alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Korban Perkosaan Rindu Sekolah, Polresta Tangkap Pelaku Jero Mangku

DENPASAR, BALI EXPRESS – Menjadi korban pemerkosaan rupanya merenggut masa depan NMS, 15, untuk bersekolah seperti anak-anak normal lainnya. Melihat adik-adiknya bersekolah maupun teman lainnya yang bersekolah, membuat NMS ingin kembali merasakan bangku sekolah. Tapi kondisinya sebagai penyintas, dan kondisi ekonomi keluarganya yang jauh dari harapan, membuat NMS hingga saat ini hanya memendam impian tersebut.

Keinginan korban itu diungkapkan kepada unit P2TP2A Denpasar yang hingga saat ini mendampingi korban. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pihak unit P2TP2A, Luh Anggraeni, membagikan harapan korban yang sesungguhnya ingin tumbuh normal seperti anak lainnya. “Korban ingin sekali sekolah, tetapi ibunya bingung karena masalah biaya. Melihat adik-adiknya sekolah, korban bersemangat untuk melanjutkan pendidikan,” ungkapnya, Rabu (1/7).

Ibu korban sebagai tulang punggung bagi keluarganya, saat ini bingung dengan keadaan ekonomi keluarga, akibat suaminya memilih meninggalkan mereka ke Jawa dengan istri sirinya. Pekerjaannya yang hanya sebagai pembantu rumah tangga (PRT), membuat dia hanya bisa memenuhi makan sehari-hari dengan pas-pasan di tengah kehidupan kota yang mahal.

“Ini yang membuat ibunya kebingungan. Anaknya ingin sekolah, dia hanya bekerja sebagai PRT. Kami harus memastikan apakah korban bisa mengakses surat keterangan miskin, agar korban bisa mengakses program pemerintah seperti Program Kartu Pintar, Program Kartu Cemerlang Denpasar. Untuk mendapatkan program itu, kan harus terdata di kelurahan atau desa,” beber Luh Anggraeni.

Yang menguatkan ibu korban untuk meneruskan laporan ini ke pihak kepolisian, selain dukungan penuh pihak P2TP2A Denpasar, juga didukung oleh majikan ibu korban agar kasusnya terungkap dan korban mendapat keadilan.

Korban NMS, 15, merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang seayah dan seibu. “Dua kakaknya yang tertua sudah menikah, 3 kakaknya yang lain di rumah karena ditinggal ayahnya ke Jawa. Dia bersama 2 adiknya, saat ini bersama ibunya,” jelas Luh Aggraeni kembali.

Korban yang merupakan kelahiran tahun 2005 ini tidak menyangka menjadi korban pemerkosaan yang merenggut masa depannya dan itu dilakukan oleh orang dekat yang seharusnya melindunginya.

“Korban dengan sepupunya tidak pernah pacaran. Menurut korban, semua terjadi begitu saja. Mereka tinggal di satu lingkungan rumah. Dia dan sepupunya (suami, Red) hanya terpaut satu tahun. Korban kelahiran 2005 dan sepupunya kelahiran 2004. Makanya suaminya pun di bawah umur, usia 16 tahun. Sekolah saja hanya tamat SMP kejar paket B,” ungkapnya lagi.

Korban diperkosa pertama kali oleh sepupunya pada pertengahan tahun 2019 dan hamil dalam kondisi di bawah umur. Pada akhir Maret korban melahirkan anaknya. Kurang lebih sebulan kemudian, pada Rabu (29/4) korban kembali mengalami pemerkosaan hingga mengalami pendarahan. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit.

Sesudah menikah dengan terpaksa dan kehilangan masa depan, mertua yang juga pamannya, tega memperkosanya ketika dia dalam masa nifas karena baru selesai melahirkan. Korban yang saat kejadian sedang tidur sendiri di kamar, diperkosa pelaku yang dikabarkan sebagai jero mangku.

Pihak Polresta Denpasar sudah memastikan menangkap pelaku I Made Yasa yang adalah jero mangku setelah dilakukan pendalaman terhadap kasus tersebut. “Pelaku sudah kami tangkap. Nanti kami akan rilis kalau penyidikan sudah fixs,” terang Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Dewa Putu Gede Anom Danujaya.

