alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Masuk Dalam Zona Merah, RSUD Buleleng Tiadakan Jam Besuk

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kasus Covid-19 di Buleleng kembali meningkat. Isoter kembali dibuka. Rumah sakit juga mulai menyiapkan tempat serta menjaga kondusifitas pasien hingga pengunjung. Berdasarkan surat edaran terkait ruah sakit sebagai red zone atau zona merah, maka RSUD Buleleng mengeluarkan kebijakan untuk meniadakan jam besuk. Hal itu un ditegaskan Direktur RSUD Buleleng Dokter Putu Arya Nugraha, saat dihubungi via telepon Selasa (1/2) siang.

Ditegaskan, RSUD Buleleng mengambil kebijakan tersebut tidak saja berdasarkan kasus Covid-19 yang melonjak. Namun juga masyarakat yang melakukan besuk tidak mematuhi peraturan besuk pasien yang ditentukan rumah sakit. “Ini sebenarnya penegasan aja. Sebenenarnya sejak pandemi awal hingga kini tidak dicabut sebenarnya. Cuma karena masyarakat abai dan tidak aware terhadap himbauan itu ya kami tegaskan lagi,” kata dia.

Jam besuk di RSUD Buleleng sebelum Covid-19 diberlakukan dua kali. Yakni siang antara pukul 11.00 wita hingga pukul 13.00 wita dan sore dari pukul 17.00 wita hingga 19.00 wita. Saat terjadi pendemi, persatuan rumah sakit seluruh Indonesia menghapuskan jam besuk tersebut. “Sebenarnya penghapusan jam besuk itu masih sampai sekarang. Tapi karena kemarin kasus sempat melandai dan masyarakat tidak mengindahkan maka ditegaskan kembali,” ungkapnya.

Pemberlakuan peniadaan jam besuk ini akan berlaku hingga status wabah dicabut. Tapi RSUD Buleleng juga memberikan kebijakan pada penunggu pasien. Bila kondisi pasien masih dapat bergerak, maka penunggu hanya dibatasi satu orang. Namun bila kondisi pasien cukup parah, maka penunggu pasien bisa dua orang. “Untuk peraturan itu kami hanya melaksanaka dalam ata waktu yang tidak ditentukan. Kalau untuk penunggu pasien tergantung pada kondisi pasien. Kalau misalnya pasien mengalami patah tulang, stroke atau kesulitan bergerak penunggu pasien bisa dua orang agar dapat membantu aktivitas,” tukasnya.

Kebijakan lainnya yang dilakukan RSUD Buleleng yakni membuka ruang perawatan sebanyak dua ruang. Yakni ruang isolasi Lely 2 dan ruang isolasi VVIP. “Yang berubah itu hanya fleksibilitas ruangan. Jadinya sekarang ada 4 ruangan. Yang lama kan intensif Lely 1 dan isolasi Jempiring, sekarang ditambah isolasi Lely 2 dan isolasi VVIP,” tegasnya.

Untuk keterisian ruangan, dari data RSUD Buleleng, ruang intensif lely 1 yang berkapasitas 9 tempat tidur telah terisi 8 tempat tidur atau 88,89 persen. Ruang isolasi Jempiring kapasitasnya 16 tempat tidur dan telah terisi 100 persen. Begitu pula dengan kapasitas ruang isolasi VVIP dengan 12 tempat tidur telah terisi 100 persen. Sementara, isolasi lely 2 dengan kapasitas 16 tempat tidur telah terisi 50 persen atau 8 tempat tidur.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kasus Covid-19 di Buleleng kembali meningkat. Isoter kembali dibuka. Rumah sakit juga mulai menyiapkan tempat serta menjaga kondusifitas pasien hingga pengunjung. Berdasarkan surat edaran terkait ruah sakit sebagai red zone atau zona merah, maka RSUD Buleleng mengeluarkan kebijakan untuk meniadakan jam besuk. Hal itu un ditegaskan Direktur RSUD Buleleng Dokter Putu Arya Nugraha, saat dihubungi via telepon Selasa (1/2) siang.

Ditegaskan, RSUD Buleleng mengambil kebijakan tersebut tidak saja berdasarkan kasus Covid-19 yang melonjak. Namun juga masyarakat yang melakukan besuk tidak mematuhi peraturan besuk pasien yang ditentukan rumah sakit. “Ini sebenarnya penegasan aja. Sebenenarnya sejak pandemi awal hingga kini tidak dicabut sebenarnya. Cuma karena masyarakat abai dan tidak aware terhadap himbauan itu ya kami tegaskan lagi,” kata dia.

Jam besuk di RSUD Buleleng sebelum Covid-19 diberlakukan dua kali. Yakni siang antara pukul 11.00 wita hingga pukul 13.00 wita dan sore dari pukul 17.00 wita hingga 19.00 wita. Saat terjadi pendemi, persatuan rumah sakit seluruh Indonesia menghapuskan jam besuk tersebut. “Sebenarnya penghapusan jam besuk itu masih sampai sekarang. Tapi karena kemarin kasus sempat melandai dan masyarakat tidak mengindahkan maka ditegaskan kembali,” ungkapnya.

Pemberlakuan peniadaan jam besuk ini akan berlaku hingga status wabah dicabut. Tapi RSUD Buleleng juga memberikan kebijakan pada penunggu pasien. Bila kondisi pasien masih dapat bergerak, maka penunggu hanya dibatasi satu orang. Namun bila kondisi pasien cukup parah, maka penunggu pasien bisa dua orang. “Untuk peraturan itu kami hanya melaksanaka dalam ata waktu yang tidak ditentukan. Kalau untuk penunggu pasien tergantung pada kondisi pasien. Kalau misalnya pasien mengalami patah tulang, stroke atau kesulitan bergerak penunggu pasien bisa dua orang agar dapat membantu aktivitas,” tukasnya.

Kebijakan lainnya yang dilakukan RSUD Buleleng yakni membuka ruang perawatan sebanyak dua ruang. Yakni ruang isolasi Lely 2 dan ruang isolasi VVIP. “Yang berubah itu hanya fleksibilitas ruangan. Jadinya sekarang ada 4 ruangan. Yang lama kan intensif Lely 1 dan isolasi Jempiring, sekarang ditambah isolasi Lely 2 dan isolasi VVIP,” tegasnya.

Untuk keterisian ruangan, dari data RSUD Buleleng, ruang intensif lely 1 yang berkapasitas 9 tempat tidur telah terisi 8 tempat tidur atau 88,89 persen. Ruang isolasi Jempiring kapasitasnya 16 tempat tidur dan telah terisi 100 persen. Begitu pula dengan kapasitas ruang isolasi VVIP dengan 12 tempat tidur telah terisi 100 persen. Sementara, isolasi lely 2 dengan kapasitas 16 tempat tidur telah terisi 50 persen atau 8 tempat tidur.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/