28.8 C
Denpasar
Monday, January 30, 2023

Kemarau Panjang, Dua Subak di Kecamatan Buleleng Gagal Panen

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kemarau panjang yang terjadi tahun ini berimbas pada sektor pertanian. Komoditas yang ditanam kerap tak berhasil akibat krisis air atau kekeringan yang terjadi di wilayah tersebut. Kemarau kali ini mengakibatkan 17,49 hektar sawah yang terletak di Kecamatan Buleleng, mengalami fuso atau gagal panen. 

Sebanyak 17,49 hektar sawah yang mengalami gagal panen merupakan tanaman padi yang terdapat di dua subak. Yakni Subak Sidayu di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng seluas 16,49 hektar. Serta Subak Anyar, Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng, seluas 1 hektar. Tanaman padi yang terdapat pada luasan sawah di kedua subak tersebut mati kekeringan lantaran tidak ada suplay air yang cukup untuk mangairi sawah-sawah.

Himbauan untuk mengganti tanaman dengan palawija pun disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarta saat dihubungi via telepon ,Rabu (1/9) pagi. Selain itu, masing-masing subak juga diminta untuk melakukan pengairan irigasi bergilir. Serta petani juga diharapkan menanam varietas padi yang berumur pendek seperti Situbagendit dan Towuti. “Kami dari dinas selalu menganjurkan kalau musim kering begini petani kami anjurkan untuk menanam palawija. Atau kalau masih ada sumber air sedikit, minimal padi ditanam setengah, setengahnya lagi palawija. Kekeringan ini sudah terjadi sejak Juli, dan Agustus ini adalah puncaknya,” ujarnya.

Baca Juga :  Hendak Pesta Sabu, Cawir Ditangkap di Sukasada

Distan pun akan segera melakukan pendataan terkait lahan pertanian yang mengalami gagal panen. Hal itu dilakukan agar petani yang mengalami gagal panen dapat diberikan bantuan berupa bibit dari pemerintah pusat. “Ini tidak bisa diberikan langsung. Untuk bantuan bibit ini akan kami data dulu. Kemudian kami usulkan ke Pemerintah pusat. Tentunya bantuan bibit ini kami prioritaskan untuk petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan. Selain itu masing-masing subak sudah mendapatkan subsidi pupuk. Kemungkinan Setelah diusulkan nanti, akan diberikan pada musim tanam tiba,” tambahnya.

Dalam kondisi gagal panen seperti saat ini, petani akan sangat terbantu apabila mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Asuransi ini bisa membantu para petani dikala tanaman padinya mati, baik akibat bencana alam, maupun terserang hama. Namun Sumiarta tak menampik bahwa minat petani untuk mengikuti AUTP hingga saat ini masih sangat minim. Padahal untuk pembayaran premi, pemerintah telah memberikan subsidi dari yang awalnya Rp 140 ribu, kini menjadi Rp 36 ribu per hektar per musim tanam. Dengan mengikuti asuransi ini, petani bisa mendapatkan klaim sebesar Rp 6 juta per hektar, apabila sawahnya mengalami gagal panen mencapai 75 persen, baik karena kekeringan atau terserang hama. 

Baca Juga :  Di Undiksha Penuh, Asrama SMA Bali Mandara Dijadikan Tempat Isolasi

Selain itu, ada beberapa subak yang juga mengalami kerusakan ringan, sedang dan berat akibat musim kemarau. Untuk kerusakan ringan, seluas 40.38 hektar, tersebar di sembilan subak yang ada di Kecamatan Buleleng, Kecamatan Sawan, Kecamatan Sukasada, dan Kecamatan Kubutambahan. Sementara kerusakan sedang seluas 5 hektar tersebar di lima subak yang ada di Kecamatan Buleleng. Sedangkan rusak berat terjadi pada 6 hektar sawah, yang tersebar di enam subak yang ada di Kecamatan Buleleng.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kemarau panjang yang terjadi tahun ini berimbas pada sektor pertanian. Komoditas yang ditanam kerap tak berhasil akibat krisis air atau kekeringan yang terjadi di wilayah tersebut. Kemarau kali ini mengakibatkan 17,49 hektar sawah yang terletak di Kecamatan Buleleng, mengalami fuso atau gagal panen. 

Sebanyak 17,49 hektar sawah yang mengalami gagal panen merupakan tanaman padi yang terdapat di dua subak. Yakni Subak Sidayu di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng seluas 16,49 hektar. Serta Subak Anyar, Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng, seluas 1 hektar. Tanaman padi yang terdapat pada luasan sawah di kedua subak tersebut mati kekeringan lantaran tidak ada suplay air yang cukup untuk mangairi sawah-sawah.

Himbauan untuk mengganti tanaman dengan palawija pun disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarta saat dihubungi via telepon ,Rabu (1/9) pagi. Selain itu, masing-masing subak juga diminta untuk melakukan pengairan irigasi bergilir. Serta petani juga diharapkan menanam varietas padi yang berumur pendek seperti Situbagendit dan Towuti. “Kami dari dinas selalu menganjurkan kalau musim kering begini petani kami anjurkan untuk menanam palawija. Atau kalau masih ada sumber air sedikit, minimal padi ditanam setengah, setengahnya lagi palawija. Kekeringan ini sudah terjadi sejak Juli, dan Agustus ini adalah puncaknya,” ujarnya.

Baca Juga :  Depo Pasir Dibuka di Sambirenteng, Harga masih Tergolong Mahal

Distan pun akan segera melakukan pendataan terkait lahan pertanian yang mengalami gagal panen. Hal itu dilakukan agar petani yang mengalami gagal panen dapat diberikan bantuan berupa bibit dari pemerintah pusat. “Ini tidak bisa diberikan langsung. Untuk bantuan bibit ini akan kami data dulu. Kemudian kami usulkan ke Pemerintah pusat. Tentunya bantuan bibit ini kami prioritaskan untuk petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan. Selain itu masing-masing subak sudah mendapatkan subsidi pupuk. Kemungkinan Setelah diusulkan nanti, akan diberikan pada musim tanam tiba,” tambahnya.

Dalam kondisi gagal panen seperti saat ini, petani akan sangat terbantu apabila mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Asuransi ini bisa membantu para petani dikala tanaman padinya mati, baik akibat bencana alam, maupun terserang hama. Namun Sumiarta tak menampik bahwa minat petani untuk mengikuti AUTP hingga saat ini masih sangat minim. Padahal untuk pembayaran premi, pemerintah telah memberikan subsidi dari yang awalnya Rp 140 ribu, kini menjadi Rp 36 ribu per hektar per musim tanam. Dengan mengikuti asuransi ini, petani bisa mendapatkan klaim sebesar Rp 6 juta per hektar, apabila sawahnya mengalami gagal panen mencapai 75 persen, baik karena kekeringan atau terserang hama. 

Baca Juga :  Aparat Desa Padangsambian Amankan Pelaku Balapan Liar

Selain itu, ada beberapa subak yang juga mengalami kerusakan ringan, sedang dan berat akibat musim kemarau. Untuk kerusakan ringan, seluas 40.38 hektar, tersebar di sembilan subak yang ada di Kecamatan Buleleng, Kecamatan Sawan, Kecamatan Sukasada, dan Kecamatan Kubutambahan. Sementara kerusakan sedang seluas 5 hektar tersebar di lima subak yang ada di Kecamatan Buleleng. Sedangkan rusak berat terjadi pada 6 hektar sawah, yang tersebar di enam subak yang ada di Kecamatan Buleleng.


Most Read

Artikel Terbaru