Pihak kepolisian belum membeberkan penyebab pelaku yang sudah kepala lima tersebut tega menyetubuhi menantu yang juga keponakannya tersebut.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Menjadi korban pemerkosaan rupanya merenggut masa depan NMS, 15, untuk bersekolah seperti anak-anak normal lainnya. Melihat adik-adiknya bersekolah maupun teman lainnya yang bersekolah, membuat NMS ingin kembali merasakan bangku sekolah. Tapi kondisinya sebagai penyintas, dan kondisi ekonomi keluarganya yang jauh dari harapan, membuat NMS hingga saat ini hanya memendam impian tersebut.

Keinginan korban itu diungkapkan kepada unit P2TP2A Denpasar yang hingga saat ini mendampingi korban. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pihak unit P2TP2A, Luh Anggraeni, membagikan harapan korban yang sesungguhnya ingin tumbuh normal seperti anak lainnya. “Korban ingin sekali sekolah, tetapi ibunya bingung karena masalah biaya. Melihat adik-adiknya sekolah, korban bersemangat untuk melanjutkan pendidikan,” ungkapnya, Rabu (1/7).

Ibu korban sebagai tulang punggung bagi keluarganya, saat ini bingung dengan keadaan ekonomi keluarga, akibat suaminya memilih meninggalkan mereka ke Jawa dengan istri sirinya. Pekerjaannya yang hanya sebagai pembantu rumah tangga (PRT), membuat dia hanya bisa memenuhi makan sehari-hari dengan pas-pasan di tengah kehidupan kota yang mahal.

“Ini yang membuat ibunya kebingungan. Anaknya ingin sekolah, dia hanya bekerja sebagai PRT. Kami harus memastikan apakah korban bisa mengakses surat keterangan miskin, agar korban bisa mengakses program pemerintah seperti Program Kartu Pintar, Program Kartu Cemerlang Denpasar. Untuk mendapatkan program itu, kan harus terdata di kelurahan atau desa,” beber Luh Anggraeni.

Yang menguatkan ibu korban untuk meneruskan laporan ini ke pihak kepolisian, selain dukungan penuh pihak P2TP2A Denpasar, juga didukung oleh majikan ibu korban agar kasusnya terungkap dan korban mendapat keadilan.

Korban NMS, 15, merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang seayah dan seibu. “Dua kakaknya yang tertua sudah menikah, 3 kakaknya yang lain di rumah karena ditinggal ayahnya ke Jawa. Dia bersama 2 adiknya, saat ini bersama ibunya,” jelas Luh Aggraeni kembali.

Korban yang merupakan kelahiran tahun 2005 ini tidak menyangka menjadi korban pemerkosaan yang merenggut masa depannya dan itu dilakukan oleh orang dekat yang seharusnya melindunginya.

“Korban dengan sepupunya tidak pernah pacaran. Menurut korban, semua terjadi begitu saja. Mereka tinggal di satu lingkungan rumah. Dia dan sepupunya (suami, Red) hanya terpaut satu tahun. Korban kelahiran 2005 dan sepupunya kelahiran 2004. Makanya suaminya pun di bawah umur, usia 16 tahun. Sekolah saja hanya tamat SMP kejar paket B,” ungkapnya lagi.

Korban diperkosa pertama kali oleh sepupunya pada pertengahan tahun 2019 dan hamil dalam kondisi di bawah umur. Pada akhir Maret korban melahirkan anaknya. Kurang lebih sebulan kemudian, pada Rabu (29/4) korban kembali mengalami pemerkosaan hingga mengalami pendarahan. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit.

Sesudah menikah dengan terpaksa dan kehilangan masa depan, mertua yang juga pamannya, tega memperkosanya ketika dia dalam masa nifas karena baru selesai melahirkan. Korban yang saat kejadian sedang tidur sendiri di kamar, diperkosa pelaku yang dikabarkan sebagai jero mangku.

Pihak Polresta Denpasar sudah memastikan menangkap pelaku I Made Yasa yang adalah jero mangku setelah dilakukan pendalaman terhadap kasus tersebut. “Pelaku sudah kami tangkap. Nanti kami akan rilis kalau penyidikan sudah fixs,” terang Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Dewa Putu Gede Anom Danujaya.

Pihak kepolisian belum membeberkan penyebab pelaku yang sudah kepala lima tersebut tega menyetubuhi menantu yang juga keponakannya tersebut.


Most Read

Artikel Terbaru

/