alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Serap Energi Alam, Komunitas Manubada Jenuh Pentas Berbusana Mewah

DENPASAR, BALI EXPRESS- Komunitas Manubada, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar menampilkan tari dan tabuh iringan selonding pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Rabu (29/6).

Komunitas ini menggunakan properti dari alam seperti keraras (daun pisang kering), andong, busung kering (janur), don ambu (daun enau), serta kendi-kendi dari tanah liat.  Begitu juga berutuk, tapel yang belum dicat, bahkan make-up penarinya pun hanya bermodalkan pamor (kapur sirih).

Menurut koordinator pementasan, Komang Adi Pranata, penggunaan properti tersebut lantaran mengalami kejenuhan ketika memakai properti yang mewah dan ngejreng.

Selain itu, mereka menilai feel yang hidup ketika memakai benda-benda dari alam. “Kami di Komunitas Manubada ini sudah 8 tahun dan hampir setiap hari berproses dan berkarya secara bersama-sama. Ada monoton yang kita rasakan ketika berbusana glamor, meriah. Lalu kita terpikir kenapa kita tidak coba menggunakan bahan-bahan yang disediakan alam saja? Mungkin bagi orang lain, properti kami terkesan sederhana dan tidak bermodal. Akan tetapi, justru saya mendapatkan energinya di situ. Karena semua properti ini hidup, berasal dari alam,” bebernya.

Baca Juga :  Tingkatkan Kecintaan Terhadap Bahasa Bali, Gianyar Gelar Lomba Nyastra

Pada sajian pembuka, komunitas ini menampilkan sebuah karya instrumental berjudul ‘Hening’ yang mengisahkan danau adalah satu tempat menenangkan. Ketenangan air danau juga dapat membantu orang menghilangkan penat.

Karya ini dibuat dengan metode observasi ke Danau Batur dan Bedugul. Karya instrumental ini berupaya mengemas gaya klasik selonding dengan tetap menggunakan teknik gegebug dan ciri khas permainan selonding yang sudah ada dan dikembangkan ke dalam bentuk karya yang baru dengan penambahan instrumen suling dan gegendingan dari gerong yang mendukung kesan dan suasana yang diinginkan.

Setelah sajian ‘Hening’, Komunitas Manubada juga menampilkan dua garapan tari berjudul ‘Rejang Danu Kerthi’ dan ‘Tari Baris Bala Samar’. “Kedua tari ini, termasuk garapan selonding, melalui proses merespon dan mengeksplorasi alam, ” pungkas Adi Pranata.

Baca Juga :  Tahap Pertama, 54 PMI di Denpasar Dipulangkan Dari Tempat Karantina

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS- Komunitas Manubada, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar menampilkan tari dan tabuh iringan selonding pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Rabu (29/6).

Komunitas ini menggunakan properti dari alam seperti keraras (daun pisang kering), andong, busung kering (janur), don ambu (daun enau), serta kendi-kendi dari tanah liat.  Begitu juga berutuk, tapel yang belum dicat, bahkan make-up penarinya pun hanya bermodalkan pamor (kapur sirih).

Menurut koordinator pementasan, Komang Adi Pranata, penggunaan properti tersebut lantaran mengalami kejenuhan ketika memakai properti yang mewah dan ngejreng.

Selain itu, mereka menilai feel yang hidup ketika memakai benda-benda dari alam. “Kami di Komunitas Manubada ini sudah 8 tahun dan hampir setiap hari berproses dan berkarya secara bersama-sama. Ada monoton yang kita rasakan ketika berbusana glamor, meriah. Lalu kita terpikir kenapa kita tidak coba menggunakan bahan-bahan yang disediakan alam saja? Mungkin bagi orang lain, properti kami terkesan sederhana dan tidak bermodal. Akan tetapi, justru saya mendapatkan energinya di situ. Karena semua properti ini hidup, berasal dari alam,” bebernya.

Baca Juga :  Karo SDM Ingatkan Bahaya Hoax di Hadapan Para Takmir Masjid Polda

Pada sajian pembuka, komunitas ini menampilkan sebuah karya instrumental berjudul ‘Hening’ yang mengisahkan danau adalah satu tempat menenangkan. Ketenangan air danau juga dapat membantu orang menghilangkan penat.

Karya ini dibuat dengan metode observasi ke Danau Batur dan Bedugul. Karya instrumental ini berupaya mengemas gaya klasik selonding dengan tetap menggunakan teknik gegebug dan ciri khas permainan selonding yang sudah ada dan dikembangkan ke dalam bentuk karya yang baru dengan penambahan instrumen suling dan gegendingan dari gerong yang mendukung kesan dan suasana yang diinginkan.

Setelah sajian ‘Hening’, Komunitas Manubada juga menampilkan dua garapan tari berjudul ‘Rejang Danu Kerthi’ dan ‘Tari Baris Bala Samar’. “Kedua tari ini, termasuk garapan selonding, melalui proses merespon dan mengeksplorasi alam, ” pungkas Adi Pranata.

Baca Juga :  Jadwal Pesta Kesenian Bali (PKB) Selasa, 2 Juli 2019

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/