alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

DPRD Bali Dorong Pemprov Gencar Cari Vaksin PMK

DENPASAR, BALI EXPRESS — Sebanyak 65 hewan ternak sapi ditemukan terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Provinsi Bali. Berawal dari Kabupaten Gianyar, Buleleng dan di Karangasem, hingga yang terbaru muncul dua kasus di Bangli.

Tidak menutup kemungkinan kasusnya akan berkembang ke kabupaten lain, sehingga pemerintah khususnya Dinas Pertanian didorong DPRD Bali gencar mencari vaksinnya ke pusat.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali IGK Kresna Budi, Minggu (3/7). Dalam menangani kasus ini dengan cepat, dia mendukung semua kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster melalui Dinas Pertanian melakukan langkah-langkah yang tepat agar kasus PMK di Bali dapat tertangani dengan baik.

“Mendukung semua kebijakan yang diambil oleh bapak gubernur, khususnya yang melalui Distan. Salah satunya adalah langkah mengisolasikan (hewan) daerahnya yang terdampak PMK agar tidak menyebar,” jelasnya.

Isolasi bagi daerah yang terdapat hewan ternak sapinya terjangkit PMK agar diisolasikan dengan ketat dan daerah lain diberikan vaksinasi. Supaya Bali kembali lagi ke zona hijau PMK. Salah satu vaksin yang harus digencarkan adalah mengambil di Jakarta (pusat).

“Bali ini kan menjadi salah satu sentra yang menghasilkan sapi di Indonesia. Ketika ditemukannya PMK di Bali, bukan yang menanganinya Bali saja, tapi pemerintah pusat juga,” imbuh politisi Partai Golkar ini.

Baca Juga :  Dewan Minta Instansi Terkait Perhatikan Kesehatan Ternak

Sementara langkah yang harus dilakukan dalam situasi sekarang, Kresna Budi menegaskan, adalah memberikan para peternak bantuan obat-obatan dari dinas. Bantuan itu harus segera diberikan.

“Peternak sapi kita di Bali notabene masyarakat yang terbawah, kalau ternak mereka terjangkit, tentunya banyak modal yang harus dikeluarkan kembali,” tandasnya.

Kresna Budi juga mengaku telah berkoordinasi dengan Gubernur Bali, termasuk dengan Dinas Pertanian. Khususnya dalam mencari solusi untuk penanganan yang tercepat dalam menangani kasus PMK yang telah ditemukan di Bali. Meski baru puluhan, namun kasus itu dapat merebak dengan cepat kepada ternak sapi lainnya.

Sementara itu, adanya tambahan dua kasus sapi yang positif terjangkit PMK di Bali, selain di Gianyar, Buleleng, dan Karangasem, disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Made Alit Parwata.

Mantan Asisten III Setda Bangli itu menyebutkan, dua ekor sapi dipastikan positif terpapar PMK ada di Banjar Tabih, Desa Buahan, Kecamatan Kintamani. Sapi tersebut berada dalam satu kandang. Salah satunya baru dibeli di Pasar Hewan Kayuambua.

Berdasarkan keterangan peternaknya, lanjut Alit Parwata, salah satu sapi dibeli di Pasar Kayuambua pada 23 Juni lalu. Saat transaksi tidak ada tanda-tanda sakit, apalagi PMK. Peternaknya baru curiga setelah beberapa hari dipelihara. Hewan itu menunjukkan gejala terserang PMK.

Baca Juga :  Aset Pemprov Banyak Jadi Lahan Tidur, Dewan Minta Dikelola Maksimal

Selanjutnya pada 1 Juli pihaknya turun bersama Balai Besar Veteriner (BB Vet) dan mengambil sampel. Berdasarkan hasil pemeriksaan dipastikan positif PMK.

Pemerintah masih memastikan sumber penyakit itu. Dicurigai bersumber dari sapi yang dibeli di Pasar Hewan Kayuambua. Hingga kemarin, dua ekor sapi itu masih dipelihara pemiliknya di kandang yang sama.

Guna mengantisipasi penularan PMK semakin meluas di Bangli, Alit Parwata mengimbau masyarakat menjaga kesehatan sapi dan hewan peliharaan lainnya, terutama yang rawan terpapar PMK. Termasuk untuk sementara tidak membeli sapi untuk dipelihara.

