alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Demo Saling Lempar Batu, Orator Papua Merdeka Malah Orang Jawa

DENPASAR, BALI EXPRESS – Bentrokan pecah di depan Casa Bunga Jalan Raya Puputan, Renon, Denpasar pada Rabu (1/12) pagi. Ini terjadi saat aksi unjuk rasa memperingati 60 tahun deklarasi Kemerdekaan Papua Barat. Yang menarik ternyata pihak yang orasi di Papua Merdeka bukan orang Papua malah orang Jawa.

 

 

Terkait masalah ini, Ketua Aksi AMP Yesaya yang dikonfirmasi terpisah menjelaskan bahwa demo yang mereka gelar adalah aksi damai meminta kemerdekaan Papua barat, menentukan nasib sendiri sebagai solusi paling demokratis, mengusut pelanggar HAM di Papua Barat dan sebagaunya. Pihaknya pun sudah bersurat ke Polda Bali dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali. Namun dalam perjalanan menuju ke titik kegiatan, mereka dihadang. “Dari titik kumpul mau menuju ke titik aksi, pas di pertengahan terjadi pembungkaman artinya penghadangan oleh ormas PGN,” sebutnya. 

 

Pihaknya mengaku kecewa karena saat ingin melanjutkan aksi damai, polisi membiarkan ormas menghadang, meski sudah meminta pengamanan. Disebutkan pertengkaran mencuat karena selain dihadang spanduk dan bendera mereka juga dirobek. Begitupun mobil pikap mereka, kacanya dipecah. Kemudian, ada 11 orang dikatakan terluka dari pihaknya karena lemparan batu, kayu hingga botol air.

 

Dia berharap kedepan polisi bisa adil menjadi penengah, memberi keamanan dan tidak memihak ormas, karena akan terus menyampaikan aspirasi. Sedangkan Panglima komando Wilayah Pertahanan Bali dan Indonesia Timur PGN, Pariyadi atau Gus Yadi mengaku pihaknya saat itu bersama 70 anggota menggelar aksi bela negara sekaligus mencegah ada pihak mengucapkan kemerdekaan Papua.

 

“Karena tidak benar kalau dikatakan Papua merdeka, tapi mereka menyiapkan batu, kayu, bahkan panah di bawah komandonya dia yang ada soundnya, dan yang komando orasi itu bukan orang Papua, itu justru orang Jawa dari LBH, jadi kemana sekarang tindakan polisi?” Ujarnya. Pihaknya berusaha membubarkan aksi AMP pukul 06.00, terlebih karena tidak sesuai izin pukul 10.00.

 

Akibat kejadian itu, Yadi mengaku 70 persen anggota PGN termasuk dirinya terluka lantaran tak siap dilempari batu hingga pan dan banyak kendaraan masyarakat yang terkena lemparan. Dia juga meyakini aksi AMP diskenario oleh LBH. Sehingga pihaknya meminta masalah ini ditindaklanjuti oleh polisi. “Kami akan lapor ke Polda Bali, jika tidak ditindaklanjuti, kami kami minta Kapolri untuk mencopot Kapolda Bali, dan lapor ke BNPT serta Densu 88, karena bukan hanya AMP yang orasi tapi ada juga yang menyerukan merdeka itu OPM,” tutupnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Bentrokan pecah di depan Casa Bunga Jalan Raya Puputan, Renon, Denpasar pada Rabu (1/12) pagi. Ini terjadi saat aksi unjuk rasa memperingati 60 tahun deklarasi Kemerdekaan Papua Barat. Yang menarik ternyata pihak yang orasi di Papua Merdeka bukan orang Papua malah orang Jawa.

 

 

Terkait masalah ini, Ketua Aksi AMP Yesaya yang dikonfirmasi terpisah menjelaskan bahwa demo yang mereka gelar adalah aksi damai meminta kemerdekaan Papua barat, menentukan nasib sendiri sebagai solusi paling demokratis, mengusut pelanggar HAM di Papua Barat dan sebagaunya. Pihaknya pun sudah bersurat ke Polda Bali dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali. Namun dalam perjalanan menuju ke titik kegiatan, mereka dihadang. “Dari titik kumpul mau menuju ke titik aksi, pas di pertengahan terjadi pembungkaman artinya penghadangan oleh ormas PGN,” sebutnya. 

 

Pihaknya mengaku kecewa karena saat ingin melanjutkan aksi damai, polisi membiarkan ormas menghadang, meski sudah meminta pengamanan. Disebutkan pertengkaran mencuat karena selain dihadang spanduk dan bendera mereka juga dirobek. Begitupun mobil pikap mereka, kacanya dipecah. Kemudian, ada 11 orang dikatakan terluka dari pihaknya karena lemparan batu, kayu hingga botol air.

 

Dia berharap kedepan polisi bisa adil menjadi penengah, memberi keamanan dan tidak memihak ormas, karena akan terus menyampaikan aspirasi. Sedangkan Panglima komando Wilayah Pertahanan Bali dan Indonesia Timur PGN, Pariyadi atau Gus Yadi mengaku pihaknya saat itu bersama 70 anggota menggelar aksi bela negara sekaligus mencegah ada pihak mengucapkan kemerdekaan Papua.

 

“Karena tidak benar kalau dikatakan Papua merdeka, tapi mereka menyiapkan batu, kayu, bahkan panah di bawah komandonya dia yang ada soundnya, dan yang komando orasi itu bukan orang Papua, itu justru orang Jawa dari LBH, jadi kemana sekarang tindakan polisi?” Ujarnya. Pihaknya berusaha membubarkan aksi AMP pukul 06.00, terlebih karena tidak sesuai izin pukul 10.00.

 

Akibat kejadian itu, Yadi mengaku 70 persen anggota PGN termasuk dirinya terluka lantaran tak siap dilempari batu hingga pan dan banyak kendaraan masyarakat yang terkena lemparan. Dia juga meyakini aksi AMP diskenario oleh LBH. Sehingga pihaknya meminta masalah ini ditindaklanjuti oleh polisi. “Kami akan lapor ke Polda Bali, jika tidak ditindaklanjuti, kami kami minta Kapolri untuk mencopot Kapolda Bali, dan lapor ke BNPT serta Densu 88, karena bukan hanya AMP yang orasi tapi ada juga yang menyerukan merdeka itu OPM,” tutupnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/