alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

SAH! MDA Buleleng Putuskan Menunda Pembuatan Ogoh-ogoh

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Majelis Desa adat Kabupaten Buleleng memutuskan untuk menunda pembuatan ogoh-ogoh. Kesemerakan nyepi yang biasanya ditandai dengan pembuatan ogoh-ogoh di setiap banjar di desa, tahun ini ditunda semetara. Hal ini mengingat kasus covid-19 di Kabupaten Buleleng mengalami pengingkatan. Penundaan pembuatan ogoh-ogoh itu dilakukan berdasarkn SE MDA dan Penegasan dari Gubernur Bali. Kepastian itu pun disampaikan pada Jumat (4/2) pagi.

Penyarikan Madya MDA Buleleng, Nyoman Westa menyampaikan, hingga saat ini belum ada desa atau kelurahan yang melaporkan telah melaksanakan pembuatan ogoh-ogoh. Namun laporan yang masuk ke sekretariat MDA hanya perencanaan pembuatan itu. “Kami akan segera bersurat, menunda pembuatan ogoh-ogoh agar tidak menimbulkan kerugian dan kekecewan karena sudah terlanjur buat. Akhirnya menimbulkan keributan. Nanti kami akan segera berkoordinasi dengan MDA Kecamatan untuk share surat ini agar disampaikan ke desa-desa,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Satgas Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa mengatakan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan situasi daerah yang penyebaran kasusnya semakin masif. “Itu berdasarkan SE MDA dan penegasan Gubernur. Dalam SE point 2.b disebutkan ogoh-ogoh dapat dilaksanakan jika kondisi kasus covid-19 melandai dan stabil. Sementara saat ini, justru kasus naik. Jadi kami bersama MDA lebih awal mengantisipasi agar tidak membuat, supaya tidak ada kerugian kelompok,” kata dia.

Sebelumnya, Surat Edaran MDA Bali Nomor 009/SE/MDA-Prov-Bali/XII/2021 tahun 2021 tentang Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944, serta Surat Gubernur Bali Nomor : 8.19.430/287/Kes/-DISBUD tentang Penegasan Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944 tertanggal 4 Januari 2022, disebutkan jika pelaksaan ogoh-ogoh dapat dilaksanakan.

Di sisi lain, Desa Jinengdalem sudah mulai menggarap ogoh-ogoh sejak pertengahan bulan Januari lalu. Prosesnya pun sudah 65 persen. Biaya yang dikeluarkan hingga saat ini Rp 3 juta. Mengetahui surat edaran penundaan pembuatan ogogh-ogoh lantaran situasi pandemi, Bendesa Adat Jinengdalem Ketut Suranasa mengatakan muda-mudi di desa kecewa atas keputusan tersebut. Pun demikian pihaknya telah menyampaikan kepada muda-mudi untuk menunda pembuatan serta menghormati keputusan pemerintah.

Ia pun meminta penegasan dari pemerintah serta MDA bila nantinya ogoh-ogoh ditiadakan. Agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat yang sudah terlanjur membuat. “Harus ditegaskan lagi. Kalau sudah ditiadakan yang tegaskan tidak ada. JAngan lagi bahasanya ditunda, supaya tidak bingung mau lanjut atau stop. Muda-mudi kami juga sudah kecewa dengan adanya ini. Kami juga menunggu dari MDA keputusan pastinya. Tolong dirembugkan kembali nanti supaya kami juga jelas,” terangnya.

 






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Majelis Desa adat Kabupaten Buleleng memutuskan untuk menunda pembuatan ogoh-ogoh. Kesemerakan nyepi yang biasanya ditandai dengan pembuatan ogoh-ogoh di setiap banjar di desa, tahun ini ditunda semetara. Hal ini mengingat kasus covid-19 di Kabupaten Buleleng mengalami pengingkatan. Penundaan pembuatan ogoh-ogoh itu dilakukan berdasarkn SE MDA dan Penegasan dari Gubernur Bali. Kepastian itu pun disampaikan pada Jumat (4/2) pagi.

Penyarikan Madya MDA Buleleng, Nyoman Westa menyampaikan, hingga saat ini belum ada desa atau kelurahan yang melaporkan telah melaksanakan pembuatan ogoh-ogoh. Namun laporan yang masuk ke sekretariat MDA hanya perencanaan pembuatan itu. “Kami akan segera bersurat, menunda pembuatan ogoh-ogoh agar tidak menimbulkan kerugian dan kekecewan karena sudah terlanjur buat. Akhirnya menimbulkan keributan. Nanti kami akan segera berkoordinasi dengan MDA Kecamatan untuk share surat ini agar disampaikan ke desa-desa,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Satgas Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa mengatakan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan situasi daerah yang penyebaran kasusnya semakin masif. “Itu berdasarkan SE MDA dan penegasan Gubernur. Dalam SE point 2.b disebutkan ogoh-ogoh dapat dilaksanakan jika kondisi kasus covid-19 melandai dan stabil. Sementara saat ini, justru kasus naik. Jadi kami bersama MDA lebih awal mengantisipasi agar tidak membuat, supaya tidak ada kerugian kelompok,” kata dia.

Sebelumnya, Surat Edaran MDA Bali Nomor 009/SE/MDA-Prov-Bali/XII/2021 tahun 2021 tentang Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944, serta Surat Gubernur Bali Nomor : 8.19.430/287/Kes/-DISBUD tentang Penegasan Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944 tertanggal 4 Januari 2022, disebutkan jika pelaksaan ogoh-ogoh dapat dilaksanakan.

Di sisi lain, Desa Jinengdalem sudah mulai menggarap ogoh-ogoh sejak pertengahan bulan Januari lalu. Prosesnya pun sudah 65 persen. Biaya yang dikeluarkan hingga saat ini Rp 3 juta. Mengetahui surat edaran penundaan pembuatan ogogh-ogoh lantaran situasi pandemi, Bendesa Adat Jinengdalem Ketut Suranasa mengatakan muda-mudi di desa kecewa atas keputusan tersebut. Pun demikian pihaknya telah menyampaikan kepada muda-mudi untuk menunda pembuatan serta menghormati keputusan pemerintah.

Ia pun meminta penegasan dari pemerintah serta MDA bila nantinya ogoh-ogoh ditiadakan. Agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat yang sudah terlanjur membuat. “Harus ditegaskan lagi. Kalau sudah ditiadakan yang tegaskan tidak ada. JAngan lagi bahasanya ditunda, supaya tidak bingung mau lanjut atau stop. Muda-mudi kami juga sudah kecewa dengan adanya ini. Kami juga menunggu dari MDA keputusan pastinya. Tolong dirembugkan kembali nanti supaya kami juga jelas,” terangnya.

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/