alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

3 Siswa SMK Singamandawa Berteriak Histeris, Ternyata Ini yang Terjadi

GIANYAR, BALI EXPRESS – Tiga orang siswa SMK Singamandawa Monarch Bali yang berlokasi di Jalan Gunung Lempuyang, Lingkungan Selat, Kelurahan Samplangan, Gianyar, tiba-tiba kerauhan (kesurupan), Senin (1/11). Hal itu pun membuat heboh seisi sekolah hingga pihak sekolah terpaksa memulangkan seluruh siswa guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

 

 

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, sekitar pukul 09.50 WITA, tiba-tiba saja tiga orang siswa mengalami kerauhan. Mereka merupakan siswa kelas X dan dua orang siswa kelas IX. Mereka berteriak histeris sehingga membuat seisi sekolah heboh. Seluruh siswa kemudian dipulangkan, namun saat dipulangkan salah satu siswa kembali mengalami kerauhan sehingga dibawa kembali ke sekolah tersebut kemudian bersembahyang di Padmasana setempat.

 

 

 

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMK Singamandawa Monarch Bali, Kadek Yuli Cahyaningsih tak menamfik perihal peristiwa tersebut. “Memang benar ada 3 siswa kami yang kerauhan. Itu kejadianya sekitar pukul 09.50 WITA,” ungkapnya Selasa (2/11).

 

 

 

Saat itu, para guru langsung sigap menangani sejumlah siswa yang mengalami kerauhan dan berteriak tersebut. Salah satunya dengan meminta bantuan Pemangku. Dimana berdasarkan petunjuk dari Pemangku, sekolah dengan jurusan Akomodasi Perhotelan dan Tata Boga ini berencana melaksanakan upacara pencaruan atau pembersihan sesuai kepercayaan Hindu Bali untuk memohon agar kejadian mistis itu tidak terjadi lagi. “Rencananya kami akan menggelar pecaruan pada hari Jumat (5/11) ini. Dan waktu kejadian itu, setelah anak-anak kami sadarkan diri mereka langsung kami pulangkan,” paparnya.

 

 

 

Kendatipun mengalami kejadian mistis tersebut, kata dia pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah tersebut tetap berlangsung Selasa (2/11). Tentunya dengan tetap menerapkan prokes yang ketat dan disiplin.  “Lagipula kemarin, kami sudah lakukan upacara kecil yang disarankan Pemangku seperti menghaturkan canang, rarapan, dan rokok. Artinya sudah aman untuk anak-anak, dan PTM tetap kami laksanakan,” lanjut Cahyaningsih.

 

 

 

Selain karena faktor niskala, menurutnya kerauhan itu terjadi akibat psikis siswa yang lemah setelah cukup lama melaksanakan pembelajaran daring. “Mungkin saat kemarin pikiran anak-anak dalam keadaan kosong, sehingga terjadi hal tersebut,” imbuhnya.

 

 

 

Sedangkan untuk siswa yang mengalami kerauhan, pihak sekolah memberikan dispensasi untuk beristirahat sementara di rumah sampai kondisinya pulih dan siap untuk mengikuti PTM lagi. “Untuk anak-anak yang mengalami kerauhan kemarin kami tidak ijinkan datang ke sekolah sementa. Kita berikan mereka beristirahat untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis mereka. Kalau sudah siap, baru ikut PTM lagi,” pungkasnya. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Tiga orang siswa SMK Singamandawa Monarch Bali yang berlokasi di Jalan Gunung Lempuyang, Lingkungan Selat, Kelurahan Samplangan, Gianyar, tiba-tiba kerauhan (kesurupan), Senin (1/11). Hal itu pun membuat heboh seisi sekolah hingga pihak sekolah terpaksa memulangkan seluruh siswa guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

 

 

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, sekitar pukul 09.50 WITA, tiba-tiba saja tiga orang siswa mengalami kerauhan. Mereka merupakan siswa kelas X dan dua orang siswa kelas IX. Mereka berteriak histeris sehingga membuat seisi sekolah heboh. Seluruh siswa kemudian dipulangkan, namun saat dipulangkan salah satu siswa kembali mengalami kerauhan sehingga dibawa kembali ke sekolah tersebut kemudian bersembahyang di Padmasana setempat.

 

 

 

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMK Singamandawa Monarch Bali, Kadek Yuli Cahyaningsih tak menamfik perihal peristiwa tersebut. “Memang benar ada 3 siswa kami yang kerauhan. Itu kejadianya sekitar pukul 09.50 WITA,” ungkapnya Selasa (2/11).

 

 

 

Saat itu, para guru langsung sigap menangani sejumlah siswa yang mengalami kerauhan dan berteriak tersebut. Salah satunya dengan meminta bantuan Pemangku. Dimana berdasarkan petunjuk dari Pemangku, sekolah dengan jurusan Akomodasi Perhotelan dan Tata Boga ini berencana melaksanakan upacara pencaruan atau pembersihan sesuai kepercayaan Hindu Bali untuk memohon agar kejadian mistis itu tidak terjadi lagi. “Rencananya kami akan menggelar pecaruan pada hari Jumat (5/11) ini. Dan waktu kejadian itu, setelah anak-anak kami sadarkan diri mereka langsung kami pulangkan,” paparnya.

 

 

 

Kendatipun mengalami kejadian mistis tersebut, kata dia pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah tersebut tetap berlangsung Selasa (2/11). Tentunya dengan tetap menerapkan prokes yang ketat dan disiplin.  “Lagipula kemarin, kami sudah lakukan upacara kecil yang disarankan Pemangku seperti menghaturkan canang, rarapan, dan rokok. Artinya sudah aman untuk anak-anak, dan PTM tetap kami laksanakan,” lanjut Cahyaningsih.

 

 

 

Selain karena faktor niskala, menurutnya kerauhan itu terjadi akibat psikis siswa yang lemah setelah cukup lama melaksanakan pembelajaran daring. “Mungkin saat kemarin pikiran anak-anak dalam keadaan kosong, sehingga terjadi hal tersebut,” imbuhnya.

 

 

 

Sedangkan untuk siswa yang mengalami kerauhan, pihak sekolah memberikan dispensasi untuk beristirahat sementara di rumah sampai kondisinya pulih dan siap untuk mengikuti PTM lagi. “Untuk anak-anak yang mengalami kerauhan kemarin kami tidak ijinkan datang ke sekolah sementa. Kita berikan mereka beristirahat untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis mereka. Kalau sudah siap, baru ikut PTM lagi,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/