Renon, Denpasar.

Pantauan Koran Bali Express Jawa Pos Grup, WN Ukraina memadati lokasi aksi dengan membawa poster dan bendera negara. Poster tersebut bertuliskan “Stop War (Hentikan Perang)” hingga “Putin (Presiden Rusia) Stop Invasion (Hentikan Serangan). Menariknya ada juga warga Rusia yang ikut dengan membawa poster “Stop War, Russian Want Peace (Rusia ingin damai)”.

Menurut wanita bernama Chevganiuk Olga selaku Juru Bicara aksi tersebut, pihaknya ingin semua orang dari seluruh dunia melihat kebenaran dari kedua sisi, tidak hanya Rusia tapi juga Ukraina. Bahwa perang ini harus dihentikan dan orang Ukraina harus terlindungi dari agresi atau serangan Rusia. “Kami ingin semua turun ke jalan menyampaikan kebenaran, bahwa semua orang menentang, kami ingin hentikan ini, karena orang Ukraina dan Rusia banyak yang meninggal,” tandasnya dalam bahasa Inggris.

Dia menyebut semua warga Ukraina di Bali sangat sedih dan jiwa mereka menangis. Mereka ingin kedamaian di tanahnya dan akan melakukan apapun untuk itu. Bahkan beberapa dari mereka ingin pulang untuk melakukan sesuatu, tapi mereka sadar masih punya anak yang perlu dijaga di Bali. Sehingga mereka berusaha sebisanya untuk membantu, seperti menggalang dana, mengumpulkan makanan atau pakaian, serta berbicara dengan negara lainnya untuk berdonasi ke negaranya.

Bantuan untuk binatang juga diharapkan, karena bukan hanya orang-orang tapi binatang juga menderita. Lebih lanjut, wanita asli ibu kota Kiev ini mengaku sudah sebulan di Bali bersama putrinya untuk liburan dan seharusnya sudah kembali. Tapi karena situasi yang mencekam, maka dia memutuskan untuk tinggal demi keselamatan. Terlebih dari Pulau Dewata ini dia bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi negaranya seperti aksi ini.

Akan tetapi dia setiap saat dibuat khawatir karena eluarganya masih berada di Ukraina. Keluarganya tetap tinggal di rumah dan berharap bisa melindungi kota. “Ketika berangkat kemari kami tidak tahu akan terjadi seperti ini atau tidak ada tanda apapun, tentunya ada rasa takut bagi saya maupun keluarga, tapi kami orang Ukraina dapat mengatasi itu, walaupun mereka (Rusia) negara yang lebih besar, semangat kami tak akan pudar, apalagi seluruh dunia di pihak kami,” tandasnya.

Setiap saat Olga mengecek keadaan keluarganya melalui handphone. tentunya ada rasa stress tapi hanya itu yang bisa dilakukan. Mungkin kedepannya bisa saja dia akan pulang melewati salah satu negara di eropa yang berbatasan langsung seperti Polandia. Sementara itu, Warga Rusia bernam Dima Kazantcev yang turut hadir dalam aksi ini menuturkan dia dan banyak warga Rusia lainnya sangat kecewa dengan perang yang terjadi.

“Ketika semua itu (perang) dimulai, saya tidak bisa tidur, tidak hanya tetangga kami (Ukraina), dari hati kami juga tidak menginginkan perang ini, untuk Putin mungkin dia punya penilaian sendiri, tapi saya membencinya (perang),” tegasnya. Dia mengaku mendapat kabar bahwa orang Rusia yang menyuarakan ke jalanan agar berdamai, ditahan oleh polisi selama 10 hingga 15 hari.

Pria yang tampak hampir menangis ini menyadari tidak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Namun yang pasti, dirinya mendukung semua orang untuk damai, bukan hanya orang Ukraina dan Rusia, tapi orang diseluruh dunia. “Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi yang ku tahu Putin menggila, dia pikir negara bekas Soviet adalah negaranya juga, tapi tidak begitu, mereka adalah negara berdaulat, semua orang ingin hidup damai,” tutupnya.






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/