alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Perternak Babi se-Bali Sepakati Harga Jual Babi Hidup Keluar Bali Rp 45 Ribu

GIANYAR, BALI EXPRESS – Peternak Babi se-Bali menyepakati harga daging babi untuk pengiriman babi keluar daerah sebesar Rp 45.000 per kilogram. Hal itu disepakati dalam Rapat Akbar Peternak Babi se-Bali, di Ubud, Sabtu (2/4).

Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hari Suyasa, yang dikonfirmasi Senin (4/4) membenarkan perihal kesepakatan tersebut. Dirinya mengatakan bahwa para peternak babi se-Bali sepakat untuk menentukan harga pengiriman babi keluar daerah adalah Rp 45.000 per kilogram. “Yang kami ajak bersepakat adalah para pengusaha pengirim babi yang biasa mengirim keluar daerah. Kita sepakat di harga Rp 45.000 per kilogram,” tegasnya.

Dirinya menambahkan jika kesepakatan tersebut diambil berdasarkan harga dasar babi di peternakan di Bali. Dimana dengan harga dasar sekitar Rp 40.000 babi hidup di peternakan. “Maka akhirnya kami menyepakati harga kirim hidup Rp 45.000 perkilogram,” imbuhnya.

Ia menegaskan jika harga itu khusus pengiriman keluar daerah. Baik ke Surabaya, Jakarta hingga Medan. Sedangkan jika pengiriman lokal untuk pasar Bali berada diharga Rp 35.000 hingga Rp 37.000. Dan dengan disepakatinya harga kirim Rp 45.000 tersebut, maka ada kenaikan dari harga jual sebelumnya. Yakni harga lama Rp 37.000 hingga Rp 39.000 perkilogramnya. Dan dengan adanya kenaikan harga tersebut, pihaknya menilai sudah menguntungkan penjual babi di luar Bali. “Misalnya di Jakarta, harga babi potong rata-rata Rp 120.000 sampai Rp 140.000 per kilogram,” lanjut Hari Suyasa.

Pihaknya pun berharap, harga tersebut menguntungkan para peternak di Bali. Karena menurutnya pematokan harga juag dilakukan untuk menjaga persaingan usaha yang sehat di tingkat peternak hingga penjual. Meskipun saat ini kata dia, ketersediaan babi di Bali belum pulih pasca wabah ASF yang melanda di tahun 2020 lalu. “Populasi belum pulih 100 persen. Tapi dibandingkan daerah lain, seperti Manado dan Medan, justru Bali lebih cepat pemulihan untuk beternak babi, sehingga saat ini babi dari Bali saat ini mendominasi pasaran dan ini peluang yang bagus,” pungkasnya.

Sementara itu berdasarkan data dari Dinas Pertanian Gianyar Bidang Peternakan, jumlah populasi babi di tahun 2016 mencapai 119.826 ekor. Kemudian di tahun 2017 meningkat menjadi 120.017 ekor. Di tahun 2018 turun menjadi 119.861 ekor. Meningkat lagi di tahun 2019 menjadi 138.764 ekor. Dan menurun drastis di tahun 2020 karena adanya susfek ASF menjadi 83.316 ekor dan meningkat di tahun 2021 menjadi 87.248 ekor.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Peternak Babi se-Bali menyepakati harga daging babi untuk pengiriman babi keluar daerah sebesar Rp 45.000 per kilogram. Hal itu disepakati dalam Rapat Akbar Peternak Babi se-Bali, di Ubud, Sabtu (2/4).

Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hari Suyasa, yang dikonfirmasi Senin (4/4) membenarkan perihal kesepakatan tersebut. Dirinya mengatakan bahwa para peternak babi se-Bali sepakat untuk menentukan harga pengiriman babi keluar daerah adalah Rp 45.000 per kilogram. “Yang kami ajak bersepakat adalah para pengusaha pengirim babi yang biasa mengirim keluar daerah. Kita sepakat di harga Rp 45.000 per kilogram,” tegasnya.

Dirinya menambahkan jika kesepakatan tersebut diambil berdasarkan harga dasar babi di peternakan di Bali. Dimana dengan harga dasar sekitar Rp 40.000 babi hidup di peternakan. “Maka akhirnya kami menyepakati harga kirim hidup Rp 45.000 perkilogram,” imbuhnya.

Ia menegaskan jika harga itu khusus pengiriman keluar daerah. Baik ke Surabaya, Jakarta hingga Medan. Sedangkan jika pengiriman lokal untuk pasar Bali berada diharga Rp 35.000 hingga Rp 37.000. Dan dengan disepakatinya harga kirim Rp 45.000 tersebut, maka ada kenaikan dari harga jual sebelumnya. Yakni harga lama Rp 37.000 hingga Rp 39.000 perkilogramnya. Dan dengan adanya kenaikan harga tersebut, pihaknya menilai sudah menguntungkan penjual babi di luar Bali. “Misalnya di Jakarta, harga babi potong rata-rata Rp 120.000 sampai Rp 140.000 per kilogram,” lanjut Hari Suyasa.

Pihaknya pun berharap, harga tersebut menguntungkan para peternak di Bali. Karena menurutnya pematokan harga juag dilakukan untuk menjaga persaingan usaha yang sehat di tingkat peternak hingga penjual. Meskipun saat ini kata dia, ketersediaan babi di Bali belum pulih pasca wabah ASF yang melanda di tahun 2020 lalu. “Populasi belum pulih 100 persen. Tapi dibandingkan daerah lain, seperti Manado dan Medan, justru Bali lebih cepat pemulihan untuk beternak babi, sehingga saat ini babi dari Bali saat ini mendominasi pasaran dan ini peluang yang bagus,” pungkasnya.

Sementara itu berdasarkan data dari Dinas Pertanian Gianyar Bidang Peternakan, jumlah populasi babi di tahun 2016 mencapai 119.826 ekor. Kemudian di tahun 2017 meningkat menjadi 120.017 ekor. Di tahun 2018 turun menjadi 119.861 ekor. Meningkat lagi di tahun 2019 menjadi 138.764 ekor. Dan menurun drastis di tahun 2020 karena adanya susfek ASF menjadi 83.316 ekor dan meningkat di tahun 2021 menjadi 87.248 ekor.


Most Read

Artikel Terbaru

/