alexametrics
25.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Jasa Akomodasi, Hiburan Dilarang Promosi Branding Hari Suci Nyepi

DENPASAR, BALI EXPRESS –  Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1943 yang jatuh, Minggu (14/3) mendatang, menjadi cerminan dari kerukunan antar-umat beragama di Bali. 

Sebab, pada perayaan Nyepi tahun ini bertepatan pada hari Minggu, dimana umat Kristen, Budha, dan Khonghucu, juga melaksanakan kebhaktian. 

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet, Selasa (2/3) menyampaikan, Nyepi tahun ini akan menjadi bukti toleransi antar-umat beragama. Sebab di hari yang sama, selain umat Hindu juga umat lain melaksanakan kebhaktian. Maka dipandang perlu adanya koordinasi, komunikasi agar terciptanya ketertiban antar- umat melaksanakan Catur Brata Penyepian. 

“Tahun ini akan menjadi bukti kerukunan, toleransi, dan kebersamaan antar-umat beragama masih sangat bagus. Sejak mulai dirintis kesepakatan menyambut Hari Raya Nyepi di Bali, tidak pernah ditemukan masalah yang berarti, secara umum Nyepi selalu berjalan dengan baik,” jelas pria yang juga sebagai Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali ini. 

Meski di hari bersamaan tidak saja umat Hindu saja melaksanakan Catur Brata Panyepian, karena  umat lain masih bisa melaksanakan kebhaktian. Bahkan, beberapa kali sempat juga barengan seperti tahun ini. Namun, antar agama tetap melaksanakan ibadahnya masing-masing.

“Setiap acara hari raya, setiap agama di Bali selalu berjalan baik, tidak menemukan kendala. Kerukunan dan toleransi di Bali membahagiakan kita semua,” sambungnya. 

Dalam kesempatan itu, Ida Panglingsir juga menjelaskan jasa akomodasi dan jasa penyedia hiburan dilarang menjual paket yang diisi branding Hari Suci Nyepi. Langkah itu disebutkan untuk mengantisipasi hari suci dijadikan alat komersial dan menodai hari suci tersebut.

“Tujuannya supaya Nyepi tidak dipakai alat komersial, dan jangan juga ada misalnya paket Nyepi untuk hotel dan hiburan. Padahal, Nyepi itu kan harus melaksanakan Catur Brata Panyepian. Hotel buka silakan, tetapi jangan memakai istilah paket Nyepi. Kalau untuk hiburan selama Nyepi 24 jam memang dilarang,” tegasnya. 

Wakil Ketua FKUB Provinsi Bali, I Gusti Made Ngurah menyampaikan hal serupa sempat terjadi pada tahun 2004 lalu, ketika masih menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali.

“Pada rapat koordinasi tidak ada masalah, waktu itu pelaksanaan Nyepi dalam situasi yang sama seperti sekarang. Maka sekarang ini diputuskan juga umat Kristen tetap melakukan kebhaktian hari Minggu jam 00.00 sampai 06.00 di gereja dekat dengan tempat tinggalnya atau bisa di rumah masing-masing. Karena jam 06.00 itu nyambung  dengan Nyepi,” jelasnya. 

Dilanjutkannya, umat Buddha melaksanakan pujabhakti di kediaman masing-masing, dan umat Khonghucu juga melaksanakan kebhaktian di kediaman masing-masing. 

“Tahun 2004 lalu pernah juga begitu, waktu saya jadi kakanwil. Maka ini menjadi cermin kerukunan antar m-umat beragama terawat, terjaga, dan terpelihara. Sudah ada rapat koordinasi, sekarang tinggal sosialisasi dari masing-masing lembaga umat saja,” imbuh Gusti Made Ngurah. 


DENPASAR, BALI EXPRESS –  Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1943 yang jatuh, Minggu (14/3) mendatang, menjadi cerminan dari kerukunan antar-umat beragama di Bali. 

Sebab, pada perayaan Nyepi tahun ini bertepatan pada hari Minggu, dimana umat Kristen, Budha, dan Khonghucu, juga melaksanakan kebhaktian. 

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet, Selasa (2/3) menyampaikan, Nyepi tahun ini akan menjadi bukti toleransi antar-umat beragama. Sebab di hari yang sama, selain umat Hindu juga umat lain melaksanakan kebhaktian. Maka dipandang perlu adanya koordinasi, komunikasi agar terciptanya ketertiban antar- umat melaksanakan Catur Brata Penyepian. 

“Tahun ini akan menjadi bukti kerukunan, toleransi, dan kebersamaan antar-umat beragama masih sangat bagus. Sejak mulai dirintis kesepakatan menyambut Hari Raya Nyepi di Bali, tidak pernah ditemukan masalah yang berarti, secara umum Nyepi selalu berjalan dengan baik,” jelas pria yang juga sebagai Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali ini. 

Meski di hari bersamaan tidak saja umat Hindu saja melaksanakan Catur Brata Panyepian, karena  umat lain masih bisa melaksanakan kebhaktian. Bahkan, beberapa kali sempat juga barengan seperti tahun ini. Namun, antar agama tetap melaksanakan ibadahnya masing-masing.

“Setiap acara hari raya, setiap agama di Bali selalu berjalan baik, tidak menemukan kendala. Kerukunan dan toleransi di Bali membahagiakan kita semua,” sambungnya. 

Dalam kesempatan itu, Ida Panglingsir juga menjelaskan jasa akomodasi dan jasa penyedia hiburan dilarang menjual paket yang diisi branding Hari Suci Nyepi. Langkah itu disebutkan untuk mengantisipasi hari suci dijadikan alat komersial dan menodai hari suci tersebut.

“Tujuannya supaya Nyepi tidak dipakai alat komersial, dan jangan juga ada misalnya paket Nyepi untuk hotel dan hiburan. Padahal, Nyepi itu kan harus melaksanakan Catur Brata Panyepian. Hotel buka silakan, tetapi jangan memakai istilah paket Nyepi. Kalau untuk hiburan selama Nyepi 24 jam memang dilarang,” tegasnya. 

Wakil Ketua FKUB Provinsi Bali, I Gusti Made Ngurah menyampaikan hal serupa sempat terjadi pada tahun 2004 lalu, ketika masih menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali.

“Pada rapat koordinasi tidak ada masalah, waktu itu pelaksanaan Nyepi dalam situasi yang sama seperti sekarang. Maka sekarang ini diputuskan juga umat Kristen tetap melakukan kebhaktian hari Minggu jam 00.00 sampai 06.00 di gereja dekat dengan tempat tinggalnya atau bisa di rumah masing-masing. Karena jam 06.00 itu nyambung  dengan Nyepi,” jelasnya. 

Dilanjutkannya, umat Buddha melaksanakan pujabhakti di kediaman masing-masing, dan umat Khonghucu juga melaksanakan kebhaktian di kediaman masing-masing. 

“Tahun 2004 lalu pernah juga begitu, waktu saya jadi kakanwil. Maka ini menjadi cermin kerukunan antar m-umat beragama terawat, terjaga, dan terpelihara. Sudah ada rapat koordinasi, sekarang tinggal sosialisasi dari masing-masing lembaga umat saja,” imbuh Gusti Made Ngurah. 


Most Read

Artikel Terbaru

/