alexametrics
30.4 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Perajin Resin Berjualan Nasi Jinggo, Pakai Kostum Ala Paspampres

DENPASAR, BALI EXPRESS – Jalan Malboro Barat, Denpasar, tepatnya sebelum SPBU, sepintas tampak biasa saja. Namun, jika berhenti di pinggir jalan, akan dijumpai seorang pedagang nasi jinggo yang mangkal menggunakan sepeda motor dari pukul 10.00  hingga Pukul 17.00. Berjualan nasi jinggo memang sudah biasa. Yang membuatnya tidak biasa dan tampak unik adalah gaya penjualnya yang trendi dan keren. Penjual satu ini berani tampil beda. Berjualan dengan menggunakan jas hitam, celana kain hitam, kemeja putih lengkap dengan dasi kantor, sepatu pantopel serta tak lupa kacamata hitam dan sebuah name tag yang tergantung di saku kiri jasnya. Tak lupa juga ia menggunakan masker saat berjualan karena situasi pandemi. Penampilannya yang nyentrik mirip Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tak ayal menarik perhatian pembeli maupun orang yang lewat.

Sufyan Miftahol Arifin Nur, adalah nama sang pedagang nasi jingo tersebut. Saat ditemui Rabu (1/7), dia mengatakan, sebelum berjualan nasi jinggo seperti saat ini, ia adalah seorang perajin aksesoris. Ia pun mengaku punya pelanggan dari Australia dan hasil produksi aksesoris (resin) sering diekspor ke Australia. Namun karena dilanda pandemic dan akses keluar masih sulit, ia pun beralih profesi. “Sebelumnya saya kerja resin. Ada pelanggan dari Australia. Saya serig ekspor ke sana. Pendapatan dari sana juga. Nah, karena pandemic, semuanya tutup, jadi saya nganggur. Selama dua minggu gak kerja sambil mikir, akhirnya pilihan jatuh ke nasi jinggo saja,” tuturnya.

Dipilihnya nasi jinggo sebagai alternatif pekerjaannya karena berjualan makanan masih dilirik masyarakat daripada menjual barang lainnya. “Kenapa saya pilih nasi jingo, karena masih bisa bertahanlah. Masih dicari sama orang. Nasi jinggo harganya juga murah. Jadi ya begini sajalah,” ungkap pria asal Madura, Kepulauan Sebudi, Kabupaten Sumeneb.

Disinggung soal kostum ala pejabat tinggi, Sufyan mengaku, agar tampil beda. “Gak ada faktor lain sih. Biar beda aja. Biar bersih. Kalau jualan makanan gak bersih, kan gak enak juga toh. Pakai baju pejabat, siapa tahu pembelinya juga pejabat nanti,” katanya.

Salah seorang pelanggan bernama Toni mengatakan, nasi jinggo yang dijual Sufyan cukup murah dan enak serta porsi yang lumayan banyak. “Kalau menurut saya sih enak. Saya sering beli di sini. Murah, enak dan banyak. Untuk ukuran nasi jinggo, yang dijual si mas ini lumayan banyak ketimbang nasi jinggo biasanya,” kata dia.

Sufyan yang tinggal di kawasan Monang-maning, Denpasar Barat ini mengawali perjalanannya dari Gunung Lebah Monang-maning, Bhuana Raya, Bhuana Kubu, Gunung Agung, Jalan Cargo dan terakhir di Jalan Malboro.

Keunikannya tidak hanya terlihat dari pakaiannya, tapi juga dari keranjang dagangannya. Terlihat kata-kata mutiara berbahasa Jawa yang bunyinya “Polah Sak Jeroning Pasrah”. Artinya, pasrah tapi tidak menyerah dengan keadaan. Harus selalu bergerak untuk bertahan.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Jalan Malboro Barat, Denpasar, tepatnya sebelum SPBU, sepintas tampak biasa saja. Namun, jika berhenti di pinggir jalan, akan dijumpai seorang pedagang nasi jinggo yang mangkal menggunakan sepeda motor dari pukul 10.00  hingga Pukul 17.00. Berjualan nasi jinggo memang sudah biasa. Yang membuatnya tidak biasa dan tampak unik adalah gaya penjualnya yang trendi dan keren. Penjual satu ini berani tampil beda. Berjualan dengan menggunakan jas hitam, celana kain hitam, kemeja putih lengkap dengan dasi kantor, sepatu pantopel serta tak lupa kacamata hitam dan sebuah name tag yang tergantung di saku kiri jasnya. Tak lupa juga ia menggunakan masker saat berjualan karena situasi pandemi. Penampilannya yang nyentrik mirip Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tak ayal menarik perhatian pembeli maupun orang yang lewat.

Sufyan Miftahol Arifin Nur, adalah nama sang pedagang nasi jingo tersebut. Saat ditemui Rabu (1/7), dia mengatakan, sebelum berjualan nasi jinggo seperti saat ini, ia adalah seorang perajin aksesoris. Ia pun mengaku punya pelanggan dari Australia dan hasil produksi aksesoris (resin) sering diekspor ke Australia. Namun karena dilanda pandemic dan akses keluar masih sulit, ia pun beralih profesi. “Sebelumnya saya kerja resin. Ada pelanggan dari Australia. Saya serig ekspor ke sana. Pendapatan dari sana juga. Nah, karena pandemic, semuanya tutup, jadi saya nganggur. Selama dua minggu gak kerja sambil mikir, akhirnya pilihan jatuh ke nasi jinggo saja,” tuturnya.

Dipilihnya nasi jinggo sebagai alternatif pekerjaannya karena berjualan makanan masih dilirik masyarakat daripada menjual barang lainnya. “Kenapa saya pilih nasi jingo, karena masih bisa bertahanlah. Masih dicari sama orang. Nasi jinggo harganya juga murah. Jadi ya begini sajalah,” ungkap pria asal Madura, Kepulauan Sebudi, Kabupaten Sumeneb.

Disinggung soal kostum ala pejabat tinggi, Sufyan mengaku, agar tampil beda. “Gak ada faktor lain sih. Biar beda aja. Biar bersih. Kalau jualan makanan gak bersih, kan gak enak juga toh. Pakai baju pejabat, siapa tahu pembelinya juga pejabat nanti,” katanya.

Salah seorang pelanggan bernama Toni mengatakan, nasi jinggo yang dijual Sufyan cukup murah dan enak serta porsi yang lumayan banyak. “Kalau menurut saya sih enak. Saya sering beli di sini. Murah, enak dan banyak. Untuk ukuran nasi jinggo, yang dijual si mas ini lumayan banyak ketimbang nasi jinggo biasanya,” kata dia.

Sufyan yang tinggal di kawasan Monang-maning, Denpasar Barat ini mengawali perjalanannya dari Gunung Lebah Monang-maning, Bhuana Raya, Bhuana Kubu, Gunung Agung, Jalan Cargo dan terakhir di Jalan Malboro.

Keunikannya tidak hanya terlihat dari pakaiannya, tapi juga dari keranjang dagangannya. Terlihat kata-kata mutiara berbahasa Jawa yang bunyinya “Polah Sak Jeroning Pasrah”. Artinya, pasrah tapi tidak menyerah dengan keadaan. Harus selalu bergerak untuk bertahan.


Most Read

Artikel Terbaru

/