alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Maestro Topeng I Made Regug Berpulang

GIANYAR, BALI EXPRESS – Gianyar kembali harus kehilangan seorang senimannya. I Made Regug, seniman pelestari topeng asal Banjar Lantangidung, Desa Dinas Batuan Kecamatan Sukawati, Gianyar, tutup usia akibat penyakit diabetes yang dideritanya.

Pria berusia 86 tahun itu meninggal dunia pada hari Sabtu (31/7) sekitar pukul 14.00 WITA di IGD RSUD Sanjiwani Gianyar. Kepergian Regug pun meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta kerabatnya. Tak terkecuali masyarakat Gianyar yang mengetahui dedikasinya pada seni.

Cucu almarhum I Made Regug, Made Wiradana mengaku tak menyangka jika sang kakek akan meninggalkannya secepat ini. Apalagi sehari sebelum meninggal, kakeknya itu masih beraktifitas seperti biasa. Bahkan pagi harinya kakeknya sempat memandikan ayam. “Karena punya sakit diabetes, kakek juga rutin menyuntik insulin sendiri ke tubuhnya setiap sebelum makan, dan itu masih dilakukan kakek sehari sebelum meninggal,” paparnya Minggu (1/8). 

Sampai akhirnya pada hari Jumat sore (31/7), sang kakek tiba-tiba lemas  sehingga harus dilarikan ke IGD RSUD Sanjiwani. Sayangnya, belum sempat pindah ke ruang rawat inap, I Made Regug dinyatalan telah tiada oleh tim medis sekitar pukul 14.00 WITA.

Pria yang juga Kelian Dusun Banjar Lantangidung itu menambahkan jika kakeknya selama ini memang menderita penyakit diabetes, namun disela-sela waktu senggangnya Regug masih sempat mengutak-atik topeng miliknya. “Tapi kakek taat dalam hal berobat, bahkan beliau sendiri yang menyuntikkan insulin sebelum makan, semangatnya tinggi,” bebernya.

Semangat itu lah yang selalu melekat dihati dan fikiran Wiradana. Meskipun begitu, ia mengaku jika keluarga telah mengikhlaskan kepergian Made Regug. Dan sesuai dengan adat setempat, jenazah Regug dikubur di Setra Adat Lantangidung pada Minggu sore (1/8). Regug pergi dengan meninggalkan 6 orang anak. Sedangkan sang istri telah mendahuluinya berpulang.

Lebih lanjut, Wiradana menceritakan jika meskipun sudah renta, I Made Regug tetap aktif berkarya. Bahkan atas dedikasinya di bidang seni, Regug beberapa kali memperoleh penghargaan. Seperti penghargaan Tokoh Pelestari Topeng tahun 2015 dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar sebagai Pembuat dan Penari Topeng.

Penerima Piagam Wijaya Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar tahun 2001 atas pengabdian dalam mengemban, membina dan mengembangkan seni tari. 

Regug bahkan berkesempatan pentas pada pelaksanaan PKB pertama kali pada tahun 1974 dan meraih juara I kategori Tapel Putri. Kemudian tahun 1984 meraih juara II Tapel Bondres. Juga pernah pentas ke berbagai wilayah di Bali, mulai dari Surabaya, Lombok dan Jepang sekitar tahun 2000-an dalam kegiatan festival Topeng. Serta menjadi peserta Pameran Bali Kandarupa PKB XLIII Tahun 2021. 

“Kakek juga masih sering diminta untuk membuat topeng yang dipergunakan untuk Sesuhunan maupun Topeng untuk pementasan,” sambungnya.

Kini kegiatannya ‘Nopeng’ diteruskan oleh anak ketiganya I Nyoman Setiawan yang meneruskan kesenian topeng tinggal terpisah namun masih satu banjar. 

I Made Regug sendiri sejak tahun 1974 sudah mulai menari Topeng Pajegan bersama seniman Topeng lawas seperti Made Kakul. Ketika masih muda, Regug belajar membuat dan menari topeng secara otodidak dari banyak guru di Batuan dan di Singapadu. Sampai kemudian berbagai  jenis tapelbisa ia buat dengan ekspresi yang begitu kuat. Sebut saja misalnya tapel Dedalem, Rangda, Pasung Grigis, Gajah Mada, Tapel Luh, hingga Bebondresan. 

