alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

26 Ekor Sapi Milik Simantri Merta Diuma Positif Terjangkit Virus PMK

GIANYAR, BALI EXPRESS – 26 ekor sapi yang terdiri dari 20 ekor indukan dan 6 ekor Godel (anakan sapi,Red) peliharaan Simantri Merta Diuma, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar positif terjangkit virus PMK (penyakit mulut dan kuku). Kondisi itu pun membuat para petani harus mengikhlaskan puluhan ekor sapi itu untuk dipotong guna memutus rantai penyebaran virus. Petani pun diprediksi mengalami kerugian mencapai ratudan juta rupiah.

Sebab sapi yang kondisinya sehat harganya ditaksir mencapai Rp 12 Juta. Para petani pun tak bisa berbuat banyak. Setelah sapi yang terkena PMK dipotong, kandang sapi di Simantri itu pun harus dikosongkan selama 3 bulan kedepan agar benar-benar steril.

Salah seorang petani yang merupakan anggota Simantri Merta Diuma Desa Medahan, I Nyoman Sudiarsa mengatakan bahwa gejala virus PMK menyerang ternak sapi di Simantri tersebut telah dirasakan awal bulan Juni 2022. “Yang jelas sebelum Galungan sapi disini itu mulai tidak mau makan,” ujarnya.

Kemudian, kata dia berselang dua hari, dari mulut sapi-sapi tersebut keluar busa dan ada yang kukunya lepas. Semakin hari, kondisi sapi yang mengalami gejala itu bertambah sampai akhirnya menjangkiti ke 20 ekor indukan dan 6 ekor godel. “Selang dua hari mulutnya berbusa, kemudian juga kukunya lepas. Tiap dua hari, virus ini menular sehingga seluruhnya 20 indukan dan 6 Godel gejalanya sama,” imbuhnya.

Pihaknya sendiri tidak bisa memastikan bagaimana sampai sapi di Simantri tersebut bisa terjangkit virus PMK. Hanya saja seingatnya virus PMK itu sebelumnya terdeteksi di kelompok peternak di kawasan Selukat, Desa Keramas, yang jaraknya tidak begitu jauh dari  Simantri Merta Diuma.

Baca Juga :  Pastika Sepakat Pulangkan Pengungsi, Setidaknya di Luar Radius 6 Km

Dimana kondisi ternak sapi dilokasi itu bahkan sampai tidak bisa berjalan. “Kita tidak tahu bagaimana pastinya penularannya, kemungkinan ada petani di sini tengok sapi ke sana atau bagaimana. Yang jelas awalnya kena satu sapi kemudian menular ke sapi lainnya,” terangnya.

Petani yang juga Staff Bagian Organisasi Pemkab Gianyar itu pun menambahkan jika atas kondisi tersebut pihaknya kemudian melaporkan ke Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Tim dari Kementerian Pertanian pun sempat turun melakukan pengecekan. Kata dia saat itu pengecekan dan pertemuan dilakukan secara tertutup agar petani lain tidak panik.

Dimana hasil pertemuan disepakati untuk melakukan tindakan stumping out atau pemotongan paksa terhadap sapi-sapi yang terjangkit virus tersebut. Meskipun berat, para petani merelakan sapinya sehingga kemudian sapi-sapi diangkut naik truk untuk disembelih di Rumah Potong Hewan Mambal, Kecamatan Abiansemal, Badung. “Petani disini bisa dikatakan sangat baik, rela sapi mereka dipotong paksa demi memutus penyebaran virus. Kalau ada yang saklek, mungkin saja mereka akan tetap merawat sapi-sapi itu meskipun akhirnya mati,” jelasnya.

Proses menaikkan sapi ke atas truk, menurutnya cukup dramatis karena ada sapi yang tidak bisa berdiri, sehingga harus didorong dan diangkat. Dan setelah sampai di rumah potong, Sudiarsa sendiri menyaksikan langsung proses stumping out tersebut. “Saya lihat disana kepala sapi dibelah untuk diambil sampel otak kemudian diuji lab. Lalu kulit-kulitnya dibakar,” lanjutnya.

Baca Juga :  Atasi PMK, Polda Bali Bentuk Satgas Bareng Pemprov

Dan kini kandang sapi Simantri Merta Diuma harus dikosongkan selama 3 bulan kedepan. Sembari para petani menunggu pembayaran dari sapi-sapi yang dipotong paksa tersebut. Dimana para petani akan menggunakan uang pembayaran sapi itu untuk membeli sapi lagi. Meskipun nilai pembayaran belum diketahui oleh para petani.

“Yang pasti jauh dari harga normal sapi dalam kondisi sehat. Tapi ya berapapun itu pasti sangat membantu petani untuk memelihara sapi kembali. Karena kalau tidak kena virus godel-godel ini sudah bersiap untuk dijual. Pembeli yang langsung datang ke sini. Minimal harga godel jantan Rp 7 juta,” tandasnya.

Sementara itu,  berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium sudah 63 ekor sapi yang positif PMK di Bali. 63 ekor sapi tersebut tersebar di 3 lokasi, yakni di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng 21 ekor, di Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar 38 ekor dan di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem sebanyak 4 ekor.

Untuk di Kabupaten Gianyar, 38 ekor tersebut terdiri dari 26 ekor sapi di Simantri Merta Diuma, juga ada 12 sapi peternak lain di Desa Medahan yang juga terjangkit.

