alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Saat Kapal Terbalik, Budi dan Putrinya Sempat Terpisah

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ketut Budi Astrawan, 39 bersama putrinya Kadek Ayu Novi Antari, 13 berhasil selamat. Ketut Budi yang merupakan seorang sopir truk Jawa-Bali itu tiba di rumahnya di Lingkungan Pendem, Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar-Buleleng. Ketut Budi dan putrinya tiba sekitar pukul 20.00 wita pada Rabu (30/6). Ia diantar sampai di rumah oleh Farhan salah satu anggota dari Persatuan Logistik Bali (PLB) Singa Sakti. Kedatangan Ketut Budi dan Ayu disambut warga dusun Insakan. Bantuan sembako dan kebutuhan lainnya pun diberikan kepada keluarga Ketut Budi oleh komunita RPS Pedawa.

Dengan dipandu kadus Insakan, Putu Ritana, Kamis (1/7) koran ini menemui Ketut Budi di rumahnya. Setibanya di lokasi, rumah Ketut Budi masih ramai dikunjungi warga serta keluarga. Mereka pun turut bertanya perihal tragedy KMP Yunicee yang ditumanginya bersama putrid keduanya Kadek Ayu Novi Antari.

Ketut Budi pun menceritakan, pada Selasa (30/6) malam, ia bersama putrinya akan pulang ke Bali dari Mojokerto. Pada truk yang ia bawa bermuatan pakan (kosentrat). Rencananya muatan itu akan dibawa ke desa Banyuatis ketika sampai di Bali. “Terakhir berangkat ke Jawa itu hari Sabtu (26/6). Saya berangkat dari Klungkung. Trus pas Senin menuju Mojokerto. Selasa sudah balik lagi ke Bali,” tuturnya.

Ia pun mengaku tiba di pelabuhan Ketapang pada Selasa (30/6) pada pukul 17.00 wita. Saat di dalam kapal, Budi tidak merasa ada yang aneh. Namun, sebelumnya ia tidak berniat menyeberang dengan KMP Yunicee. Karena diajak oleh teman satu komunitas, maka ia pun bersedia. Sebenarnya saat itu Budi sudah akan menumpangi kapal lain. “Saya sama teman saya di kapal fery ini. Sebelumnya saya tidak pernah naik kapal fery. Jarang. Ini karena teman saya yang ajak biar ada diajak ngobrol di kapal ya saya mau jadinya. Normal-normal aja gitu pas dalam kapal,”ungkapnya.

Di dalam kapal ia bersama teman dan anaknya bersantai di kursi penumpang. Namun ia merasa aneh ketika truk dari komunitas dimasukkan ke dalam kapal sampai 5 truk lainnya ditolak oleh petugas loket karena kapal penuh. “Dari sana saya curiga ada apa ini kok truk semuanya dinaikin. Trus ada sekitar 5 truk dimundurin. Gak diterima karena penuh,” ujarnya.

Namun, ia tak begitu menghiraukan kondisi itu. Ketut Budi kembali bercengkerama dengan anak dan temannya. Selang beberapa lama, ia pun tertidur di kursi penumpang. Tak lama ketika ia terlelap, Ketut Budi sayup-sayup mendengar kru kapal yang membangunkan sopir truk untuk memindahkan kendaraan. “Pas itu saya langsung bangun. Sekilas saya denger semua sopir yang ada di kapal itu dibangunin, disuruh memindahkan truk. Pas saya bangun kapal sudah dalam keadaan miring. Langsung saya tarik anak saya buat ambil life jacket,” kata dia.

Karena panik, Ketut Budi tidak mendapatkan life jacket. Ia harus berebut dengan penumpang lainnya. Beruntung Ayu, anak Budi mendapat satu life jacket meski sempat berebut. Dengan cepat kata Budi kapal telah terbalik. Ia dan anaknya terjun ke laut. “Karena posisinya panic saya gak dapet pelampung. Sudah rebutan disana. Cuma dapat satu saya pakaikan ke anak saya. Pikir saya pokoknya anak selamat. Setelah itu sudahlah, kami nyebur ke laut. Saya gak pake pelampung,” tambahnya.

