alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

KPPAD Bali Carikan Orang Tua Asuh untuk Anak Yatim di Payangan

GIANYAR, BALI EXPRESS – Malang benar nasib bocah yang satu ini. Diusia yang masih sangat kecil, Putu Edwin Candra Nata Septiawan, 4, yang beralamat di Banjar Peliatan, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar, ini harus hidup sebatang kara setelah ayah dan kakeknya meninggal dunia, kemudian sang ibu menikah lagi.

Bocah ini akrab disapa Putu Edwin. Anak seusianya semestinya mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia masih terlalu kecil untuk merasakan pahitnya dunia. Kini ia dirawat oleh bibinya. Mirisnya, bocah tersebut dibebankan tanah warisan desa. Dia sudah masuk warga adat dan tiap bulan membayar iuran ke desa. Namun karena masih bocah, Putu Edwin tidak ikut tedun ngayah. 

Atas kondisi tersebut Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, Made Ariasa berupaya mencarikan orang tua asuh untuk Putu Edwin. “Beruntung ada seorang pengusaha yang siap menjadi orang tua asuh bagi Putu. Jadi Putu akan dibantu dana kehidupan dan pendidikan, dan kami sudah mempertemukan mereka,” ujarnya Minggu (1/8).

Menurutnya dengan mencarikan orang tua asuh tersebut diharapkan Putu Edwin memiliki jaminan untuk masa depannya. “Tidak cukup hanya memberikan ikan berapapun banyaknya, tetap akan lebih baik memberikan bekal kail, agar Putu kelak bisa meraih masa depannya,”ungkapnya.

Selain itu dengan adanya orang tua asuh juga diharapkan pendidikan Putu Edwin terjamin.  mengupayakan ada orang tua asuh untuk keberlangsungan masa depan pendidikannya sebagai bentuk bekal kail masa depannya. Bukan untuk memancing tapi untuk bekal bekerja lebih baik,” jelasnya.

Terlebih Putu Edwin memiliki tanggungjawab yang besar yakni  menjaga warisan orang tua maupun leluhurnya termasuk menempati tanah ayah desa.  “Jadi yang dihadapi Putu bukan sekedar kebutuhan hidup makan minum, kesehatan, bermain dan pendidikan saja. Tapi juga terkait kewajiban adat di luar ayah-ayahan. Misalnya, ada hak PKH (Program Keluarga Harapan) yang ternyata masih dipegang oleh kakak tirinya. Padahal infonya kakak tirinya ini tidak lagi merawat dan menghidupinya,” bebernya.

Pihaknya berharap nasib Putu Edwin bisa menjadi perhatian semua pihak, mulai dari pemerintah banjar, desa, kabupaten dan tentunya dinas terkait. Disamping itu pihaknya menilai perlu peran Majelis Desa Adat (MDA) Gianyar. “Termasuk MDA kecamatan dan kabupaten, terhadap beban tanggung jawab adat tersebut serta pengembalian hak PKH warisan orang tuanya,” sebut Ariasa.

Menurutnya kondisi yang dialami Putu Edwin juga banyak dialami oleh anak-anak lainnya di Bali. “Maka dari itu semoga masyarakat semakin peduli dan semakin meningkatkan semangat bergotong royong untuk membantu anak-anak kita yang mengalami nasib serupa,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Malang benar nasib bocah yang satu ini. Diusia yang masih sangat kecil, Putu Edwin Candra Nata Septiawan, 4, yang beralamat di Banjar Peliatan, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar, ini harus hidup sebatang kara setelah ayah dan kakeknya meninggal dunia, kemudian sang ibu menikah lagi.

Bocah ini akrab disapa Putu Edwin. Anak seusianya semestinya mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia masih terlalu kecil untuk merasakan pahitnya dunia. Kini ia dirawat oleh bibinya. Mirisnya, bocah tersebut dibebankan tanah warisan desa. Dia sudah masuk warga adat dan tiap bulan membayar iuran ke desa. Namun karena masih bocah, Putu Edwin tidak ikut tedun ngayah. 

Atas kondisi tersebut Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, Made Ariasa berupaya mencarikan orang tua asuh untuk Putu Edwin. “Beruntung ada seorang pengusaha yang siap menjadi orang tua asuh bagi Putu. Jadi Putu akan dibantu dana kehidupan dan pendidikan, dan kami sudah mempertemukan mereka,” ujarnya Minggu (1/8).

Menurutnya dengan mencarikan orang tua asuh tersebut diharapkan Putu Edwin memiliki jaminan untuk masa depannya. “Tidak cukup hanya memberikan ikan berapapun banyaknya, tetap akan lebih baik memberikan bekal kail, agar Putu kelak bisa meraih masa depannya,”ungkapnya.

Selain itu dengan adanya orang tua asuh juga diharapkan pendidikan Putu Edwin terjamin.  mengupayakan ada orang tua asuh untuk keberlangsungan masa depan pendidikannya sebagai bentuk bekal kail masa depannya. Bukan untuk memancing tapi untuk bekal bekerja lebih baik,” jelasnya.

Terlebih Putu Edwin memiliki tanggungjawab yang besar yakni  menjaga warisan orang tua maupun leluhurnya termasuk menempati tanah ayah desa.  “Jadi yang dihadapi Putu bukan sekedar kebutuhan hidup makan minum, kesehatan, bermain dan pendidikan saja. Tapi juga terkait kewajiban adat di luar ayah-ayahan. Misalnya, ada hak PKH (Program Keluarga Harapan) yang ternyata masih dipegang oleh kakak tirinya. Padahal infonya kakak tirinya ini tidak lagi merawat dan menghidupinya,” bebernya.

Pihaknya berharap nasib Putu Edwin bisa menjadi perhatian semua pihak, mulai dari pemerintah banjar, desa, kabupaten dan tentunya dinas terkait. Disamping itu pihaknya menilai perlu peran Majelis Desa Adat (MDA) Gianyar. “Termasuk MDA kecamatan dan kabupaten, terhadap beban tanggung jawab adat tersebut serta pengembalian hak PKH warisan orang tuanya,” sebut Ariasa.

Menurutnya kondisi yang dialami Putu Edwin juga banyak dialami oleh anak-anak lainnya di Bali. “Maka dari itu semoga masyarakat semakin peduli dan semakin meningkatkan semangat bergotong royong untuk membantu anak-anak kita yang mengalami nasib serupa,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/