alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Kasus Sulinggih Cabul Akan Dilimpahkan ke Gianyar

GIANYAR, BALI EXPRESS – Kasus sulinggih (Begawan) cabul bergelar IBRASM dengan nama walaka (sebelum diksa) I Wayan M, 38,  yang ditangani Polda Bali kini telah memasuki tahap baru yakni masuk ke meja Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali. Hanya saja karena lokasi kejadian berada di Campuhan Tampaksiring, Desa/Kecamatan Tampaksiring, maka kasus tersebut bisa saja dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Gianyar.

 

Terkait hal tersebut, Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Gianyar, Gede Ancana tidak menamfik perihal rencana pelimpahan kasus ke Kejari Gianyar tersebut. “Nggih, tapi belum ada info kapan itu,” ungkapnya saat dikonfirmasi Selasa (2/3).

 

Maka dari itu pihaknya pun masih akan berkoordinasi lebih lanjut, termasuk menentukan siapa Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan mendakwa dan menuntut oknum sulinggih tersebut. “Itu kita belum tahu, masih menunggu petunjuk pimpinan,” imbuhnya.

 

Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Gianyar, Wayan Ardana menyebutkan jika oknum sulinggih tersebut bisa dijerat hukum apabila perbuatan yang dilakukan terbukti merupakan tindak pidana. “Sepanjang itu pelanggaran hukum atau tindak pidana, yang diproses hukum bukan sulinggihnya, tapi orangnya,” tegas pria yang juga Tim Ahli Bupati Gianyar tersebut.

 

Sehingga menurutnya status oknum sulinggih yang melekat dengan gelar Ida Begawan itu juga bisa saja dicabut. Namun yang berwenang mencbaut adalah Nabe atau Guru dari oknum sulinggih tersebut. “Status sulinggih yang berwenang mencabut adalah nabe (guru). Karena kalau sulinggih melanggar sesana kawikon, nabe yang menjatuhkan putusan,” paparnya.

 

Parahnya lagi, menurut Ardana oknum sulinggih bergelar Ida Begawan yang tinggal di Banjar Tegal, Desa/Kecamatan Tegalalang itu tidak tercatat di PHDI. Lantaran proses mediksa-nya tidak melalui PHDI Gianyar, sehingga tidak tercatat sebagai sulinggih PHDI Gianyar.

 

Seperti halnya yang diberitakan sebelumnya, Bendesa Adat Tegallalang juga tidak ikut menyaksikan proses diksa pariksa (pelantikan sulinggih) terhadap oknum tersebut. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Kasus sulinggih (Begawan) cabul bergelar IBRASM dengan nama walaka (sebelum diksa) I Wayan M, 38,  yang ditangani Polda Bali kini telah memasuki tahap baru yakni masuk ke meja Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali. Hanya saja karena lokasi kejadian berada di Campuhan Tampaksiring, Desa/Kecamatan Tampaksiring, maka kasus tersebut bisa saja dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Gianyar.

 

Terkait hal tersebut, Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Gianyar, Gede Ancana tidak menamfik perihal rencana pelimpahan kasus ke Kejari Gianyar tersebut. “Nggih, tapi belum ada info kapan itu,” ungkapnya saat dikonfirmasi Selasa (2/3).

 

Maka dari itu pihaknya pun masih akan berkoordinasi lebih lanjut, termasuk menentukan siapa Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan mendakwa dan menuntut oknum sulinggih tersebut. “Itu kita belum tahu, masih menunggu petunjuk pimpinan,” imbuhnya.

 

Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Gianyar, Wayan Ardana menyebutkan jika oknum sulinggih tersebut bisa dijerat hukum apabila perbuatan yang dilakukan terbukti merupakan tindak pidana. “Sepanjang itu pelanggaran hukum atau tindak pidana, yang diproses hukum bukan sulinggihnya, tapi orangnya,” tegas pria yang juga Tim Ahli Bupati Gianyar tersebut.

 

Sehingga menurutnya status oknum sulinggih yang melekat dengan gelar Ida Begawan itu juga bisa saja dicabut. Namun yang berwenang mencbaut adalah Nabe atau Guru dari oknum sulinggih tersebut. “Status sulinggih yang berwenang mencabut adalah nabe (guru). Karena kalau sulinggih melanggar sesana kawikon, nabe yang menjatuhkan putusan,” paparnya.

 

Parahnya lagi, menurut Ardana oknum sulinggih bergelar Ida Begawan yang tinggal di Banjar Tegal, Desa/Kecamatan Tegalalang itu tidak tercatat di PHDI. Lantaran proses mediksa-nya tidak melalui PHDI Gianyar, sehingga tidak tercatat sebagai sulinggih PHDI Gianyar.

 

Seperti halnya yang diberitakan sebelumnya, Bendesa Adat Tegallalang juga tidak ikut menyaksikan proses diksa pariksa (pelantikan sulinggih) terhadap oknum tersebut. 


Most Read

Artikel Terbaru

/