alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur Diganjar 15 Tahun

TABANAN, BALI EXPRESS – Terdakwa kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur, I Ketut Bina Setiarawan,39, diganjar hukuman berat.

 

Dalam persidangan terakhirnya yang digelar secara tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Tabanan pada Senin (1/11), majelis hakim menjatuhkan hukuman selama 15 tahun penjara.

 

Tidak hanya itu, dia juga diganjar dengan pidana denda sebesar Rp 100 juta subsider enam bulan kurungan.

 

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan di bawah komando Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum), I Dewa Gede Putra Awatara, mengapresiasi putusan tersebut.

 

Pasalnya, putusan yang ditetapkan majelis hakim PN Tabanan itu sejalan dengan tuntutan tim jaksa. Seperti yang disampaikannya pada Selasa (2/11).

 

“Kami mengapresiasi putusan majelis hakim PN Tabanan tersebut yang mengabulkan seluruh tuntutan kami terhadap terdakwa,” sebut Dewa Awatara.

 

Dia menambahkan, putusan itu diharapkan bisa memberikan efek jera bagi predator anak. Sekaligus pelajaran bagi masyarakat untuk memastikan anak-anak mereka terlindungi.

 

“Mudah-mudahan di masyarakat, ini bisa menjadi tolok ukur, bagaimana seharusnya anak-anak diberikan perlindungan,” imbuhnya.

 

Terhadap putusan yang sejalan dengan tuntutan tersebut, pihaknya memastikan diri siap untuk menyanggah segala tudingan terdakwa yang mengaku selama penyidikan di Kepolisian dan Kejaksaan diintimidasi.

 

Terlebih pengakuan tersebut dimunculkan terdakwa dalam nota pembelaan atau pledoi dalam sidang setelah surat tuntutan disampaikan penuntut umum.

 

Pihaknya mengklaim hal tersebut tidak terjadi. Karena selama proses penyidikan sampai berlanjut di kejaksaan, terdakwa disidik oleh petugas wanita. Karena korbannya berstatus anak-anak.

 

Selain karena terdakwa kerap berkelit saat memberikan keterangan, pihaknya juga bersikukuh menuntut 15 tahun penjara karena mempertimbangkan beban psikologis korban yang usianya masih tujuh tahun.

 

“Kalau lihat terdakwa, si anak (korban) ketakutan. Psikologisnya masih trauma,” tukasnya.

 

Sekadar mengingat, dalam perkara ini Bina Setiarawan didakwa melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Tim jaksa mendakwanya secara subsideritas.

 

Pada dakwaan primer, terdakwa disebut melakukan perbuatan pidana sebagaimana ketentuan Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

 

Sedangkan di dakwaan subsider, terdakwa diduga melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul.

 

Hal tersebut seperti ketentuan Pasal 82 ayat (1) dalam undang-undang yang sama juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

 

Baik dakwaan primer maupun subsider tersebut, ancaman hukumannya minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun. Serta denda paling banyak lima miliar rupiah.

 

Sekadar mengingat, kasus ini sebelumnya diproses di Polres Tabanan. Terdakwa sebelumnya dipolisikan oleh ibu korban dan peristiwanya terjadi sekitar akhir April 2021 lalu.

 

Mirisnya lagi, ibu korban memiliki hubungan dekat dengan terdakwa. Itu sebabnya tempat kejadian perkara ada di tempat tinggal korban. Yakni di sebuah kamar kos-kosan di seputaran Kota Tabanan.


TABANAN, BALI EXPRESS – Terdakwa kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur, I Ketut Bina Setiarawan,39, diganjar hukuman berat.

 

Dalam persidangan terakhirnya yang digelar secara tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Tabanan pada Senin (1/11), majelis hakim menjatuhkan hukuman selama 15 tahun penjara.

 

Tidak hanya itu, dia juga diganjar dengan pidana denda sebesar Rp 100 juta subsider enam bulan kurungan.

 

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan di bawah komando Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum), I Dewa Gede Putra Awatara, mengapresiasi putusan tersebut.

 

Pasalnya, putusan yang ditetapkan majelis hakim PN Tabanan itu sejalan dengan tuntutan tim jaksa. Seperti yang disampaikannya pada Selasa (2/11).

 

“Kami mengapresiasi putusan majelis hakim PN Tabanan tersebut yang mengabulkan seluruh tuntutan kami terhadap terdakwa,” sebut Dewa Awatara.

 

Dia menambahkan, putusan itu diharapkan bisa memberikan efek jera bagi predator anak. Sekaligus pelajaran bagi masyarakat untuk memastikan anak-anak mereka terlindungi.

 

“Mudah-mudahan di masyarakat, ini bisa menjadi tolok ukur, bagaimana seharusnya anak-anak diberikan perlindungan,” imbuhnya.

 

Terhadap putusan yang sejalan dengan tuntutan tersebut, pihaknya memastikan diri siap untuk menyanggah segala tudingan terdakwa yang mengaku selama penyidikan di Kepolisian dan Kejaksaan diintimidasi.

 

Terlebih pengakuan tersebut dimunculkan terdakwa dalam nota pembelaan atau pledoi dalam sidang setelah surat tuntutan disampaikan penuntut umum.

 

Pihaknya mengklaim hal tersebut tidak terjadi. Karena selama proses penyidikan sampai berlanjut di kejaksaan, terdakwa disidik oleh petugas wanita. Karena korbannya berstatus anak-anak.

 

Selain karena terdakwa kerap berkelit saat memberikan keterangan, pihaknya juga bersikukuh menuntut 15 tahun penjara karena mempertimbangkan beban psikologis korban yang usianya masih tujuh tahun.

 

“Kalau lihat terdakwa, si anak (korban) ketakutan. Psikologisnya masih trauma,” tukasnya.

 

Sekadar mengingat, dalam perkara ini Bina Setiarawan didakwa melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Tim jaksa mendakwanya secara subsideritas.

 

Pada dakwaan primer, terdakwa disebut melakukan perbuatan pidana sebagaimana ketentuan Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

 

Sedangkan di dakwaan subsider, terdakwa diduga melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul.

 

Hal tersebut seperti ketentuan Pasal 82 ayat (1) dalam undang-undang yang sama juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

 

Baik dakwaan primer maupun subsider tersebut, ancaman hukumannya minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun. Serta denda paling banyak lima miliar rupiah.

 

Sekadar mengingat, kasus ini sebelumnya diproses di Polres Tabanan. Terdakwa sebelumnya dipolisikan oleh ibu korban dan peristiwanya terjadi sekitar akhir April 2021 lalu.

 

Mirisnya lagi, ibu korban memiliki hubungan dekat dengan terdakwa. Itu sebabnya tempat kejadian perkara ada di tempat tinggal korban. Yakni di sebuah kamar kos-kosan di seputaran Kota Tabanan.


Most Read

Artikel Terbaru

/