Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Bali
icon featured
Bali

Desa Sanggalangit Kembangkan Wisata Kampung Bandeng

03 September 2021, 18: 14: 09 WIB | editor : Nyoman Suarna

Desa Sanggalangit Kembangkan Wisata Kampung Bandeng

Perbekel Desa Sanggalangit, Nyoman Sudika. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

GEROKGAK BALI EXPRESS-Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak mengembangkan Kampung Bandeng sebagai lokomotif ekonomi di wilayah tersebut. Program yang dirancang sejak tahun 2020 ini digadang-gadang menjadi destinasi wisata baru di Sanggalangit

Perbekel Sanggalangit, Nyoman Sudika mengatakan pengelolaan kampung bandeng ini dirancang menjadi destinasi wisata terintegrasi dengan pertanian. Pembentukan badan usaha ini dilakukan untuk mengkatrol Pendapatan Asli Desa (PAD) Sanggalangit.

“Kami menganggarkan lewat APBDes untuk penataan di lapangan. Setelah itu di kolam-kolam sudah dipelihara hampir 50 ribu anakan bandeng atau nener yang sudah berkembang,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Baca juga: Makin Modern, Pasar Gianyar Akan Dilengkapi Rooftop Panel Surya

Bandeng yang telah dipanen inipun sudah siap diserap oleh Ibu rumah tangga yang tergabung dalam Poklasar atau Kelompok Pengolah dan Pemasar. Merekalah yang akan mengolah bandeng menjadi makanan siap saji.

Seperti bandeng presto, rengginang, bakso, hingga abon dan bentuk olahan yang bernilai ekonomis lainnya. Produk ini akan dipasarkan di rumah makan yang ada di sekitaran Desa Sanggalangit maupun luar desa.

Sedangkan untuk agrowisata, Desa Sanggalangit memiliki areal pertanian beragam jenis buah-buahan milik warga. Seperti jeruk, jambu Kristal hingga anggur hijau. Total lahan yang ditanami buah-buahan tersebut luasnya mencapai 20 hektar. Wisata terintegrasi kian mantap setelah didukung dengan destinasi wisata kolam renang Srikandi.

“Inilah alasan kami untuk mengembangkan kampung Badeng. Apalagi Kecamatan Gerokgak terkenal sebagai penghasil Bandeng terbesar di Indonesia. Ketika benur berkembang terlalu banyak, maka bisa kami beli di petani, sehingga menguntungkan petani,” imbuhnya.

Kampung Bandeng sebut Sudika akan dikelola oleh Bumdes Sanggalangit. Saat ini yang terlibat di lapangan sebanyak enam orang. Sedangkan pengelolaan bandeng yang dipanen melibatkan 20 orang Ibu rumah tangga. Mereka sudah dilatih oleh Dinas Perikanan Buleleng untuk tata cara teknis pengolahan bandeng.

Lahan seluas 50 are yang digunakan untuk budidaya bandeng merupakan milik desa adat. Pihaknya pun mengaku sudah ada negosiasi dengan desa adat Sanggalangit untuk bekerjasama pengelolaan asset menjadi usaha desa. “Jika berhasil, baru ada prosentase, dari desa dinas, desa adat dan pengelola,” paparnya.

Seperti diketahui, budidaya bandeng di Desa Sanggalangit sudah berkembang sejak sebelum tahun 2000-an hingga eksis sampai sekarang. Yang menggembirakan, usaha ini justru tidak terkena dampak pandemi Covid-19. Pasalnya ekspor benur dan bandeng berjalan lancar. Sehingga masyarakat Sanggalangit tetap bisa bekerja.

Secara umum bandeng di Sanggalangit memang dikelola oleh investor. Ada juga skala rumah tangga dari warga kami yang berusaha mencari modal. “Dari telur ditetaskan, kemudian umur 20 hari sudah bisa panen benur. Setelah itu kami minta ditebar di pembesaran bandeng bisa dipanen selama 6 bulan,” pungkasnya. 

(bx/dik/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia