alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Tabanan Hanya Sisakan Dua Kasus Gizi Buruk   

TABANAN, BALI EXPRESS – Kasus gizi buruk di Kabupaten Tabanan pada tahun 2019 mencapai 10 orang. Dan, dari jumlah tersebut hingga tahun 2020 hanya menyisakan dua kasus.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Tabanan, I Made Supardiyadnya menjelaskan, pada tahun 2019 tercatat ada 10 orang balita gizi buruk, yang juga merupakan kasus lama yang ditemukan pada tahun 2018. Sehingga di tahun 2019, lanjutnya, ada dua tambahan kasus baru dan totalnya menjadi 10 kasus.

Ditambahkannya, dua kasus baru di tahun 2019 ini berasal dari Kecamatan Kerambitan dan Selemadeg Timur. Namun kini di tahun 2020, jumlah kasus sudah menurun dan hanya tinggal dua kasus. Menurutnya, kasus gizi buruk itu terjadi bukan karena kekurangan asupan gizi, namun karena adanya penyakit penyerta. “Penyakit penyerta itu seperti jantung bocor, bronkhitis hingga gangguan tumbuh kembang,” paparnya, Rabu (1/7) kemarin.

Terhadap dua kasus yang masih tersisa ini, lanjutnya, masih dilakukan intervensi dengan pemberian PMT pemulihan, pemantauan, konseling, dan menentukan diagnosa. “Pemantauan kita lakukan secara berkesinambungan sampai nanti gizinya membaik,” tandasnya

Adapun prevalensi gizi buruk tahun 2018 mencapai 0,04 persen, 2019 sebesar  0,04 persen, sedangkan tahun 2020 sampai dengan triwulan pertama hanya 0,01 persen.


TABANAN, BALI EXPRESS – Kasus gizi buruk di Kabupaten Tabanan pada tahun 2019 mencapai 10 orang. Dan, dari jumlah tersebut hingga tahun 2020 hanya menyisakan dua kasus.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Tabanan, I Made Supardiyadnya menjelaskan, pada tahun 2019 tercatat ada 10 orang balita gizi buruk, yang juga merupakan kasus lama yang ditemukan pada tahun 2018. Sehingga di tahun 2019, lanjutnya, ada dua tambahan kasus baru dan totalnya menjadi 10 kasus.

Ditambahkannya, dua kasus baru di tahun 2019 ini berasal dari Kecamatan Kerambitan dan Selemadeg Timur. Namun kini di tahun 2020, jumlah kasus sudah menurun dan hanya tinggal dua kasus. Menurutnya, kasus gizi buruk itu terjadi bukan karena kekurangan asupan gizi, namun karena adanya penyakit penyerta. “Penyakit penyerta itu seperti jantung bocor, bronkhitis hingga gangguan tumbuh kembang,” paparnya, Rabu (1/7) kemarin.

Terhadap dua kasus yang masih tersisa ini, lanjutnya, masih dilakukan intervensi dengan pemberian PMT pemulihan, pemantauan, konseling, dan menentukan diagnosa. “Pemantauan kita lakukan secara berkesinambungan sampai nanti gizinya membaik,” tandasnya

Adapun prevalensi gizi buruk tahun 2018 mencapai 0,04 persen, 2019 sebesar  0,04 persen, sedangkan tahun 2020 sampai dengan triwulan pertama hanya 0,01 persen.


Most Read

Artikel Terbaru

/