alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Di Buleleng, Pasien Sembuh Tiga Orang, Kasus Baru Tambah Satu

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pasien yang hasil swabnya terkonfirmasi positif kembali bertambah satu orang. Pasien dengan kode PDP 119 ini berasal dari Kecamatan Seririt, yang ditulari dari PDP 80 (sopir Jawa-Bali yang telah sembuh).

Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa dalam keterangan persnya, Kamis (2/7), mengatakan, PDP 119 ini adalah istri dari PDP 112 (yang lebih dulu dirawat di RS Pratama). Dimana, PDP 112 ini sempat kontak erat dengan PDP 80.

“PDP 80 ini sudah menulari sampai 16 orang yang terkonfirmasi positif. Mereka terdiri dari tenaga kesehatan (nakes) yang merawatnya, tetangganya, keluarganya. Kemudian nakes itu juga menulari keluarganya, sehingga kalau ditotal ada 16 orang yang ditulari,” ujar Suyasa.

Kendati demikian, Suyasa membantah jika kasus yang ditimbulkan oleh PDP 80 ini merupakan klaster baru. Sebab, jika disebut klaster maka terkesan terlalu luas. “Sehingga kalau disebut klaster terlalu luas. Artinya penyebarannya hanya satu. Tetapi menyebar pada kelompok orang. Kalau disebut klaster, mestinya penularannya antar sopir,” imbuhnya

Lanjut Suyasa, dari 16 orang yang ditulari oleh PDP 80, saat ini masih ada empat pasien yang dirawat. Mereka adalah PDP 98, PDP 101, PDP 112 dan PDP 119. “Langkahnya apa? Kalau satu sopir antar daerah saja bisa menulari 16 orang positif, maka pos penyekatan yang dibangun di Labuhan Lalang ini adalah salah satu upaya untuk menyeleksi orang yang masuk Buleleng agar tidak terjadi penularan,” jelasnya.

Selain ada penambahan satu kasus baru, Suyasa menyebut, ada tiga pasien yang dinyatakan sembuh. Mereka adalah PDP 107, PDP 116 dan PDP 100 yang ditulari dari PDP 80. Ketiganya merupakan pasien asal Kecamatan Buleleng. Khusus PDP 107 ini dirawat selama 12 hari dan diswab 7 kali. Kemudian PDP 116 ini dirawat selama 3 hari. Sedangkan PDP 100 dirawat 20 hari, dan diswab 11 kali.

Suyasa juga tak menampik ada pasien dalam pengawasan yang diberi kode PDP 117 di RS Pratama Giri Emas, meninggal dunia, Rabu (1/7). Pasien asal Kecamatan Banjar ini sebelumnya merupakan pasien RSUD Buleleng. Setelah dirapid hasilnya reaktif.

“Lalu dibawa ke Giri Emas. Kemudian meninggal dan jenazah langsung dikubur dengan menggunakan protocol Covid, Rabu (1/7). Swabnya sudah keluar dan hasilnya negatif,” terangnya.

Sementara itu, terkait realisasi anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam hal penanganan Covid-19, Suyasa menyebut, anggaran yang telah terpakai sebanyak Rp 31,4 miliar, dari total anggaran Rp 67 miliar.

“BTT yang sudah direalisasikan sebesar Rp 31,4 miliar dari rencana awal Rp 57 miliar. Kemudian ditambah anggaran dari provinsi sebesar Rp 10 miliar, sehingga total Rp 67 miliar. Kami masih punya sisa anggaran Rp 35,6 miliar. Kalau kemampuan prediksi valid, maka anggaran akan cukup. Namun kami tidak tahu sampai kapan kondisi Covid-19 ini karena  tidak bisa diprediksi,” pungkasnya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pasien yang hasil swabnya terkonfirmasi positif kembali bertambah satu orang. Pasien dengan kode PDP 119 ini berasal dari Kecamatan Seririt, yang ditulari dari PDP 80 (sopir Jawa-Bali yang telah sembuh).

Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa dalam keterangan persnya, Kamis (2/7), mengatakan, PDP 119 ini adalah istri dari PDP 112 (yang lebih dulu dirawat di RS Pratama). Dimana, PDP 112 ini sempat kontak erat dengan PDP 80.

“PDP 80 ini sudah menulari sampai 16 orang yang terkonfirmasi positif. Mereka terdiri dari tenaga kesehatan (nakes) yang merawatnya, tetangganya, keluarganya. Kemudian nakes itu juga menulari keluarganya, sehingga kalau ditotal ada 16 orang yang ditulari,” ujar Suyasa.

Kendati demikian, Suyasa membantah jika kasus yang ditimbulkan oleh PDP 80 ini merupakan klaster baru. Sebab, jika disebut klaster maka terkesan terlalu luas. “Sehingga kalau disebut klaster terlalu luas. Artinya penyebarannya hanya satu. Tetapi menyebar pada kelompok orang. Kalau disebut klaster, mestinya penularannya antar sopir,” imbuhnya

Lanjut Suyasa, dari 16 orang yang ditulari oleh PDP 80, saat ini masih ada empat pasien yang dirawat. Mereka adalah PDP 98, PDP 101, PDP 112 dan PDP 119. “Langkahnya apa? Kalau satu sopir antar daerah saja bisa menulari 16 orang positif, maka pos penyekatan yang dibangun di Labuhan Lalang ini adalah salah satu upaya untuk menyeleksi orang yang masuk Buleleng agar tidak terjadi penularan,” jelasnya.

Selain ada penambahan satu kasus baru, Suyasa menyebut, ada tiga pasien yang dinyatakan sembuh. Mereka adalah PDP 107, PDP 116 dan PDP 100 yang ditulari dari PDP 80. Ketiganya merupakan pasien asal Kecamatan Buleleng. Khusus PDP 107 ini dirawat selama 12 hari dan diswab 7 kali. Kemudian PDP 116 ini dirawat selama 3 hari. Sedangkan PDP 100 dirawat 20 hari, dan diswab 11 kali.

Suyasa juga tak menampik ada pasien dalam pengawasan yang diberi kode PDP 117 di RS Pratama Giri Emas, meninggal dunia, Rabu (1/7). Pasien asal Kecamatan Banjar ini sebelumnya merupakan pasien RSUD Buleleng. Setelah dirapid hasilnya reaktif.

“Lalu dibawa ke Giri Emas. Kemudian meninggal dan jenazah langsung dikubur dengan menggunakan protocol Covid, Rabu (1/7). Swabnya sudah keluar dan hasilnya negatif,” terangnya.

Sementara itu, terkait realisasi anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam hal penanganan Covid-19, Suyasa menyebut, anggaran yang telah terpakai sebanyak Rp 31,4 miliar, dari total anggaran Rp 67 miliar.

“BTT yang sudah direalisasikan sebesar Rp 31,4 miliar dari rencana awal Rp 57 miliar. Kemudian ditambah anggaran dari provinsi sebesar Rp 10 miliar, sehingga total Rp 67 miliar. Kami masih punya sisa anggaran Rp 35,6 miliar. Kalau kemampuan prediksi valid, maka anggaran akan cukup. Namun kami tidak tahu sampai kapan kondisi Covid-19 ini karena  tidak bisa diprediksi,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/