alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Sesak Napas, Meninggal Usai Diberi Antibiotik

AMLAPURA, BALI EXPRESS – I Made Kerta W, tidak kuasa membendung kecewa terkait hal yang dialami istrinya, Ni Komang Sulistiawati, Rabu (30/6) lalu. Sang istri meninggal setelah mendapat penanganan di UGD RSUD Karangasem. Pasien meregang nyawa lalu kritis usai mendapat suntikan antibiotik cair, sebelum meninggal sekitar pukul 18.00.

Hasil pemeriksaan medis, pasien probable Covid-19. Warga asal Banjar Abiansoan, Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem itu tak terima dengan pelayanan rumah sakit. Sebab, sebelum petugas mengambil tindakan, Made Kerta sudah memperingati atau menolak supaya pasien tidak diberikan antibiotik cair. Keluhan itu juga sempat disampaikan pasien.

Made menuturkan, istrinya meronta lalu meminta petugas untuk menghentikan pemberian antibiotik. Pasien saat itu merasakan sakit perut kemudian kondisinya memburuk. “Saat itu saya peluk. Istri saya tidak cocok dengan antibiotik jenis seperti itu. Dulu sempat. Akhirnya timbul sakit di perut, jantung berdebar. Saya sudah minta agar tidak dipakai antibiotik itu tapi tetap saja,” tutur Made Kerta, Kamis (1/7) sore. 

Sebetulnya, Made Kerta akan mengajak sang istri cuci darah ke RSUD Klungkung. Belum terlaksana, Sulistiawati mengalami masalah pernapasan hingga akhirnya berobat ke RSUD Karangasem. Made menyebut saat itu kondisi istrinya masih bisa diajak ngobrol ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. Meskipun kondisi tubuh mulai tidak nyaman lantaran sedikit masalah bernapas. “Saya antar istri naik motor,” ucap Made.

Direktur RSUD Karangasem I Wayan Suardana membenarkan, sesuai hasil laporan, pasien yang masuk suspect Covid-19. Mengenai pemberian antibiotik, Suardana memastikan penerapannya sudah sesuai dengan prosedur. “Karena probable Covid-19, maka penanganannya pasti sesuai SOP Covid-19,” ucapnya.

Di pihak lain, dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Karangasem Putu Hartawan Mataram menjelaskan, pasien masuk rumah sakit dalam kondisi sudah sesak. Tim medis, sebutnya, telah melakukan penanganan awal sesuai prosedur dengan melakukan rontgen. Hasilnya, pada paru-paru sebelah kiri pasien mengalami infeksi hingga hanya menyisakan 1/3 ruang paru akibat penumpukan cairan. Begitu pula paru-paru bagian kanan yang tampak ada bercak putih menandakan infeksi.

Atas dasar itu, tim medis mengambil tindakan pemberian antibiotik. Bahkan, tim medis menyebut sudah memastikan antisipasi alergi obat dengan melakukan test skin dan tidak ada masalah.

Hartawan menyebut, apabila pemberian antibiotik terlambat maka akan memperparah infeksi yang dialami pasien. Bahkan akibatnya dapat memperburuk vitalitas dan metabolisme dalam tubuh. “Kami tidak ujug-ujug lakukan penyuntikan antibiotik tanpa memperhatikan SOP,” tegasnya

 


AMLAPURA, BALI EXPRESS – I Made Kerta W, tidak kuasa membendung kecewa terkait hal yang dialami istrinya, Ni Komang Sulistiawati, Rabu (30/6) lalu. Sang istri meninggal setelah mendapat penanganan di UGD RSUD Karangasem. Pasien meregang nyawa lalu kritis usai mendapat suntikan antibiotik cair, sebelum meninggal sekitar pukul 18.00.

Hasil pemeriksaan medis, pasien probable Covid-19. Warga asal Banjar Abiansoan, Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem itu tak terima dengan pelayanan rumah sakit. Sebab, sebelum petugas mengambil tindakan, Made Kerta sudah memperingati atau menolak supaya pasien tidak diberikan antibiotik cair. Keluhan itu juga sempat disampaikan pasien.

Made menuturkan, istrinya meronta lalu meminta petugas untuk menghentikan pemberian antibiotik. Pasien saat itu merasakan sakit perut kemudian kondisinya memburuk. “Saat itu saya peluk. Istri saya tidak cocok dengan antibiotik jenis seperti itu. Dulu sempat. Akhirnya timbul sakit di perut, jantung berdebar. Saya sudah minta agar tidak dipakai antibiotik itu tapi tetap saja,” tutur Made Kerta, Kamis (1/7) sore. 

Sebetulnya, Made Kerta akan mengajak sang istri cuci darah ke RSUD Klungkung. Belum terlaksana, Sulistiawati mengalami masalah pernapasan hingga akhirnya berobat ke RSUD Karangasem. Made menyebut saat itu kondisi istrinya masih bisa diajak ngobrol ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. Meskipun kondisi tubuh mulai tidak nyaman lantaran sedikit masalah bernapas. “Saya antar istri naik motor,” ucap Made.

Direktur RSUD Karangasem I Wayan Suardana membenarkan, sesuai hasil laporan, pasien yang masuk suspect Covid-19. Mengenai pemberian antibiotik, Suardana memastikan penerapannya sudah sesuai dengan prosedur. “Karena probable Covid-19, maka penanganannya pasti sesuai SOP Covid-19,” ucapnya.

Di pihak lain, dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Karangasem Putu Hartawan Mataram menjelaskan, pasien masuk rumah sakit dalam kondisi sudah sesak. Tim medis, sebutnya, telah melakukan penanganan awal sesuai prosedur dengan melakukan rontgen. Hasilnya, pada paru-paru sebelah kiri pasien mengalami infeksi hingga hanya menyisakan 1/3 ruang paru akibat penumpukan cairan. Begitu pula paru-paru bagian kanan yang tampak ada bercak putih menandakan infeksi.

Atas dasar itu, tim medis mengambil tindakan pemberian antibiotik. Bahkan, tim medis menyebut sudah memastikan antisipasi alergi obat dengan melakukan test skin dan tidak ada masalah.

Hartawan menyebut, apabila pemberian antibiotik terlambat maka akan memperparah infeksi yang dialami pasien. Bahkan akibatnya dapat memperburuk vitalitas dan metabolisme dalam tubuh. “Kami tidak ujug-ujug lakukan penyuntikan antibiotik tanpa memperhatikan SOP,” tegasnya

 


Most Read

Artikel Terbaru

/