alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Soal Gelar Mahaprabu, Begini Penjelasan Putu Pandhia

DENPASAR, BALI EXPRESS – Viralnya tulisan Iwan Pranajaya yang mempertanyakan asal-usul gelar Mahaprabu ditanggapi langsung oleh Putu Pandhia. Melalui unggahan Facebook Zelobi Omnivora, Kamis (30/6), Putu Pandhia atau yang lebih akrab disapa Mahaprabu mengurai  asal-usul gelar Mahaprabu tersebut.

Putu Pandhia mengungkapkan, awalnya gelar Mahaprabu adalah sebuah guyonan semata. Ini berawal ketika pada tahun 2009 ia sering berdebat dengan oknum-oknum penganut sampradaya. Oknum-oknum sampradaya ini menyebut dirinya sebagai prabhu lalu mengejek tradisi umat Hindu. Meresa jengkel, maka Putu Pandhia meminta teman-teman dan orang terdekatnya memanggilnya Mahaprabu.

“Dulu tyang dipanggil guru karena mengajarkan meditasi. Namun mulai hari itu jangan panggil saya guru, panggil saya mahaprabu. Saya paksa kawan-kawan untuk memanggil mahaprabu karena untuk mengejek balik orang-orang yang baru tahu Weda sedikit tetapi sudah mau dipanggil prabhu,” jelasnya.

Namun pada tahun 2011, saat Putu Pandhia melakukan meditasi, ia justru diabhiseka Widhi secara niskala. Dalam meditasinya ia merasakan banyak para Rsi hadir dan menuntut tanggung jawabnya karena berani memakai gelar mahaprabhu. Dalam meditasi itu ia diupacarai atau disebut dengan Abhiseka Widhi dengan diberikan gelar Sri Mahaprabhu Prahlada Pandhia.

Baca Juga :  Begini Pandangan Jro Baudha Suena soal Mahasabha PHDI Pusat

“Saat diabhiseka tyang mengemban amanat pengetahuan tradisi dan menemukan sumber-sumber tradisi kita,” jelasnya.

Setelah itu ia memohon diberi kelancaran karena ingin mendirikan sebuah pasraman. Dalam doanya ia tidak mau meminta bantuan pemerintah, melainkan hanya menerima bantuan dari orang-orang yang benar-benar tulus ingin membantu dalam mendirikan pasraman yang dimaksud.

“Tahun 2012 kami bersama anak-anak SMA yang baru lulus sekolah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli bahan bangunan. Saya pikir kalau begini caranya, 10 tahun ke depan pasraman baru akan selesai. Tetapi rupanya tahun 2015 pasraman ini sudah berdiri,” ungkap Mahaprabhu, pendiri Pasraman Kayu Manis yang berlokasi di Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan ini.

Dengan dilancarkannya pembangunan pasraman ini, Putu Pandhia meyakini bahwa gelar Mahaprabu yang disandangnya merupakan gelar dari alam. Sejak saat itu ia tak berani melanggar SOP dari gelarnya. Itu sebabnya rambutnya dikuncung (diikat ke atas) karena merupakan salah satu petunjuk dari alam.

Baca Juga :  Bendesa Adat Karangasem Disebut Susupkan Sampradaya di Pura Kahyangan

Mahaprabhu juga mengungkap bahwa ia mendapat panugrahan melalui Pura Gedong yang berada di sebelah Pasraman Kayu Manis. Kekuatan tersebut adalah kekuatan Panca Prana dalam bentuk Parisudha Bayu dan Cakra Buwana yaitu penglukatan dalam bentuk angin. “Panugrahan ini diberikan melalui dialog batin yang tyang lakukan. Inilah keajaiban dari yang tyang terima. Semakin ditunjukkan, semakin tyang tidak berani meninggalkan gelar tyang sebagai Shri Mahaprabu,” ungkapnya.

Dalam dialog batinnya, ia juga bertemu dengan Raja Rsi Ajisaka yang menjadi pembimbingnya. Raja Rsi Ajisaka memberikan tugas kepadanya untuk menemukan pengetahuan yang bernama Japa Yadnya yang tersimpan dalam susunan huruf Bali. “Satu hal yang unik juga, pada waktu itu istri tyang tidak mau mendampingi tyang ngelinggihang Kemahaprabhuan ini. Maka tyang memohon agar diberikan istri yang mau mendampingi tyang ngelinggihang gelar ini. Atas izin alam, hari ini saya diberikan istri yang bergelar Shri Mahaprabhu Fatni yang mengemong pengetahuan,” pungkasnya.






