alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Konsep ‘Phalaning Bumi’, Penjor Banjar Meranggi Rebut Juara 1

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kreatifitas anak-anak muda ST. Yowana Dharma Laksana, Banjar Meranggi, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur sukses menyabet juara pertama dalam Festival Lomba Penjor serangkaian upacara Ngerebong. Penjor yang dibuat tersebut mengusung konsep Phalaning Bumi dengan tinggi 14 meter dengan meraih total nilai 532.

 

Ketua ST. Yowana Dharma Laksana, Komang Oka Suryana Putra saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (30/11) menjelaskan konsep Phalaning Bumi yang dimaksud tersebut yakni memakai hasil dari segala apa yang ada di bumi sesuai dengan artinya.

 

Selain memiliki arti filosofis dari kajian semantik linguistik, Bedawang Nala juga dapat secara harafiah diartikan sebagai bumi yang tak lepas dari ikatan material duniawi, sehinggga segala sesuatu yang hidup di bumi ini tidak dapat lepas dengan ikatan keduniawian. “Terkait hal tersebut sebagai manu muda atau Yowana yang diberkahi akal dan budi maka dengan sendirinya memiliki rasa syukur yang butuh dan ingin diwujudkan,” ungkap Oka Suryana.

 

Lanjutnya, atas dasar tersebut terimplementasilah pada rangkaian seni dari beberapa bahan alam pada bambu yang kemudian disebut penjor yang merupakan bentuk dari capuhan kreativitas, seni dan budaya lokal. Yang mana semua itu dapat terintegrasi juga dalam teknologi modern dalam mengekspresikan simbol srada bakti manusia terhadap alam semesta dan Hyang Cintya sebagai Sang Hyang Parama Reka.

 

“Bahan-bahannya mayoritas alami dengan hasil-hasil dari bumi seperti ental, pewarna ental, bambu, plawa, pala gantung, dan aksesoris lainnya. Untuk biaya kurang lebih menghabiskan Rp 4,5 juta,” ungkapnya.

 

Untuk proses pembuatannya diakui kurang lebih memakan waktu satu minggu, dimana sebelum proses para pemuda dan pemudi terlebih dahulu ngaturang piuning di merajan Bale Banjar Meranggi. “Semua turut terlibat baik itu pemuda maupun pemudi. Dan juga kami tetap meminta saran dan masukan kepada para seniman senior kami di banjar,” tegasnya.

 

Untuk juara ini, pihaknya tak memprediksi sebelumnya. Menurut Oka Suryana, karena masih banyak penjor-penjor sekeha teruna di wewidangan Desa Adat Kesiman yang sangat bagus dan megah. “Tak lupa kami menghaturkan banyak terimakasih kepada penyelenggara festival lomba penjor yang di dukung oleh Desa Adat Kesiman, Jro Bendesa dan Yowana Adat Kesiman,” tutupnya.

 

Untuk penjor juara II disabet Banjar Ujung dengan total nilai 524, disusul Banjar Abian Nangka Kelod dengan total nilai 513. Sementara untuk juara IV hingga VI berturut-turut yakni Banjar Cerancam (nilai 511), Banjar Dajan Tangkluk (nilai 509) dan Banjar Kebonkuri Tengah (nilai 505). Total peserta dalam lomba itu sebanyak 31 banjar adat yang ada di wewidangan Desa Adat Kesiman.

 

Sementara Kepala Dusun Banjar Meranggi, Ida Bagus Oka Parwata diwawancarai terpisah mengapresiasi kreatifitas yang telah dibuktikan oleh anak-anak muda di banjar nya. “Dalam segi kreatifitas seni dan budaya memang anak-anak muda di banjar kami ada keunggulan. Dan terbukti di bidang seni dibuktikan dengan juara lomba penjor ini,” ungkap Oka Parwata.

 

Lanjutnya, seluruh persiapan dalam penggarapan diserahkan sepenuhnya kepada para anak-anak muda tersebut. Tapi, tak menutup juga ada masukan dari para seniman senior maupun praktisi seni yang ada di Banjar Meranggi dalam prosesnya. “Para senior hanya memberikan masukan seperti apa baiknya seperti pemilihan warna serta ornamen lainnya. Selebihnya adalah anak-anak muda yang mengesekusinya dengan kreatifitas serta inovasi yang mereka miliki,” tegasnya.

