alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Jalan Gajah Mada Kini Dihiasi Patung Sang Kala Tri Semaya

DENPASAR, BALI EXPRESS – Bagi masyarakat Kota Denpasar yang melintasi kawasan Jalan Gajah Mada, terutama di depan Pasar Kumbasari, kini bakal disuguhkan patung berukuran cukup besar yang berdiri megah. Sepasang patung itu bertema Sang Kala Tri Semaya. Patung ini selesai digarap pada 29 November lalu, dan baru dipasang 30 November malam. Butuh waktu dua jam untuk proses pemasangan satu buah patung agar berdiri dengan baik.

Hasil karya seni tersebut merupakan buah tangan seniman Kota Denpasar I Nyoman Gede Sentana Putra atau yang akrab disapa Kedux. Ia mengaku menyelesaikan patung ini selama tiga bulan, dibantu rekan-rekannya dari Tabanan serta Gianyar. Ia sendiri didaulat membuat patung atas permintaan pembuat desain Pasar Kumbasari yakni Ketut Siandana. “Patung Sang Kala Tri Semaya saya pilih karena bagi saya jembatan atau jalan ini lalu lintas orang-orang. Jumlah kala ini sebenarnya yakni 108, dan diambil dua dari 108 bentuk tersebut, dan direalisasikan menjadi patung,” ujar Kedux.

“Saya ambil yang bentuk fisik raksasa, tapi mendekati anatomi manusia. Kemudian aksesorisnya tidak ada gelungan, karena sesuai penempatannya. Berbeda jika dengan di pura, wajib ada gelungannya,” sambung Kedux.

Dan yang paling ditekankannya adalah karakter patung tersebut. Ciri khas Bebadungan adalah yang ditonjolkannya. Oleh karena itu, ia harus mencaritahu perbedaan style boma Denpasar atau Bebadungan dengan Gianyar dalam rentan waktu tahun 1940-an hingga tahun 1970-an.

Bagi Kedux, karakter Denpasar khususnya Bebadungan harus tetap dipertahankan dan diangkat agar tidak hilang. Dan juga sebagai salah satu bentuk mempertahankan karakter dari nenek moyang yang telah diwariskan.

Bagi Kedux, membuat patung adalah tantangan baru. Memang, selama ini ia dikenal sebagai seniman pembuat ogoh-ogoh yang terkenal di Bali, tapi membuat patung adalah pertama baginya. “Awalnya saya berpikir boma itu sederhana. Tapi setelah saya buat banyak hal yang harus dipelajari. Misalnya tangan kanan memegang senjata, kemudian kaki kirinya naik, dan sebagainya,” ungkap Kedux.

Ia mengaku tak seluruh patung ia kerjakan sendiri. Kedux yang bertugas membuat bentuknya dan proporsi patung, sementara teman-temannya membuat ukiran aksesorisnya. Mengingat mepetnya waktu pembuatan.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Bagi masyarakat Kota Denpasar yang melintasi kawasan Jalan Gajah Mada, terutama di depan Pasar Kumbasari, kini bakal disuguhkan patung berukuran cukup besar yang berdiri megah. Sepasang patung itu bertema Sang Kala Tri Semaya. Patung ini selesai digarap pada 29 November lalu, dan baru dipasang 30 November malam. Butuh waktu dua jam untuk proses pemasangan satu buah patung agar berdiri dengan baik.

Hasil karya seni tersebut merupakan buah tangan seniman Kota Denpasar I Nyoman Gede Sentana Putra atau yang akrab disapa Kedux. Ia mengaku menyelesaikan patung ini selama tiga bulan, dibantu rekan-rekannya dari Tabanan serta Gianyar. Ia sendiri didaulat membuat patung atas permintaan pembuat desain Pasar Kumbasari yakni Ketut Siandana. “Patung Sang Kala Tri Semaya saya pilih karena bagi saya jembatan atau jalan ini lalu lintas orang-orang. Jumlah kala ini sebenarnya yakni 108, dan diambil dua dari 108 bentuk tersebut, dan direalisasikan menjadi patung,” ujar Kedux.

“Saya ambil yang bentuk fisik raksasa, tapi mendekati anatomi manusia. Kemudian aksesorisnya tidak ada gelungan, karena sesuai penempatannya. Berbeda jika dengan di pura, wajib ada gelungannya,” sambung Kedux.

Dan yang paling ditekankannya adalah karakter patung tersebut. Ciri khas Bebadungan adalah yang ditonjolkannya. Oleh karena itu, ia harus mencaritahu perbedaan style boma Denpasar atau Bebadungan dengan Gianyar dalam rentan waktu tahun 1940-an hingga tahun 1970-an.

Bagi Kedux, karakter Denpasar khususnya Bebadungan harus tetap dipertahankan dan diangkat agar tidak hilang. Dan juga sebagai salah satu bentuk mempertahankan karakter dari nenek moyang yang telah diwariskan.

Bagi Kedux, membuat patung adalah tantangan baru. Memang, selama ini ia dikenal sebagai seniman pembuat ogoh-ogoh yang terkenal di Bali, tapi membuat patung adalah pertama baginya. “Awalnya saya berpikir boma itu sederhana. Tapi setelah saya buat banyak hal yang harus dipelajari. Misalnya tangan kanan memegang senjata, kemudian kaki kirinya naik, dan sebagainya,” ungkap Kedux.

Ia mengaku tak seluruh patung ia kerjakan sendiri. Kedux yang bertugas membuat bentuknya dan proporsi patung, sementara teman-temannya membuat ukiran aksesorisnya. Mengingat mepetnya waktu pembuatan.


Most Read

Artikel Terbaru

/