Reporter: Wiwin Meliana

DENPASAR, BALI EXPRESS – Viralnya tulisan Iwan Pranajaya yang mempertanyakan asal-usul gelar Mahaprabu ditanggapi langsung oleh Putu Pandhia. Melalui unggahan Facebook Zelobi Omnivora, Kamis (30/6), Putu Pandhia atau yang lebih akrab disapa Mahaprabu mengurai  asal-usul gelar Mahaprabu tersebut.

Putu Pandhia mengungkapkan, awalnya gelar Mahaprabu adalah sebuah guyonan semata. Ini berawal ketika pada tahun 2009 ia sering berdebat dengan oknum-oknum penganut sampradaya. Oknum-oknum sampradaya ini menyebut dirinya sebagai prabhu lalu mengejek tradisi umat Hindu. Meresa jengkel, maka Putu Pandhia meminta teman-teman dan orang terdekatnya memanggilnya Mahaprabu.

“Dulu tyang dipanggil guru karena mengajarkan meditasi. Namun mulai hari itu jangan panggil saya guru, panggil saya mahaprabu. Saya paksa kawan-kawan untuk memanggil mahaprabu karena untuk mengejek balik orang-orang yang baru tahu Weda sedikit tetapi sudah mau dipanggil prabhu,” jelasnya.

Namun pada tahun 2011, saat Putu Pandhia melakukan meditasi, ia justru diabhiseka Widhi secara niskala. Dalam meditasinya ia merasakan banyak para Rsi hadir dan menuntut tanggung jawabnya karena berani memakai gelar mahaprabhu. Dalam meditasi itu ia diupacarai atau disebut dengan Abhiseka Widhi dengan diberikan gelar Sri Mahaprabhu Prahlada Pandhia.

Baca Juga :  Ditinggal Lokasabha, Kantor PHDI Bali Malah Didemo

“Saat diabhiseka tyang mengemban amanat pengetahuan tradisi dan menemukan sumber-sumber tradisi kita,” jelasnya.

Setelah itu ia memohon diberi kelancaran karena ingin mendirikan sebuah pasraman. Dalam doanya ia tidak mau meminta bantuan pemerintah, melainkan hanya menerima bantuan dari orang-orang yang benar-benar tulus ingin membantu dalam mendirikan pasraman yang dimaksud.

“Tahun 2012 kami bersama anak-anak SMA yang baru lulus sekolah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli bahan bangunan. Saya pikir kalau begini caranya, 10 tahun ke depan pasraman baru akan selesai. Tetapi rupanya tahun 2015 pasraman ini sudah berdiri,” ungkap Mahaprabhu, pendiri Pasraman Kayu Manis yang berlokasi di Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan ini.

Dengan dilancarkannya pembangunan pasraman ini, Putu Pandhia meyakini bahwa gelar Mahaprabu yang disandangnya merupakan gelar dari alam. Sejak saat itu ia tak berani melanggar SOP dari gelarnya. Itu sebabnya rambutnya dikuncung (diikat ke atas) karena merupakan salah satu petunjuk dari alam.

Baca Juga :  Polemik ISKCON, Dirjen Bimas Hindu Sambangi MDA Bali

Mahaprabhu juga mengungkap bahwa ia mendapat panugrahan melalui Pura Gedong yang berada di sebelah Pasraman Kayu Manis. Kekuatan tersebut adalah kekuatan Panca Prana dalam bentuk Parisudha Bayu dan Cakra Buwana yaitu penglukatan dalam bentuk angin. “Panugrahan ini diberikan melalui dialog batin yang tyang lakukan. Inilah keajaiban dari yang tyang terima. Semakin ditunjukkan, semakin tyang tidak berani meninggalkan gelar tyang sebagai Shri Mahaprabu,” ungkapnya.

Dalam dialog batinnya, ia juga bertemu dengan Raja Rsi Ajisaka yang menjadi pembimbingnya. Raja Rsi Ajisaka memberikan tugas kepadanya untuk menemukan pengetahuan yang bernama Japa Yadnya yang tersimpan dalam susunan huruf Bali. “Satu hal yang unik juga, pada waktu itu istri tyang tidak mau mendampingi tyang ngelinggihang Kemahaprabhuan ini. Maka tyang memohon agar diberikan istri yang mau mendampingi tyang ngelinggihang gelar ini. Atas izin alam, hari ini saya diberikan istri yang bergelar Shri Mahaprabhu Fatni yang mengemong pengetahuan,” pungkasnya.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/