 

Yang ditekankan pihaknya bahwa dalam pembuatannya jangan mementingkan individu, karena penjor ini dipergunakan untuk yadnya termasuk secara tidak langsung menjadi ikon Banjar Meranggi juga.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Kreatifitas anak-anak muda ST. Yowana Dharma Laksana, Banjar Meranggi, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur sukses menyabet juara pertama dalam Festival Lomba Penjor serangkaian upacara Ngerebong. Penjor yang dibuat tersebut mengusung konsep Phalaning Bumi dengan tinggi 14 meter dengan meraih total nilai 532.

 

Ketua ST. Yowana Dharma Laksana, Komang Oka Suryana Putra saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (30/11) menjelaskan konsep Phalaning Bumi yang dimaksud tersebut yakni memakai hasil dari segala apa yang ada di bumi sesuai dengan artinya.

 

Selain memiliki arti filosofis dari kajian semantik linguistik, Bedawang Nala juga dapat secara harafiah diartikan sebagai bumi yang tak lepas dari ikatan material duniawi, sehinggga segala sesuatu yang hidup di bumi ini tidak dapat lepas dengan ikatan keduniawian. “Terkait hal tersebut sebagai manu muda atau Yowana yang diberkahi akal dan budi maka dengan sendirinya memiliki rasa syukur yang butuh dan ingin diwujudkan,” ungkap Oka Suryana.

 

Lanjutnya, atas dasar tersebut terimplementasilah pada rangkaian seni dari beberapa bahan alam pada bambu yang kemudian disebut penjor yang merupakan bentuk dari capuhan kreativitas, seni dan budaya lokal. Yang mana semua itu dapat terintegrasi juga dalam teknologi modern dalam mengekspresikan simbol srada bakti manusia terhadap alam semesta dan Hyang Cintya sebagai Sang Hyang Parama Reka.

 

“Bahan-bahannya mayoritas alami dengan hasil-hasil dari bumi seperti ental, pewarna ental, bambu, plawa, pala gantung, dan aksesoris lainnya. Untuk biaya kurang lebih menghabiskan Rp 4,5 juta,” ungkapnya.

 

Untuk proses pembuatannya diakui kurang lebih memakan waktu satu minggu, dimana sebelum proses para pemuda dan pemudi terlebih dahulu ngaturang piuning di merajan Bale Banjar Meranggi. “Semua turut terlibat baik itu pemuda maupun pemudi. Dan juga kami tetap meminta saran dan masukan kepada para seniman senior kami di banjar,” tegasnya.

 

Untuk juara ini, pihaknya tak memprediksi sebelumnya. Menurut Oka Suryana, karena masih banyak penjor-penjor sekeha teruna di wewidangan Desa Adat Kesiman yang sangat bagus dan megah. “Tak lupa kami menghaturkan banyak terimakasih kepada penyelenggara festival lomba penjor yang di dukung oleh Desa Adat Kesiman, Jro Bendesa dan Yowana Adat Kesiman,” tutupnya.

 

Untuk penjor juara II disabet Banjar Ujung dengan total nilai 524, disusul Banjar Abian Nangka Kelod dengan total nilai 513. Sementara untuk juara IV hingga VI berturut-turut yakni Banjar Cerancam (nilai 511), Banjar Dajan Tangkluk (nilai 509) dan Banjar Kebonkuri Tengah (nilai 505). Total peserta dalam lomba itu sebanyak 31 banjar adat yang ada di wewidangan Desa Adat Kesiman.

 

Sementara Kepala Dusun Banjar Meranggi, Ida Bagus Oka Parwata diwawancarai terpisah mengapresiasi kreatifitas yang telah dibuktikan oleh anak-anak muda di banjar nya. “Dalam segi kreatifitas seni dan budaya memang anak-anak muda di banjar kami ada keunggulan. Dan terbukti di bidang seni dibuktikan dengan juara lomba penjor ini,” ungkap Oka Parwata.

 

Lanjutnya, seluruh persiapan dalam penggarapan diserahkan sepenuhnya kepada para anak-anak muda tersebut. Tapi, tak menutup juga ada masukan dari para seniman senior maupun praktisi seni yang ada di Banjar Meranggi dalam prosesnya. “Para senior hanya memberikan masukan seperti apa baiknya seperti pemilihan warna serta ornamen lainnya. Selebihnya adalah anak-anak muda yang mengesekusinya dengan kreatifitas serta inovasi yang mereka miliki,” tegasnya.

 

Yang ditekankan pihaknya bahwa dalam pembuatannya jangan mementingkan individu, karena penjor ini dipergunakan untuk yadnya termasuk secara tidak langsung menjadi ikon Banjar Meranggi juga.


Most Read

Artikel Terbaru

/