alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Kasus Pembunuhan, Satu Anggota Mata Elang Terancam 15 Tahun Penjara

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus pembunuhan yang dilakukan anggota Mata Elang atau deb collector di Monang-Maning, Denpasar Barat, mulai disidangkan di PN Denpasar secara daring, pada Selasa (30/11). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bagus Putu Swadharma Diputra membagi berkas menjadi dua. Pertama untuk terdakwa 1 yakni Benny Bakarbessy, 41, terdakwa 2 yakni Jos Bus Likumahwa, 30, terdakwa 3 yakni Fendy Kainama, 31, Gerson Pattiwaelapia, 33 (terdakwa 4), I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23 (terdakwa 5), Dominggus Bakar Bessy, 23 (terdakwa 6). Berkas kedua meliputi terdakwa I Wayan Sadia, 39. Khusus Sadia dijerat pasal 338 KUHP (tentang pembunuhan) dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sementara terdakwa Benny dkk didakwa melanggar pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12/1951 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, pasal 170 ayat (1) KUHP; dan pasal 351 ayat (1) KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Meski pasal yang dikenakan untuk terdakwa Benny dkk berlapis, namun ancaman hukuman penjara paling lama tetap pada terdakwa Sadia. “Setelah dakwaan dibacakan, mereka (para terdakwa) mengajukan eksepsi atau keberatan,” ungkap JPU Bagus.

Terungkap dalam dakwaan, peristiwa berdarah ini terjadi pada 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30. Kala itu saksi Ketut Widiada alias Jero Dolah dan saksi korban Gede Budiarsana mendatangi Kantor PT Beta Mandiri Multi Solution di Jalan Gunung Patuha, Monang-Maning, Denpasar Barat.

Di tempat itu, saksi Widiada yang menanyakan penarikan motor Yamaha Lexi terlibat pertengkaran. Widiada hendak merekam pertengkaran itu menggunakan handphone (HP) namun dirampas terdakwa Jos Bus. Tidak terima HP-nya dirampas, korban Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus. “Tindakan itu membuat terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak tiga kali,” beber JPU Bagus.

Selanjutnya Benny mengambil beberapa bilah pedang dan senjata tajam yang tersimpan di dalam kantor. Benny lalu keluar mengacungkan pedang ke arah Widiada dengan berteriak ‘Habisi! Bunuh dia!’ Ketegangan itu berlanjut hingga terjadi perebutan pedang yang diayunkan Benny pada Widiada. Terdakwa Gusti Bagus Christian lantas memukul saksi menggunakan kursi plastik diikuti terdakwa lainnya.

Widiada terjatuh dan kemudian ditindih terdakwa Benny. Sementara korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama. Namun, karena kalah jumlah, saksi berlari dengan berkata kepada korban ‘De melaib De (De lari De)’.

Korban Budiarsana masih dikeroyok dan tak bisa melepaskan diri. Saat itu, terdakwa I Wayan Sadia (berkas terpisah) memiting leher Budiarsana. Setelah berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berhasil melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy sempat melemparkan batu dan mengenai punggung Widiada. Para terdakwa juga sempat mengejar mereka. Saat melakukan pengejaran tersebut para terdakwa membawa pedang dan senjata tajam yang sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy.

Sementara terdakwa Sadia, 39, sempat dilukai terdakwa dengan pedang yang dibawanya. Karena terdesak, korban dan saksi Widiada keluar dari kantor tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga badan korban hampir terjatuh dan pedang yang dibawanya terlepas.

Terdakwa mengambil pedang yang terjatuh tersebut lalu mengejar korban. “Korban yang lari berusaha naik ke bagian belakang mobil pikap yang melintas sambil bergelantungan. Karena korban tidak kuat akhirya terjatuh,” tutur JPU Bagus.