Ketika terjun ke laut, Budi dan Ayu sempat terpisah beberapa menit. Saat muncul ke permukaan laut Budi tak mendapati Ayu disisinya. Kemudian ia berusaha mencari putrinya itu. Tak berapa lama, Ayu pun muncul ke permukaan laut. Mendapati Ayu yang timbul dari dalam air, dengan cepat Budi meraih Ayu. Ia mengikat Ayu bersama dirinya dengan tali yang ada pada life jacket Ayu. “Sempat pisah dia sama saya. Saya bingung mau cari kemana anak saya. Tapi gak ama dia muncul. Langsung saya tarik dan saya ikat sama saya. Kalau tidak karena dia saya mungkin sudah mati. Anak saya yang menguatkan saya,” lanjutnya.

Tidak sampai disana, ketika Ayu dan Budi berusaha mencari pertolongan, tiba-tiba ada seseorang yang menarik Budi dari belakang. Orang tersebut tidak menggunakan life jacket. Ketika dilihat Budi mengaku orang itu sudah hampir meninggal. Tidak saja orang tersebut, namun di sekelilingnya juga terdapat dua orang yang mengapung tanpa life jacket dan tidak bergerak.“Saat itu leher saya ditarik sama bapak itu, saya kemasukan air. Saya berpikir mati dah saya sekarang. Mau bagaimana lagi keadaan panic. Kondisi malam. Akhirnya saya juga dapat pelampung yang lepas-lepas itu. Saya ambil saja. Yang penting saya bisa selamat. Yang dibelakang saya tetap pegang saya, pas saya lepasin sudah tidak bergerak lagi, mungkin sudah mati. Tangannya sudah ngembang saya lihat. Mungkin kemasukan air. disekitar juga ada yang sudah mati. Jadi kami berenang bersama mayat-mayat itu,” tuturnya lagi.

Setelah itu Budi dan Ayu berjuang melawan arus untuk mencari pertolongan. Ia berusaha mendekati kapal-kapal yang berada di sekitar. Namun upayanya selama 30 menit sia-sia. Teriakan Ayu untuk meminta tolong pun tak terdengar. Tapi mereka tidak menyerah. Sampai akhirnya Budi mendapat pertolongan dari tim evakuasi. Dengan seutas tali, Budi ditarik naik ke kapal evakuasi. Begitu juga dengan Ayu. “Sempat minta tolong, anak saya teriak-teriak. Air dingin. Karena malam, terus kapalnya jauh jadi gak kedengeran. Terus berenang. Arunya besar sekali. Akhirnya ada kapal dan saya dapat tali. Ditarik saya naik sama anak saya. Sampai di atas saya sudah lemas. Saya kira tangan saya patah. Syukurnya tidak, hanya bengkak sedikit. sekarang sudah normal walau masih sedikit sakit,” terangnya.

Saat itu Budi dan Ayu dievakuasi ke Ketapang. Karena kapal tidak mampu melawan arus. Kapal evakuasi juga tidak memungkinkan untuk berlabuh di Gilimanuk karena sudah terlalu jauh. Tempat terdekat untuk evakuasi adalah Ketapang. “Karena kapalnya udah jauh dan arusnya besar saya dibawa ke Ketapang. Saya pikir akan dibawa ke Gilimanuk. Disana saya dirujuk ke Rumah Sakit Blambangan,” lanjutnya.

Disisi lain, Kadek Ayu mengaku takut untuk kembali menaiki kapal laut. Ia pun pertama kali turut sang Ayah ke luar kota karena merasa bosan di rumah. “Takut sekali pas nyemplung. Arusnya besar. Terpaksa ikut hanyut sama arus sambil cari pertolongan. Saya kira tidak aka nada yang nolong. Tumben ikut bapak, karena bosan di rumah aja,” kata gadis hitam manis ini.

Ayu yang baru kelas VIII SMP ini pun mengaku tak lagi-lagi ikut menyeberang. Meski ia bisa berenang, ia masih trauma dengan kejadian tersebut. “Kalau berenang bisa sedikit-sedikit. karena ada pelampung jadi bisa bertahan. Kalau nanti diajak lagi kayaknya enggak ikut deh. Takut,” tuturnya.