Hal itu pun dibenarkan oleh Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Santiarka. Ia menjelaskan jika di Medahan, sapi yang sakit hanya 17 ekor namun karena dalam 1 kandang dan berdekatan maka sudah pasti akan tertular sehingga tinggal menunggu waktu saja. “Maka segera dilakukan pemusnahan sebanyak 38 ekor dan itu sapi atas nama kelompok,” ujarnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – 26 ekor sapi yang terdiri dari 20 ekor indukan dan 6 ekor Godel (anakan sapi,Red) peliharaan Simantri Merta Diuma, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar positif terjangkit virus PMK (penyakit mulut dan kuku). Kondisi itu pun membuat para petani harus mengikhlaskan puluhan ekor sapi itu untuk dipotong guna memutus rantai penyebaran virus. Petani pun diprediksi mengalami kerugian mencapai ratudan juta rupiah.

Sebab sapi yang kondisinya sehat harganya ditaksir mencapai Rp 12 Juta. Para petani pun tak bisa berbuat banyak. Setelah sapi yang terkena PMK dipotong, kandang sapi di Simantri itu pun harus dikosongkan selama 3 bulan kedepan agar benar-benar steril.

Salah seorang petani yang merupakan anggota Simantri Merta Diuma Desa Medahan, I Nyoman Sudiarsa mengatakan bahwa gejala virus PMK menyerang ternak sapi di Simantri tersebut telah dirasakan awal bulan Juni 2022. “Yang jelas sebelum Galungan sapi disini itu mulai tidak mau makan,” ujarnya.

Kemudian, kata dia berselang dua hari, dari mulut sapi-sapi tersebut keluar busa dan ada yang kukunya lepas. Semakin hari, kondisi sapi yang mengalami gejala itu bertambah sampai akhirnya menjangkiti ke 20 ekor indukan dan 6 ekor godel. “Selang dua hari mulutnya berbusa, kemudian juga kukunya lepas. Tiap dua hari, virus ini menular sehingga seluruhnya 20 indukan dan 6 Godel gejalanya sama,” imbuhnya.

Pihaknya sendiri tidak bisa memastikan bagaimana sampai sapi di Simantri tersebut bisa terjangkit virus PMK. Hanya saja seingatnya virus PMK itu sebelumnya terdeteksi di kelompok peternak di kawasan Selukat, Desa Keramas, yang jaraknya tidak begitu jauh dari  Simantri Merta Diuma.

Baca Juga :  Sejak Kecil Tersangka Pembunuh Teller Bank Memang Suka Mencuri

Dimana kondisi ternak sapi dilokasi itu bahkan sampai tidak bisa berjalan. “Kita tidak tahu bagaimana pastinya penularannya, kemungkinan ada petani di sini tengok sapi ke sana atau bagaimana. Yang jelas awalnya kena satu sapi kemudian menular ke sapi lainnya,” terangnya.

Petani yang juga Staff Bagian Organisasi Pemkab Gianyar itu pun menambahkan jika atas kondisi tersebut pihaknya kemudian melaporkan ke Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Tim dari Kementerian Pertanian pun sempat turun melakukan pengecekan. Kata dia saat itu pengecekan dan pertemuan dilakukan secara tertutup agar petani lain tidak panik.

Dimana hasil pertemuan disepakati untuk melakukan tindakan stumping out atau pemotongan paksa terhadap sapi-sapi yang terjangkit virus tersebut. Meskipun berat, para petani merelakan sapinya sehingga kemudian sapi-sapi diangkut naik truk untuk disembelih di Rumah Potong Hewan Mambal, Kecamatan Abiansemal, Badung. “Petani disini bisa dikatakan sangat baik, rela sapi mereka dipotong paksa demi memutus penyebaran virus. Kalau ada yang saklek, mungkin saja mereka akan tetap merawat sapi-sapi itu meskipun akhirnya mati,” jelasnya.

Proses menaikkan sapi ke atas truk, menurutnya cukup dramatis karena ada sapi yang tidak bisa berdiri, sehingga harus didorong dan diangkat. Dan setelah sampai di rumah potong, Sudiarsa sendiri menyaksikan langsung proses stumping out tersebut. “Saya lihat disana kepala sapi dibelah untuk diambil sampel otak kemudian diuji lab. Lalu kulit-kulitnya dibakar,” lanjutnya.

Baca Juga :  Bawa Psilosin dan LSD, Fotografer Rusia Hanya Dituntut 20 Bulan

Dan kini kandang sapi Simantri Merta Diuma harus dikosongkan selama 3 bulan kedepan. Sembari para petani menunggu pembayaran dari sapi-sapi yang dipotong paksa tersebut. Dimana para petani akan menggunakan uang pembayaran sapi itu untuk membeli sapi lagi. Meskipun nilai pembayaran belum diketahui oleh para petani.

“Yang pasti jauh dari harga normal sapi dalam kondisi sehat. Tapi ya berapapun itu pasti sangat membantu petani untuk memelihara sapi kembali. Karena kalau tidak kena virus godel-godel ini sudah bersiap untuk dijual. Pembeli yang langsung datang ke sini. Minimal harga godel jantan Rp 7 juta,” tandasnya.

Sementara itu,  berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium sudah 63 ekor sapi yang positif PMK di Bali. 63 ekor sapi tersebut tersebar di 3 lokasi, yakni di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng 21 ekor, di Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar 38 ekor dan di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem sebanyak 4 ekor.

Untuk di Kabupaten Gianyar, 38 ekor tersebut terdiri dari 26 ekor sapi di Simantri Merta Diuma, juga ada 12 sapi peternak lain di Desa Medahan yang juga terjangkit.

Hal itu pun dibenarkan oleh Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Santiarka. Ia menjelaskan jika di Medahan, sapi yang sakit hanya 17 ekor namun karena dalam 1 kandang dan berdekatan maka sudah pasti akan tertular sehingga tinggal menunggu waktu saja. “Maka segera dilakukan pemusnahan sebanyak 38 ekor dan itu sapi atas nama kelompok,” ujarnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/