Yang membuat tapel hasil karya Made Regug memiliki nilai seni tinggi adalah karena menggunakan pewarna alami. Namun perhatian pemerintah terhadap Regug masih minim.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Gianyar kembali harus kehilangan seorang senimannya. I Made Regug, seniman pelestari topeng asal Banjar Lantangidung, Desa Dinas Batuan Kecamatan Sukawati, Gianyar, tutup usia akibat penyakit diabetes yang dideritanya.

Pria berusia 86 tahun itu meninggal dunia pada hari Sabtu (31/7) sekitar pukul 14.00 WITA di IGD RSUD Sanjiwani Gianyar. Kepergian Regug pun meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta kerabatnya. Tak terkecuali masyarakat Gianyar yang mengetahui dedikasinya pada seni.

Cucu almarhum I Made Regug, Made Wiradana mengaku tak menyangka jika sang kakek akan meninggalkannya secepat ini. Apalagi sehari sebelum meninggal, kakeknya itu masih beraktifitas seperti biasa. Bahkan pagi harinya kakeknya sempat memandikan ayam. “Karena punya sakit diabetes, kakek juga rutin menyuntik insulin sendiri ke tubuhnya setiap sebelum makan, dan itu masih dilakukan kakek sehari sebelum meninggal,” paparnya Minggu (1/8). 

Sampai akhirnya pada hari Jumat sore (31/7), sang kakek tiba-tiba lemas  sehingga harus dilarikan ke IGD RSUD Sanjiwani. Sayangnya, belum sempat pindah ke ruang rawat inap, I Made Regug dinyatalan telah tiada oleh tim medis sekitar pukul 14.00 WITA.

Pria yang juga Kelian Dusun Banjar Lantangidung itu menambahkan jika kakeknya selama ini memang menderita penyakit diabetes, namun disela-sela waktu senggangnya Regug masih sempat mengutak-atik topeng miliknya. “Tapi kakek taat dalam hal berobat, bahkan beliau sendiri yang menyuntikkan insulin sebelum makan, semangatnya tinggi,” bebernya.

Semangat itu lah yang selalu melekat dihati dan fikiran Wiradana. Meskipun begitu, ia mengaku jika keluarga telah mengikhlaskan kepergian Made Regug. Dan sesuai dengan adat setempat, jenazah Regug dikubur di Setra Adat Lantangidung pada Minggu sore (1/8). Regug pergi dengan meninggalkan 6 orang anak. Sedangkan sang istri telah mendahuluinya berpulang.

Lebih lanjut, Wiradana menceritakan jika meskipun sudah renta, I Made Regug tetap aktif berkarya. Bahkan atas dedikasinya di bidang seni, Regug beberapa kali memperoleh penghargaan. Seperti penghargaan Tokoh Pelestari Topeng tahun 2015 dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar sebagai Pembuat dan Penari Topeng.

Penerima Piagam Wijaya Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar tahun 2001 atas pengabdian dalam mengemban, membina dan mengembangkan seni tari. 

Regug bahkan berkesempatan pentas pada pelaksanaan PKB pertama kali pada tahun 1974 dan meraih juara I kategori Tapel Putri. Kemudian tahun 1984 meraih juara II Tapel Bondres. Juga pernah pentas ke berbagai wilayah di Bali, mulai dari Surabaya, Lombok dan Jepang sekitar tahun 2000-an dalam kegiatan festival Topeng. Serta menjadi peserta Pameran Bali Kandarupa PKB XLIII Tahun 2021. 

“Kakek juga masih sering diminta untuk membuat topeng yang dipergunakan untuk Sesuhunan maupun Topeng untuk pementasan,” sambungnya.

Kini kegiatannya ‘Nopeng’ diteruskan oleh anak ketiganya I Nyoman Setiawan yang meneruskan kesenian topeng tinggal terpisah namun masih satu banjar. 

I Made Regug sendiri sejak tahun 1974 sudah mulai menari Topeng Pajegan bersama seniman Topeng lawas seperti Made Kakul. Ketika masih muda, Regug belajar membuat dan menari topeng secara otodidak dari banyak guru di Batuan dan di Singapadu. Sampai kemudian berbagai  jenis tapelbisa ia buat dengan ekspresi yang begitu kuat. Sebut saja misalnya tapel Dedalem, Rangda, Pasung Grigis, Gajah Mada, Tapel Luh, hingga Bebondresan. 

Yang membuat tapel hasil karya Made Regug memiliki nilai seni tinggi adalah karena menggunakan pewarna alami. Namun perhatian pemerintah terhadap Regug masih minim.


Most Read

Artikel Terbaru

/