alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Ini Jenis Kelangsah dan Fungsinya untuk Upakara  

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi-Badung, memaparkan ada beberapa jenis Kelabang atau Kelangsah yang digunakan khusus dalam upacara tertentu, sesuai dengan fungsinya.

Berdasarkan  Lontar Tutur Tapeni, Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa, mengatakan, terdapat beberapa jenis Kelangsah atau Kelabang yang sering digunakan masyarakat Hindu Bali.  Yang pertama adalah Kelabang Wong-Wongan atau Kala Badeg. Kelabang ini dibuat dari daun kelapa tua yang masih menyatu dengan pelepahnya, dibuat anyaman menyerupai manusia. Ini merupakan simbol Sang Kala Wong atau Sang Kala Badeg. 

Kelabang Wong-Wongan dipakai sebagai alas upakara perkawinan (pasakapan/pakala-kalaan) sebagai personifikasi sang pengantin yang masih dianggap cuntaka perorodan. Oleh karena itu, perlu diadakan upacara panyucian diri menjelang masuk ke alam Grehasta asrama. Hal ini dimaksudkan agar nantinya mempelai mendapatkan anak yang Suputra. 

Yang kedua dikenal istilah Kelabang Dangap-dangap. Kelabang ini bahannya terbuat dari daun kelapa tua yang masih melekat pada pelepahnya, dibuat anyaman seperti binatang, memiliki bentuk kepala, badan, dan ekor seekor bintang. Manfaat dari kelabang ini sebagai alas upakara caru yang memiliki makna simbol sebagai kekuatan butha kala. Kekuatan ini dapat diilustrasikan dari kata Dangap-dangap, yang artinya suka mengganggu kehidupan manusia, karena butha kala pun mengharapkan Sorga. 

Jenis kelabang yang ketiga, yakni Kelabang Taring yang biasanya digunakan sebagai sarana berteduh setiap pelaksanaan upacara yadnya di Bali. “Namun, fungsi sejatinya bukanlah demikian, melainkan diharapkan agar setiap umat yang berada di bawahnya pikiran yang bersangkutan menjedi lebih terang (suci) dan tenang,” ulasnya. 

Yang keempat dikenal istilah Kelabang Mantri atau Kelabang Sakti. Kelabang ini merupakan anyaman  Kelabang yang umumnya digunakan dalam upacara yadnya.  Kelabang Mantri ini memiliki fungsi untuk ‘ngilangin sarwa leteh’ yakni menghalangi energi buruk yang mengancam pemilik atau yang menjalankan yadnya. Baik berupa desti aneluh nerangjana serta makhluk gaib yang hendak mengganggu jalannya upacara yadnya. “Kelabang Mantri ini biasanya diletakkan pada tembok panyengker, atau digunakan sebagai tembok payadnyan. Sering juga ditaruh di atas pintu masuk rumah atau kamar bagi orang tua yang memiliki bayi,” jelasnya. 

Selain itu, ada juga Kelabang Sengkui. Kelabang ini hampir mirip dengan Kelabang Dangap-dangap, biasanya Kelabang Sengkui ini digunakan dalam ritual upacara Bhuta Yadnya (caru). Jumlah ulatan (anyaman) ini mengikuti jumlah urip pacaruan. Makna kelabang ini adalah nyupat dan nyomia bhuta kala. Kelabang ini digunakan sebagai alas dari segala jenis hidangan atau ulam pacaruan. 

Dan, yang terkahir ada yang disebut Kelabang Losok. Kelabang ini merupakan ulatan kelabang yang memiliki fungsi untuk menghilangkan energi negatif, menghindarkan pengaruh desti dan bhuta kala dalam upacara yadnya. Biasanya Kelabang ini digunakan dalam ritual membungkus tulang belulang yang sudah hangus terbakar (galih), saat upacara Ngaben untuk kemudian dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading.

 

 

 

 

 


MANGUPURA, BALI EXPRESS – Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi-Badung, memaparkan ada beberapa jenis Kelabang atau Kelangsah yang digunakan khusus dalam upacara tertentu, sesuai dengan fungsinya.

Berdasarkan  Lontar Tutur Tapeni, Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa, mengatakan, terdapat beberapa jenis Kelangsah atau Kelabang yang sering digunakan masyarakat Hindu Bali.  Yang pertama adalah Kelabang Wong-Wongan atau Kala Badeg. Kelabang ini dibuat dari daun kelapa tua yang masih menyatu dengan pelepahnya, dibuat anyaman menyerupai manusia. Ini merupakan simbol Sang Kala Wong atau Sang Kala Badeg. 

Kelabang Wong-Wongan dipakai sebagai alas upakara perkawinan (pasakapan/pakala-kalaan) sebagai personifikasi sang pengantin yang masih dianggap cuntaka perorodan. Oleh karena itu, perlu diadakan upacara panyucian diri menjelang masuk ke alam Grehasta asrama. Hal ini dimaksudkan agar nantinya mempelai mendapatkan anak yang Suputra. 

Yang kedua dikenal istilah Kelabang Dangap-dangap. Kelabang ini bahannya terbuat dari daun kelapa tua yang masih melekat pada pelepahnya, dibuat anyaman seperti binatang, memiliki bentuk kepala, badan, dan ekor seekor bintang. Manfaat dari kelabang ini sebagai alas upakara caru yang memiliki makna simbol sebagai kekuatan butha kala. Kekuatan ini dapat diilustrasikan dari kata Dangap-dangap, yang artinya suka mengganggu kehidupan manusia, karena butha kala pun mengharapkan Sorga. 

Jenis kelabang yang ketiga, yakni Kelabang Taring yang biasanya digunakan sebagai sarana berteduh setiap pelaksanaan upacara yadnya di Bali. “Namun, fungsi sejatinya bukanlah demikian, melainkan diharapkan agar setiap umat yang berada di bawahnya pikiran yang bersangkutan menjedi lebih terang (suci) dan tenang,” ulasnya. 

Yang keempat dikenal istilah Kelabang Mantri atau Kelabang Sakti. Kelabang ini merupakan anyaman  Kelabang yang umumnya digunakan dalam upacara yadnya.  Kelabang Mantri ini memiliki fungsi untuk ‘ngilangin sarwa leteh’ yakni menghalangi energi buruk yang mengancam pemilik atau yang menjalankan yadnya. Baik berupa desti aneluh nerangjana serta makhluk gaib yang hendak mengganggu jalannya upacara yadnya. “Kelabang Mantri ini biasanya diletakkan pada tembok panyengker, atau digunakan sebagai tembok payadnyan. Sering juga ditaruh di atas pintu masuk rumah atau kamar bagi orang tua yang memiliki bayi,” jelasnya. 

Selain itu, ada juga Kelabang Sengkui. Kelabang ini hampir mirip dengan Kelabang Dangap-dangap, biasanya Kelabang Sengkui ini digunakan dalam ritual upacara Bhuta Yadnya (caru). Jumlah ulatan (anyaman) ini mengikuti jumlah urip pacaruan. Makna kelabang ini adalah nyupat dan nyomia bhuta kala. Kelabang ini digunakan sebagai alas dari segala jenis hidangan atau ulam pacaruan. 

Dan, yang terkahir ada yang disebut Kelabang Losok. Kelabang ini merupakan ulatan kelabang yang memiliki fungsi untuk menghilangkan energi negatif, menghindarkan pengaruh desti dan bhuta kala dalam upacara yadnya. Biasanya Kelabang ini digunakan dalam ritual membungkus tulang belulang yang sudah hangus terbakar (galih), saat upacara Ngaben untuk kemudian dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading.

 

 

 

 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/