Setelah kejadian yang menimpanya, Ketut Budi berencana akan membuat upacara Ngulapin (upacara yadnya menurut umat hindu) di rumahnya. Uapacara ini bermaksud untuk menenangkan diri dari Budi dan Ayu setelah mengalami peristiwa tenggelamnya kapal yang mereka tumpangi. “Nanti istilahnya di rumah mau Ngulapin. Karena saya kalu teringat itu rasanya langsung down. Masih kaget-kaget. Biar tenanglah saya dan anak saya. Sementara saya istirahat dulu, sampai tenang. Kalau ada pekerjaan lagi, saya akan berangkat lagi,” ujar duda dua anak ini.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ketut Budi Astrawan, 39 bersama putrinya Kadek Ayu Novi Antari, 13 berhasil selamat. Ketut Budi yang merupakan seorang sopir truk Jawa-Bali itu tiba di rumahnya di Lingkungan Pendem, Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar-Buleleng. Ketut Budi dan putrinya tiba sekitar pukul 20.00 wita pada Rabu (30/6). Ia diantar sampai di rumah oleh Farhan salah satu anggota dari Persatuan Logistik Bali (PLB) Singa Sakti. Kedatangan Ketut Budi dan Ayu disambut warga dusun Insakan. Bantuan sembako dan kebutuhan lainnya pun diberikan kepada keluarga Ketut Budi oleh komunita RPS Pedawa.

Dengan dipandu kadus Insakan, Putu Ritana, Kamis (1/7) koran ini menemui Ketut Budi di rumahnya. Setibanya di lokasi, rumah Ketut Budi masih ramai dikunjungi warga serta keluarga. Mereka pun turut bertanya perihal tragedy KMP Yunicee yang ditumanginya bersama putrid keduanya Kadek Ayu Novi Antari.

Ketut Budi pun menceritakan, pada Selasa (30/6) malam, ia bersama putrinya akan pulang ke Bali dari Mojokerto. Pada truk yang ia bawa bermuatan pakan (kosentrat). Rencananya muatan itu akan dibawa ke desa Banyuatis ketika sampai di Bali. “Terakhir berangkat ke Jawa itu hari Sabtu (26/6). Saya berangkat dari Klungkung. Trus pas Senin menuju Mojokerto. Selasa sudah balik lagi ke Bali,” tuturnya.

Ia pun mengaku tiba di pelabuhan Ketapang pada Selasa (30/6) pada pukul 17.00 wita. Saat di dalam kapal, Budi tidak merasa ada yang aneh. Namun, sebelumnya ia tidak berniat menyeberang dengan KMP Yunicee. Karena diajak oleh teman satu komunitas, maka ia pun bersedia. Sebenarnya saat itu Budi sudah akan menumpangi kapal lain. “Saya sama teman saya di kapal fery ini. Sebelumnya saya tidak pernah naik kapal fery. Jarang. Ini karena teman saya yang ajak biar ada diajak ngobrol di kapal ya saya mau jadinya. Normal-normal aja gitu pas dalam kapal,”ungkapnya.

Di dalam kapal ia bersama teman dan anaknya bersantai di kursi penumpang. Namun ia merasa aneh ketika truk dari komunitas dimasukkan ke dalam kapal sampai 5 truk lainnya ditolak oleh petugas loket karena kapal penuh. “Dari sana saya curiga ada apa ini kok truk semuanya dinaikin. Trus ada sekitar 5 truk dimundurin. Gak diterima karena penuh,” ujarnya.

Namun, ia tak begitu menghiraukan kondisi itu. Ketut Budi kembali bercengkerama dengan anak dan temannya. Selang beberapa lama, ia pun tertidur di kursi penumpang. Tak lama ketika ia terlelap, Ketut Budi sayup-sayup mendengar kru kapal yang membangunkan sopir truk untuk memindahkan kendaraan. “Pas itu saya langsung bangun. Sekilas saya denger semua sopir yang ada di kapal itu dibangunin, disuruh memindahkan truk. Pas saya bangun kapal sudah dalam keadaan miring. Langsung saya tarik anak saya buat ambil life jacket,” kata dia.

Karena panik, Ketut Budi tidak mendapatkan life jacket. Ia harus berebut dengan penumpang lainnya. Beruntung Ayu, anak Budi mendapat satu life jacket meski sempat berebut. Dengan cepat kata Budi kapal telah terbalik. Ia dan anaknya terjun ke laut. “Karena posisinya panic saya gak dapet pelampung. Sudah rebutan disana. Cuma dapat satu saya pakaikan ke anak saya. Pikir saya pokoknya anak selamat. Setelah itu sudahlah, kami nyebur ke laut. Saya gak pake pelampung,” tambahnya.

Ketika terjun ke laut, Budi dan Ayu sempat terpisah beberapa menit. Saat muncul ke permukaan laut Budi tak mendapati Ayu disisinya. Kemudian ia berusaha mencari putrinya itu. Tak berapa lama, Ayu pun muncul ke permukaan laut. Mendapati Ayu yang timbul dari dalam air, dengan cepat Budi meraih Ayu. Ia mengikat Ayu bersama dirinya dengan tali yang ada pada life jacket Ayu. “Sempat pisah dia sama saya. Saya bingung mau cari kemana anak saya. Tapi gak ama dia muncul. Langsung saya tarik dan saya ikat sama saya. Kalau tidak karena dia saya mungkin sudah mati. Anak saya yang menguatkan saya,” lanjutnya.