Saat korban terjatuh, terdakwa kembali menebas korban dengan pedang yang dipegangnya dan mengenai bagian belakang kepala korban sebanyak dua kali. Akibatnya korban Budiarsana meninggal dunia di jalan raya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus pembunuhan yang dilakukan anggota Mata Elang atau deb collector di Monang-Maning, Denpasar Barat, mulai disidangkan di PN Denpasar secara daring, pada Selasa (30/11). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bagus Putu Swadharma Diputra membagi berkas menjadi dua. Pertama untuk terdakwa 1 yakni Benny Bakarbessy, 41, terdakwa 2 yakni Jos Bus Likumahwa, 30, terdakwa 3 yakni Fendy Kainama, 31, Gerson Pattiwaelapia, 33 (terdakwa 4), I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23 (terdakwa 5), Dominggus Bakar Bessy, 23 (terdakwa 6). Berkas kedua meliputi terdakwa I Wayan Sadia, 39. Khusus Sadia dijerat pasal 338 KUHP (tentang pembunuhan) dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sementara terdakwa Benny dkk didakwa melanggar pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12/1951 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, pasal 170 ayat (1) KUHP; dan pasal 351 ayat (1) KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Meski pasal yang dikenakan untuk terdakwa Benny dkk berlapis, namun ancaman hukuman penjara paling lama tetap pada terdakwa Sadia. “Setelah dakwaan dibacakan, mereka (para terdakwa) mengajukan eksepsi atau keberatan,” ungkap JPU Bagus.

Terungkap dalam dakwaan, peristiwa berdarah ini terjadi pada 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30. Kala itu saksi Ketut Widiada alias Jero Dolah dan saksi korban Gede Budiarsana mendatangi Kantor PT Beta Mandiri Multi Solution di Jalan Gunung Patuha, Monang-Maning, Denpasar Barat.

Di tempat itu, saksi Widiada yang menanyakan penarikan motor Yamaha Lexi terlibat pertengkaran. Widiada hendak merekam pertengkaran itu menggunakan handphone (HP) namun dirampas terdakwa Jos Bus. Tidak terima HP-nya dirampas, korban Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus. “Tindakan itu membuat terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak tiga kali,” beber JPU Bagus.

Selanjutnya Benny mengambil beberapa bilah pedang dan senjata tajam yang tersimpan di dalam kantor. Benny lalu keluar mengacungkan pedang ke arah Widiada dengan berteriak ‘Habisi! Bunuh dia!’ Ketegangan itu berlanjut hingga terjadi perebutan pedang yang diayunkan Benny pada Widiada. Terdakwa Gusti Bagus Christian lantas memukul saksi menggunakan kursi plastik diikuti terdakwa lainnya.

Widiada terjatuh dan kemudian ditindih terdakwa Benny. Sementara korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama. Namun, karena kalah jumlah, saksi berlari dengan berkata kepada korban ‘De melaib De (De lari De)’.

Korban Budiarsana masih dikeroyok dan tak bisa melepaskan diri. Saat itu, terdakwa I Wayan Sadia (berkas terpisah) memiting leher Budiarsana. Setelah berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berhasil melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy sempat melemparkan batu dan mengenai punggung Widiada. Para terdakwa juga sempat mengejar mereka. Saat melakukan pengejaran tersebut para terdakwa membawa pedang dan senjata tajam yang sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy.

Sementara terdakwa Sadia, 39, sempat dilukai terdakwa dengan pedang yang dibawanya. Karena terdesak, korban dan saksi Widiada keluar dari kantor tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga badan korban hampir terjatuh dan pedang yang dibawanya terlepas.

Terdakwa mengambil pedang yang terjatuh tersebut lalu mengejar korban. “Korban yang lari berusaha naik ke bagian belakang mobil pikap yang melintas sambil bergelantungan. Karena korban tidak kuat akhirya terjatuh,” tutur JPU Bagus.

Saat korban terjatuh, terdakwa kembali menebas korban dengan pedang yang dipegangnya dan mengenai bagian belakang kepala korban sebanyak dua kali. Akibatnya korban Budiarsana meninggal dunia di jalan raya.


Most Read

Artikel Terbaru

/