alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Diguyur Hujan Lebat, Satu Rumah di Gitgit Diterjang Banjir

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pukul 12.00 wita mendung dengan awan tebal nampak di langit Buleleng. Siang itu turun hujan yang mengguyur kota Singaraja hingga ke bagian Buleleng atas. Selama 2 jam dengan intensitas hujan yang cukup deras membuat gorong-gorong banyak dialiri air dengan volume besar. Tak terkecuali di wilayah Dusun Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Selasa (2/11) satu rumah di wilayah tersebut di rendam banjir. Rumah tersebut milik Komang Budiarta. Air yang menerjang rumah miliknya itu berasal dari gorong-gorong yang tak bisa menampung besarnya air bercampur limbah kayu yang mengalir alias sempit. Padahal gorong-gorong tersebut ukurannya sudah diperbesar dari sebelumnya. Parahnya lagi, limbah hasil pembangunan jalan baru pun turut terbawa air hujan ke gorong-gorong itu. sehingga membuat gorong-gorong meluap dan meluber ke jalan hingga merendam rumah Budiarta.

Saat banjir terjadi, Komang Budiarta tengah tidur di Bale Bengong sebelah rumahnya bersama istri Made Sukerti serta mertua Made Reti. Sementara anaknya Kadek Candra Adi Pratama dan keponakan Gede Putra Aditya tengah tidur di dalam rumah. Tiba-tiba air telah menerjang rumahnya. Banjir setinggi pinggang orang dewasa itu pun tak dapat dibendung lagi. Sejumlah perabotan rumah tangga rusak akibat direndam air. “Pagar rumah saya jebol. Kira-kira tingginya satu meter. Kasur saya rusak semua. Sudah saya buang. Ada dua kasur yang terbuang. Sudah tidak bisa dipakai lagi,” kata Budiarta saat ditemui di rumahnya.

Sekitar pukul 16.00 wita air mulai surut dan hujan berhenti. Keluarga Budiarta bergotong-royong membersihkan lumpur akibat banjir. Begitu juga dengan reruntuhan pagar yang rusak. “Sudah surut tadi airnya. Untung di belakang rumah saya itu jurang dan ada pembuangan ke sana. Jadi cepat surutnya,” tutur Made Sukerti menimpali Budiarta.

Rumah milik Budiarta ini memang menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Tak tanggung-tanggung, air yang merendam rumahnya pun selalu dengan volume besar. Ia menceritakan setahun lalu saat hujan, rumahnya juga terendam banjir setinggi 60 sentimeter hingga masuk ke dalam rumah. Sebelumnya pun ketika hujan turun, Bale Bengong yang ia bangun berdampingan dengan rumahnya tergerus longsor dan hanyut ke jurang. Budiarta pun tak bisa berbuat banyak selain harus bertahan. “Saya tidak memiliki lahan lagi selain di sini. Kalau saya punya lahan di tempat lain saya memilih untuk pindah dari sini. Karena jujur saja saya sudah lelah. Tidur selalu tidak nyenyak ketika hujan. Bergadang serperti orang punya bayi. Capek sekali rasanya selalu begitu. Tapi mau bagaimana lagi,” ungkapnya.

Setiap musim hujan turun, memang rumah Budiarta tak bisa terhindar dari musibah banjir. Hal itu dikarenakan posisi rumah Budiarta lebih rendah dari posisi jalan dan gorong-gorong. “Posisi rumahnya ini di bawah. Sementara gorong-gorongnya lebih di atas dengan jalannya. Terlebih saat hujan, air yang mengalir dari atas pasti lebih besar. Dan pasti membawa limbah-limbah dari kebun warga. Entah itu potongan kayu atau yang lainnya. Akibatnya gorong-gorong tersembat, air meluber dan sampailah ke rumah warga kami ini,” kata Perbekel Desa Gitgit, Putu Arcana.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pukul 12.00 wita mendung dengan awan tebal nampak di langit Buleleng. Siang itu turun hujan yang mengguyur kota Singaraja hingga ke bagian Buleleng atas. Selama 2 jam dengan intensitas hujan yang cukup deras membuat gorong-gorong banyak dialiri air dengan volume besar. Tak terkecuali di wilayah Dusun Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Selasa (2/11) satu rumah di wilayah tersebut di rendam banjir. Rumah tersebut milik Komang Budiarta. Air yang menerjang rumah miliknya itu berasal dari gorong-gorong yang tak bisa menampung besarnya air bercampur limbah kayu yang mengalir alias sempit. Padahal gorong-gorong tersebut ukurannya sudah diperbesar dari sebelumnya. Parahnya lagi, limbah hasil pembangunan jalan baru pun turut terbawa air hujan ke gorong-gorong itu. sehingga membuat gorong-gorong meluap dan meluber ke jalan hingga merendam rumah Budiarta.

Saat banjir terjadi, Komang Budiarta tengah tidur di Bale Bengong sebelah rumahnya bersama istri Made Sukerti serta mertua Made Reti. Sementara anaknya Kadek Candra Adi Pratama dan keponakan Gede Putra Aditya tengah tidur di dalam rumah. Tiba-tiba air telah menerjang rumahnya. Banjir setinggi pinggang orang dewasa itu pun tak dapat dibendung lagi. Sejumlah perabotan rumah tangga rusak akibat direndam air. “Pagar rumah saya jebol. Kira-kira tingginya satu meter. Kasur saya rusak semua. Sudah saya buang. Ada dua kasur yang terbuang. Sudah tidak bisa dipakai lagi,” kata Budiarta saat ditemui di rumahnya.

Sekitar pukul 16.00 wita air mulai surut dan hujan berhenti. Keluarga Budiarta bergotong-royong membersihkan lumpur akibat banjir. Begitu juga dengan reruntuhan pagar yang rusak. “Sudah surut tadi airnya. Untung di belakang rumah saya itu jurang dan ada pembuangan ke sana. Jadi cepat surutnya,” tutur Made Sukerti menimpali Budiarta.

Rumah milik Budiarta ini memang menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Tak tanggung-tanggung, air yang merendam rumahnya pun selalu dengan volume besar. Ia menceritakan setahun lalu saat hujan, rumahnya juga terendam banjir setinggi 60 sentimeter hingga masuk ke dalam rumah. Sebelumnya pun ketika hujan turun, Bale Bengong yang ia bangun berdampingan dengan rumahnya tergerus longsor dan hanyut ke jurang. Budiarta pun tak bisa berbuat banyak selain harus bertahan. “Saya tidak memiliki lahan lagi selain di sini. Kalau saya punya lahan di tempat lain saya memilih untuk pindah dari sini. Karena jujur saja saya sudah lelah. Tidur selalu tidak nyenyak ketika hujan. Bergadang serperti orang punya bayi. Capek sekali rasanya selalu begitu. Tapi mau bagaimana lagi,” ungkapnya.

Setiap musim hujan turun, memang rumah Budiarta tak bisa terhindar dari musibah banjir. Hal itu dikarenakan posisi rumah Budiarta lebih rendah dari posisi jalan dan gorong-gorong. “Posisi rumahnya ini di bawah. Sementara gorong-gorongnya lebih di atas dengan jalannya. Terlebih saat hujan, air yang mengalir dari atas pasti lebih besar. Dan pasti membawa limbah-limbah dari kebun warga. Entah itu potongan kayu atau yang lainnya. Akibatnya gorong-gorong tersembat, air meluber dan sampailah ke rumah warga kami ini,” kata Perbekel Desa Gitgit, Putu Arcana.


Most Read

Artikel Terbaru

/