Tidak sampai disana, ketika Ayu dan Budi berusaha mencari pertolongan, tiba-tiba ada seseorang yang menarik Budi dari belakang. Orang tersebut tidak menggunakan life jacket. Ketika dilihat Budi mengaku orang itu sudah hampir meninggal. Tidak saja orang tersebut, namun di sekelilingnya juga terdapat dua orang yang mengapung tanpa life jacket dan tidak bergerak.“Saat itu leher saya ditarik sama bapak itu, saya kemasukan air. Saya berpikir mati dah saya sekarang. Mau bagaimana lagi keadaan panic. Kondisi malam. Akhirnya saya juga dapat pelampung yang lepas-lepas itu. Saya ambil saja. Yang penting saya bisa selamat. Yang dibelakang saya tetap pegang saya, pas saya lepasin sudah tidak bergerak lagi, mungkin sudah mati. Tangannya sudah ngembang saya lihat. Mungkin kemasukan air. disekitar juga ada yang sudah mati. Jadi kami berenang bersama mayat-mayat itu,” tuturnya lagi.

Setelah itu Budi dan Ayu berjuang melawan arus untuk mencari pertolongan. Ia berusaha mendekati kapal-kapal yang berada di sekitar. Namun upayanya selama 30 menit sia-sia. Teriakan Ayu untuk meminta tolong pun tak terdengar. Tapi mereka tidak menyerah. Sampai akhirnya Budi mendapat pertolongan dari tim evakuasi. Dengan seutas tali, Budi ditarik naik ke kapal evakuasi. Begitu juga dengan Ayu. “Sempat minta tolong, anak saya teriak-teriak. Air dingin. Karena malam, terus kapalnya jauh jadi gak kedengeran. Terus berenang. Arunya besar sekali. Akhirnya ada kapal dan saya dapat tali. Ditarik saya naik sama anak saya. Sampai di atas saya sudah lemas. Saya kira tangan saya patah. Syukurnya tidak, hanya bengkak sedikit. sekarang sudah normal walau masih sedikit sakit,” terangnya.

Saat itu Budi dan Ayu dievakuasi ke Ketapang. Karena kapal tidak mampu melawan arus. Kapal evakuasi juga tidak memungkinkan untuk berlabuh di Gilimanuk karena sudah terlalu jauh. Tempat terdekat untuk evakuasi adalah Ketapang. “Karena kapalnya udah jauh dan arusnya besar saya dibawa ke Ketapang. Saya pikir akan dibawa ke Gilimanuk. Disana saya dirujuk ke Rumah Sakit Blambangan,” lanjutnya.

Disisi lain, Kadek Ayu mengaku takut untuk kembali menaiki kapal laut. Ia pun pertama kali turut sang Ayah ke luar kota karena merasa bosan di rumah. “Takut sekali pas nyemplung. Arusnya besar. Terpaksa ikut hanyut sama arus sambil cari pertolongan. Saya kira tidak aka nada yang nolong. Tumben ikut bapak, karena bosan di rumah aja,” kata gadis hitam manis ini.

Ayu yang baru kelas VIII SMP ini pun mengaku tak lagi-lagi ikut menyeberang. Meski ia bisa berenang, ia masih trauma dengan kejadian tersebut. “Kalau berenang bisa sedikit-sedikit. karena ada pelampung jadi bisa bertahan. Kalau nanti diajak lagi kayaknya enggak ikut deh. Takut,” tuturnya.

Setelah kejadian yang menimpanya, Ketut Budi berencana akan membuat upacara Ngulapin (upacara yadnya menurut umat hindu) di rumahnya. Uapacara ini bermaksud untuk menenangkan diri dari Budi dan Ayu setelah mengalami peristiwa tenggelamnya kapal yang mereka tumpangi. “Nanti istilahnya di rumah mau Ngulapin. Karena saya kalu teringat itu rasanya langsung down. Masih kaget-kaget. Biar tenanglah saya dan anak saya. Sementara saya istirahat dulu, sampai tenang. Kalau ada pekerjaan lagi, saya akan berangkat lagi,” ujar duda dua anak ini.


Most Read

Artikel Terbaru

/