alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Diduga Cemarkan Nama Baik, Penggugat Tanah Guwang Dilaporkan Warga

GIANYAR, BALI EXPRESS – Sengketa tanah antara Desa Adat Guwang dengan salah seorang warga bernama I Ketut Gde Dharma Putra terus bergulir bak bola panas. Sebab setelah mediasi ‘deadlock’ atau tidak menemukan kesepakatan, kini penggugat justru dilaporkan oleh sejumlah warga Desa Guwang atas dugaan pencemaran nama baik. Bahkan pelaporan yang bersifat pengaduan masyarakat (dumas) tersebut telah dilayangkan ke Mapolres Gianyar, Sabtu (2/10). 

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pelaporan itu bermula ketika pada hari Rabu 29 September 2021 sekitar pukul 17.00 WITA, dilaksanakan paruman (rapat) Kertha Desa Guwang yang bertempat di Wantilan Pura Dalem Guwang.

Dalam paruman berisikan agenda mendengarkan klarifikasi atas dugaan keterlibatan salah seorang warga, yakni I Made Purnawirawan asal Banjar Sakih, Guwang terhadap gugatan atas tanah Desa Adat Guwang karena telah menimbulkan kegaduhan di tingkat masyarakat adat di Desa Guwang. Pada kesempatan itu, diputarlah rekaman percakapan telpon antara I Kadek Mardika (anak dari I Made Purnawirawan) dengan terlapor (I Ketut Gde Dharma Putra) yang durasinya sekitar 49 menit, 53 detik. Namun ternyata dalam rekaman percakapan tersebut terdapat perkataan-perkataan dari terlapor yang menimbulkan ketersinggungan dari masyarakat Desa Guwang dan Prajuru Desa Adat Guwang karena banyak masyarakat yang ikut menyaksikan paruman dan mendengarkan rekaman tersebut.

Adapun perkataan yang menurut masyarakat menghina yaitu, Guwang mengusik PPM (Pemuda Panca Marga), Desa Guwang berurusan dengan Negara, Guwang mengusik pendiri PPM karena tanah (obyek sengketa) dari pendiri PPM, karakter rata-rata penduduk Desa Guwang gampang terprovokasi, Bendesa Arogan, keneh-keneh ibane. Bendesa menggiring opini. Bendesa mengompori (masyarakat), masyarakat di provokasi, dan lainnya. 

Maka dari itu masyarakat Desa Guwang secara bersama-sama melaporkan I Ketut Gde Dharma Putra dan mendatangi SPKT Polres Gianyar guna dilakukan proses lebih lanjut. Mereka menuntut agar dugaan penghinaan tersebut segera diproses secara hukum.

Terkait hal tersebut, Bendesa Adat Guwang, I Ketut Karben Wardana yang dikonfirmasi terpisah mengaku menyerahkan permasalahan tersebut kepada Kuasa Hukumnya. 

Sedangkan Kuasa Hukum Desa Adat Guwang Made Adi Seraya, membenarkan perihal pelaporan ke Polres Gianyar tersebut. “Memang benar dari pihak Desa Guwang melaporkan terkait adanya dugaan pelanggaran UU ITE, karena masyarakat merasa tersinggung atas rekaman percakapan pembicaraan antara I Ketut Gde Dharma Putra dengan salah satu warga Guwang,” tegasnya.

Ditambahkannya jika saat ini pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pihak kepolisian. “Nanti pihak kepolisian akan memanggil para pihak untuk dimintai keterangan, kita tunggu saja,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Sengketa tanah antara Desa Adat Guwang dengan salah seorang warga bernama I Ketut Gde Dharma Putra terus bergulir bak bola panas. Sebab setelah mediasi ‘deadlock’ atau tidak menemukan kesepakatan, kini penggugat justru dilaporkan oleh sejumlah warga Desa Guwang atas dugaan pencemaran nama baik. Bahkan pelaporan yang bersifat pengaduan masyarakat (dumas) tersebut telah dilayangkan ke Mapolres Gianyar, Sabtu (2/10). 

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pelaporan itu bermula ketika pada hari Rabu 29 September 2021 sekitar pukul 17.00 WITA, dilaksanakan paruman (rapat) Kertha Desa Guwang yang bertempat di Wantilan Pura Dalem Guwang.

Dalam paruman berisikan agenda mendengarkan klarifikasi atas dugaan keterlibatan salah seorang warga, yakni I Made Purnawirawan asal Banjar Sakih, Guwang terhadap gugatan atas tanah Desa Adat Guwang karena telah menimbulkan kegaduhan di tingkat masyarakat adat di Desa Guwang. Pada kesempatan itu, diputarlah rekaman percakapan telpon antara I Kadek Mardika (anak dari I Made Purnawirawan) dengan terlapor (I Ketut Gde Dharma Putra) yang durasinya sekitar 49 menit, 53 detik. Namun ternyata dalam rekaman percakapan tersebut terdapat perkataan-perkataan dari terlapor yang menimbulkan ketersinggungan dari masyarakat Desa Guwang dan Prajuru Desa Adat Guwang karena banyak masyarakat yang ikut menyaksikan paruman dan mendengarkan rekaman tersebut.

Adapun perkataan yang menurut masyarakat menghina yaitu, Guwang mengusik PPM (Pemuda Panca Marga), Desa Guwang berurusan dengan Negara, Guwang mengusik pendiri PPM karena tanah (obyek sengketa) dari pendiri PPM, karakter rata-rata penduduk Desa Guwang gampang terprovokasi, Bendesa Arogan, keneh-keneh ibane. Bendesa menggiring opini. Bendesa mengompori (masyarakat), masyarakat di provokasi, dan lainnya. 

Maka dari itu masyarakat Desa Guwang secara bersama-sama melaporkan I Ketut Gde Dharma Putra dan mendatangi SPKT Polres Gianyar guna dilakukan proses lebih lanjut. Mereka menuntut agar dugaan penghinaan tersebut segera diproses secara hukum.

Terkait hal tersebut, Bendesa Adat Guwang, I Ketut Karben Wardana yang dikonfirmasi terpisah mengaku menyerahkan permasalahan tersebut kepada Kuasa Hukumnya. 

Sedangkan Kuasa Hukum Desa Adat Guwang Made Adi Seraya, membenarkan perihal pelaporan ke Polres Gianyar tersebut. “Memang benar dari pihak Desa Guwang melaporkan terkait adanya dugaan pelanggaran UU ITE, karena masyarakat merasa tersinggung atas rekaman percakapan pembicaraan antara I Ketut Gde Dharma Putra dengan salah satu warga Guwang,” tegasnya.

Ditambahkannya jika saat ini pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pihak kepolisian. “Nanti pihak kepolisian akan memanggil para pihak untuk dimintai keterangan, kita tunggu saja,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/