alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

GTPP Covid-19 Bali Ogah Tunggu Laporan, Gelar Tracing Secara Massif

DENPASAR, BALI EXPRESS – Jumlah kasus Covid-19 melalui transmisi lokal di Bali kian melonjak. Bahkan, penularan lokal ini justru didominasi klaster pasar tradisional. Karena itu, pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Covid-19 di pasar-pasar tradisional oleh Pemprov Bali tidak lagi sekadar anjuran, melainkan sudah mengarah pada instruksi.

Di samping itu, upaya pengendalian penyebaran Covid-19 melalui transmisi lokal juga dilakukan dengan menggencarkan proses pelacakan (tracing) dan penelusuran (tracking). Bahkan, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP) Covid-19 tidak ambil pusing bila proses ini berimbas pada penambahan data kasus positif.

Instruksi mengenai pembentukan Satgas Pencegahan Covid-19 di pasar-pasar tradisional ini menjadi kebijakan yang diambil dalam rapat koordinasi (rakor) antara GTPP Covid-19 Provinsi Bali dengan beberapa pihak terkait, seperti TNI dan Polri, Selasa (30/6).

Dalam paparannya, Dewa Indra menegaskan, Satgas Pencegahan Covid-19 di pasar-pasar tradisional termasuk dengan poskonya penting dilakukan, untuk memastikan penerapan protokol kesehatan di seluruh pasar. Satgas inilah yang nantinya diharapkan melakukan pengawasan dari hari ke hari.

Menurutnya, tren kemunculan kasus positif dalam beberapa minggu terakhir didominasi klaster pasar tradisional. Dia mencontoh kasus positif di Pasar Kidul Bangli, Pasar Bondalem di Buleleng, Pasar Kumbasari di Denpasar, dan yang baru-baru ini Pasar Galiran di Klungkung.

“Di Pasar Kidul, kasus positif Covid-19 pertama kali ditemukan pada seorang tukang suwun yang kemudian menular ke sejumlah pedagang dan keluarganya. Berikutnya ada Pasar Bondalem, bahkan Pemkab Buleleng sempat melakukan karantina wilayah untuk mengunci penyebaran Covid-19,” urainya.

Belakangan muncul klaster penyebaran baru di dua pasar besar, yaitu Pasar Kumbasari Denpasar dan Pasar Galiran Kabupaten Klungkung. Bahkan, klaster Pasar Kumbasari menjadi penyumbang terbesar penambahan angka positif Covid-19 di Kota Denpasar.

Dia menegaskan, sejatinya langkah pencegahan yang dilakukan GTPP, baik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, telah diupayakan. Namun, dengan jumlah pasar tradisional yang cukup banyak, upaya pencegahan tidak bisa dilakukan dengan menjangkau semuanya.

“Tidak mungkin bisa menjangkau seluruh pasar tradisional yang jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh Bali. Saya berharap, langkah yang ditempuh provinsi dapat dijadikan model acuan di tingkat kabupaten/kota. Sehingga pengawasan dapat dilakukan dari hari ke hari,” tukasnya.

Sebelum rakor, Dewa Indra juga sempat menegaskan soal arah kebijakan terkait pengendalian Covid-19 sebagaimana yang diputuskan Gubernur Bali sekaligus ketua GTPP provinsi, yakni menggencarkan proses tracking dan tracing.

“Harus melakukan tracing secara massif. Mengapa? Supaya mengetahui berapa sebenarnya warga yang terpapar. Kalau tidak begitu, kami hanya menunggu laporan. Ada yang demam, batuk, datang ke faskes dan diperiksa. Kalau hasilnya positif pasti bertambah angkanya. Kalau seperti itu semu. Dia tidak menggambarkan keadaan sebenarnya,” jelas Dewa Indra yang juga ketua harian GTPP Provinsi Bali.

Menurutnya, tujuan utama proses tracing ini adalah mencari orang tanpa gejala (OTG). Sebab, belakangan ini, kasus positif justru didominasi kategori ini. “OTG ini kan kelihatan sehat. Kalau sudah merasa sehat tentu tidak datang ke rumah sakit. Mereka ini asymptom, tapi positif. Ini yang berpotensi menularkan ke orang lain,” paparnya.

Itu sebabnya, sambung dia, tracing berlanjut dengan pelaksanaan rapid test massal di beberapa wilayah. Semisal di Denpasar, Badung, Klungkung, maupun Bangli. “Ini sesuai arahan Pak Gubernur juga. Supaya cepat mendapatkan mayoritas yang terpapar tanpa gejala ini lalu dirawat. Apalagi sebentar ini Bali tengah bersiap membuka aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Kalau tidak dibersihkan dulu, dalam tanda kutip, rencana ini bisa tertunda,” pungkasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Jumlah kasus Covid-19 melalui transmisi lokal di Bali kian melonjak. Bahkan, penularan lokal ini justru didominasi klaster pasar tradisional. Karena itu, pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Covid-19 di pasar-pasar tradisional oleh Pemprov Bali tidak lagi sekadar anjuran, melainkan sudah mengarah pada instruksi.

Di samping itu, upaya pengendalian penyebaran Covid-19 melalui transmisi lokal juga dilakukan dengan menggencarkan proses pelacakan (tracing) dan penelusuran (tracking). Bahkan, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP) Covid-19 tidak ambil pusing bila proses ini berimbas pada penambahan data kasus positif.

Instruksi mengenai pembentukan Satgas Pencegahan Covid-19 di pasar-pasar tradisional ini menjadi kebijakan yang diambil dalam rapat koordinasi (rakor) antara GTPP Covid-19 Provinsi Bali dengan beberapa pihak terkait, seperti TNI dan Polri, Selasa (30/6).

Dalam paparannya, Dewa Indra menegaskan, Satgas Pencegahan Covid-19 di pasar-pasar tradisional termasuk dengan poskonya penting dilakukan, untuk memastikan penerapan protokol kesehatan di seluruh pasar. Satgas inilah yang nantinya diharapkan melakukan pengawasan dari hari ke hari.

Menurutnya, tren kemunculan kasus positif dalam beberapa minggu terakhir didominasi klaster pasar tradisional. Dia mencontoh kasus positif di Pasar Kidul Bangli, Pasar Bondalem di Buleleng, Pasar Kumbasari di Denpasar, dan yang baru-baru ini Pasar Galiran di Klungkung.

“Di Pasar Kidul, kasus positif Covid-19 pertama kali ditemukan pada seorang tukang suwun yang kemudian menular ke sejumlah pedagang dan keluarganya. Berikutnya ada Pasar Bondalem, bahkan Pemkab Buleleng sempat melakukan karantina wilayah untuk mengunci penyebaran Covid-19,” urainya.

Belakangan muncul klaster penyebaran baru di dua pasar besar, yaitu Pasar Kumbasari Denpasar dan Pasar Galiran Kabupaten Klungkung. Bahkan, klaster Pasar Kumbasari menjadi penyumbang terbesar penambahan angka positif Covid-19 di Kota Denpasar.

Dia menegaskan, sejatinya langkah pencegahan yang dilakukan GTPP, baik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, telah diupayakan. Namun, dengan jumlah pasar tradisional yang cukup banyak, upaya pencegahan tidak bisa dilakukan dengan menjangkau semuanya.

“Tidak mungkin bisa menjangkau seluruh pasar tradisional yang jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh Bali. Saya berharap, langkah yang ditempuh provinsi dapat dijadikan model acuan di tingkat kabupaten/kota. Sehingga pengawasan dapat dilakukan dari hari ke hari,” tukasnya.

Sebelum rakor, Dewa Indra juga sempat menegaskan soal arah kebijakan terkait pengendalian Covid-19 sebagaimana yang diputuskan Gubernur Bali sekaligus ketua GTPP provinsi, yakni menggencarkan proses tracking dan tracing.

“Harus melakukan tracing secara massif. Mengapa? Supaya mengetahui berapa sebenarnya warga yang terpapar. Kalau tidak begitu, kami hanya menunggu laporan. Ada yang demam, batuk, datang ke faskes dan diperiksa. Kalau hasilnya positif pasti bertambah angkanya. Kalau seperti itu semu. Dia tidak menggambarkan keadaan sebenarnya,” jelas Dewa Indra yang juga ketua harian GTPP Provinsi Bali.

Menurutnya, tujuan utama proses tracing ini adalah mencari orang tanpa gejala (OTG). Sebab, belakangan ini, kasus positif justru didominasi kategori ini. “OTG ini kan kelihatan sehat. Kalau sudah merasa sehat tentu tidak datang ke rumah sakit. Mereka ini asymptom, tapi positif. Ini yang berpotensi menularkan ke orang lain,” paparnya.

Itu sebabnya, sambung dia, tracing berlanjut dengan pelaksanaan rapid test massal di beberapa wilayah. Semisal di Denpasar, Badung, Klungkung, maupun Bangli. “Ini sesuai arahan Pak Gubernur juga. Supaya cepat mendapatkan mayoritas yang terpapar tanpa gejala ini lalu dirawat. Apalagi sebentar ini Bali tengah bersiap membuka aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Kalau tidak dibersihkan dulu, dalam tanda kutip, rencana ini bisa tertunda,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/