alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Sudibya Minta Pemerintah Segera Realisasikan Bantuan Sektor Pariwisata

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ketua Penasehat Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia, Bagus Sudibya, meminta pemerintah segera merealisasikan bantuan untuk sektor pariwisata.

“Sekarang, dalam posisi restart (mulai ulang), kami harapkan apa yang disampaikan pemerintah terkait bantuan atau stimulus bagi sektor pariwisata itu secepatnya direalisasikan,” ujarnya, Minggu (2/8).

Pariwisata di Provinsi Bali sudah dibuka sejak Jumat (31/7). Namun dalam skenario tatanan kehidupan era baru, pelonggaran sektor pariwisata dibatasi pada skala domestic, atau baru boleh didatangi wisatawan nusantara.

Harapannya, dengan dibukanya sektor pariwisata skala domestik, industri yang bersinggungan langsung dengan kegiatan wisata mulai jalan lagi, setelah sempat terpuruk sejak pandemi Covid-19 melanda Bali awal Maret 2020.

Meski demikian, harapan agar sektor pariwisata berdenyut lagi, tidaklah mudah. Sebab, para pelaku pariwisata sudah terlanjur “megap-megap”, lantaran sudah hampir lima bulan tidak beroperasi. Sekalipun beberapa perusahaan mungkin memiliki cadangan kekuatan untuk memulai lagi usahanya.

“Posisinya survive, bertahan. Mungkin yang punya cadangan keuangan masih bisa. Tapi tidak sedikit juga yang mempekerjakan 50 persen dari waktu operasional biasanya. Mereka mengurangi jam operasionalnya karena aktivitas pariwisata tidak ada,” ucapnya.

Baca Juga :  Awasi Bantuan Covid-19 dan Pilkada, Golkar Bali Bentuk Tim Hukum

Bahkan, sambung dia, bisa jadi dampak pandemi ini jauh lebih parah dirasakan para pelaku usaha perhotelan. Mengingat, operasional sektor usaha yang satu itu memerlukan biaya yang besar. Selain harus membayarkan gaji karyawannya, harus menjaga atau merawat propertinya, membayar listrik, dan ongkos operasional lainnya.

Menurutnya, sekalipun saat ini aktivitas usaha pariwisata sudah boleh dimulai kembali, tanpa adanya dukungan atau bantuan, akan sangat sulit bagi pengusaha pariwisata untuk menggerakan usahanya, terlebih untuk bergerak.

“Itu (bantuan stimulus) yang ditunggu sebetulnya. Terutama untuk di Bali yang paling kena dampak (dari sisi pariwisata). Semestinya secepatnya disalurkan. Jangan sampai keterlambatan birokrasi membuat bantuan itu kehilangan momentum. Ini sama seperti donor darah. Terlambat dapat donor, pasiennya meninggal,” tegasnya.

Sejatinya, sambung dia, soal bantuan untuk pelaku usaha pariwisata sudah dikomunikasikan ke Pemerintah Pusat melalui induk organisasi masing-masing, seperti PHRI atau ASITA.

 “Saya kurang mengetahui dari sisi mekanismenya. Kapan waktunya (realisasi). Yang jelas, anggaran yang akan diplot sudah ada. Sekarang tinggal menunggu realisasinya. Kapan waktunya, seperti saran saya, sekarang (pariwisata sudah dibuka, secepatnya lebih baik,” pungkasnya.  

Baca Juga :  Penutupan HUT Ke-124 Kota Negara, Wabup Badung Suiasa Sumbang Lagu

Bagus Sudibya berharap, dengan diterapkannya tatanan kehidupan era baru tahap kedua, meskipun masih dalam skala domestik, ini akan membantu memulihkan sektor pariwisata di Bali. Sekalipun untuk kembali ke sedia kala tidak mungkin dalam waktu yang singkat.

“Optimisme harus tetap ada. Apapun yang ada sekarang, patut untuk disyukuri, sekalipun pandemi ini membuat perekonomian secara nasioal terpuruk. Sehingga tidak mungkin mengharapkan kedatangan tamu domestik serta merta seperti dulu. Jadi, ini tentu secara gradual (bertahap),” katanya.

Semua itu, sambung dia, bergantung dari penanggulangan terhadap penyebaran Covid-19 di berbagai daerah. Begitu juga di Bali. Meskipun dalam beberapa waktu terakhir, rasio kesembuhan dengan kasus yang baru mulai meningkat dari sisi persentasenya. “Paling tidak ini memberikan efek psikologis yang baik. Dan ini yang mesti dijaga, dipertahankan oleh pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat,” pungkasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Ketua Penasehat Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia, Bagus Sudibya, meminta pemerintah segera merealisasikan bantuan untuk sektor pariwisata.

“Sekarang, dalam posisi restart (mulai ulang), kami harapkan apa yang disampaikan pemerintah terkait bantuan atau stimulus bagi sektor pariwisata itu secepatnya direalisasikan,” ujarnya, Minggu (2/8).

Pariwisata di Provinsi Bali sudah dibuka sejak Jumat (31/7). Namun dalam skenario tatanan kehidupan era baru, pelonggaran sektor pariwisata dibatasi pada skala domestic, atau baru boleh didatangi wisatawan nusantara.

Harapannya, dengan dibukanya sektor pariwisata skala domestik, industri yang bersinggungan langsung dengan kegiatan wisata mulai jalan lagi, setelah sempat terpuruk sejak pandemi Covid-19 melanda Bali awal Maret 2020.

Meski demikian, harapan agar sektor pariwisata berdenyut lagi, tidaklah mudah. Sebab, para pelaku pariwisata sudah terlanjur “megap-megap”, lantaran sudah hampir lima bulan tidak beroperasi. Sekalipun beberapa perusahaan mungkin memiliki cadangan kekuatan untuk memulai lagi usahanya.

“Posisinya survive, bertahan. Mungkin yang punya cadangan keuangan masih bisa. Tapi tidak sedikit juga yang mempekerjakan 50 persen dari waktu operasional biasanya. Mereka mengurangi jam operasionalnya karena aktivitas pariwisata tidak ada,” ucapnya.

Baca Juga :  Ngaku Bisa Gandakan Uang, Dukun Palsu Divonis 15 Bulan

Bahkan, sambung dia, bisa jadi dampak pandemi ini jauh lebih parah dirasakan para pelaku usaha perhotelan. Mengingat, operasional sektor usaha yang satu itu memerlukan biaya yang besar. Selain harus membayarkan gaji karyawannya, harus menjaga atau merawat propertinya, membayar listrik, dan ongkos operasional lainnya.

Menurutnya, sekalipun saat ini aktivitas usaha pariwisata sudah boleh dimulai kembali, tanpa adanya dukungan atau bantuan, akan sangat sulit bagi pengusaha pariwisata untuk menggerakan usahanya, terlebih untuk bergerak.

“Itu (bantuan stimulus) yang ditunggu sebetulnya. Terutama untuk di Bali yang paling kena dampak (dari sisi pariwisata). Semestinya secepatnya disalurkan. Jangan sampai keterlambatan birokrasi membuat bantuan itu kehilangan momentum. Ini sama seperti donor darah. Terlambat dapat donor, pasiennya meninggal,” tegasnya.

Sejatinya, sambung dia, soal bantuan untuk pelaku usaha pariwisata sudah dikomunikasikan ke Pemerintah Pusat melalui induk organisasi masing-masing, seperti PHRI atau ASITA.

 “Saya kurang mengetahui dari sisi mekanismenya. Kapan waktunya (realisasi). Yang jelas, anggaran yang akan diplot sudah ada. Sekarang tinggal menunggu realisasinya. Kapan waktunya, seperti saran saya, sekarang (pariwisata sudah dibuka, secepatnya lebih baik,” pungkasnya.  

Baca Juga :  2.059 Siswa KRB Sekolah di Denpasar, Didominasi Anak SD

Bagus Sudibya berharap, dengan diterapkannya tatanan kehidupan era baru tahap kedua, meskipun masih dalam skala domestik, ini akan membantu memulihkan sektor pariwisata di Bali. Sekalipun untuk kembali ke sedia kala tidak mungkin dalam waktu yang singkat.

“Optimisme harus tetap ada. Apapun yang ada sekarang, patut untuk disyukuri, sekalipun pandemi ini membuat perekonomian secara nasioal terpuruk. Sehingga tidak mungkin mengharapkan kedatangan tamu domestik serta merta seperti dulu. Jadi, ini tentu secara gradual (bertahap),” katanya.

Semua itu, sambung dia, bergantung dari penanggulangan terhadap penyebaran Covid-19 di berbagai daerah. Begitu juga di Bali. Meskipun dalam beberapa waktu terakhir, rasio kesembuhan dengan kasus yang baru mulai meningkat dari sisi persentasenya. “Paling tidak ini memberikan efek psikologis yang baik. Dan ini yang mesti dijaga, dipertahankan oleh pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/