Saat ini Pemkab Bangli masih menunggu vaksin dari pemerintah pusat. Alit Parwata menyebutkan, populasi sapi di Bangli mencapai 68.800 ekor lebih. Paling banyak berada di Kecamatan Kintamani. Sedangkan jumlah populasi sapi, babi dan kambing menembus angka 120 ribu ekor. “Kalau babi paling banyak di Kecamatan Tembuku,” tandasnya.

Terkait dengan rencana menutup Pasar Kayuambua, Alit Parwata mengatakan, pasar hewan satu-satunya di Bangli itu tidak ditutup, karena pemerintah sudah melakukan upaya antisipasi penyebaran PMK. Seorang dokter hewan standby di pasar untuk memeriksa ternak sebelum masuk pasar. Asal-usul ternak juga harus jelas.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS — Sebanyak 65 hewan ternak sapi ditemukan terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Provinsi Bali. Berawal dari Kabupaten Gianyar, Buleleng dan di Karangasem, hingga yang terbaru muncul dua kasus di Bangli.

Tidak menutup kemungkinan kasusnya akan berkembang ke kabupaten lain, sehingga pemerintah khususnya Dinas Pertanian didorong DPRD Bali gencar mencari vaksinnya ke pusat.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali IGK Kresna Budi, Minggu (3/7). Dalam menangani kasus ini dengan cepat, dia mendukung semua kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster melalui Dinas Pertanian melakukan langkah-langkah yang tepat agar kasus PMK di Bali dapat tertangani dengan baik.

“Mendukung semua kebijakan yang diambil oleh bapak gubernur, khususnya yang melalui Distan. Salah satunya adalah langkah mengisolasikan (hewan) daerahnya yang terdampak PMK agar tidak menyebar,” jelasnya.

Isolasi bagi daerah yang terdapat hewan ternak sapinya terjangkit PMK agar diisolasikan dengan ketat dan daerah lain diberikan vaksinasi. Supaya Bali kembali lagi ke zona hijau PMK. Salah satu vaksin yang harus digencarkan adalah mengambil di Jakarta (pusat).

“Bali ini kan menjadi salah satu sentra yang menghasilkan sapi di Indonesia. Ketika ditemukannya PMK di Bali, bukan yang menanganinya Bali saja, tapi pemerintah pusat juga,” imbuh politisi Partai Golkar ini.

Baca Juga :  Disperindag-TPID Sidak Pantau Harga dan Stok Jelang Galungan

Sementara langkah yang harus dilakukan dalam situasi sekarang, Kresna Budi menegaskan, adalah memberikan para peternak bantuan obat-obatan dari dinas. Bantuan itu harus segera diberikan.

“Peternak sapi kita di Bali notabene masyarakat yang terbawah, kalau ternak mereka terjangkit, tentunya banyak modal yang harus dikeluarkan kembali,” tandasnya.

Kresna Budi juga mengaku telah berkoordinasi dengan Gubernur Bali, termasuk dengan Dinas Pertanian. Khususnya dalam mencari solusi untuk penanganan yang tercepat dalam menangani kasus PMK yang telah ditemukan di Bali. Meski baru puluhan, namun kasus itu dapat merebak dengan cepat kepada ternak sapi lainnya.

Sementara itu, adanya tambahan dua kasus sapi yang positif terjangkit PMK di Bali, selain di Gianyar, Buleleng, dan Karangasem, disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Made Alit Parwata.

Mantan Asisten III Setda Bangli itu menyebutkan, dua ekor sapi dipastikan positif terpapar PMK ada di Banjar Tabih, Desa Buahan, Kecamatan Kintamani. Sapi tersebut berada dalam satu kandang. Salah satunya baru dibeli di Pasar Hewan Kayuambua.

Berdasarkan keterangan peternaknya, lanjut Alit Parwata, salah satu sapi dibeli di Pasar Kayuambua pada 23 Juni lalu. Saat transaksi tidak ada tanda-tanda sakit, apalagi PMK. Peternaknya baru curiga setelah beberapa hari dipelihara. Hewan itu menunjukkan gejala terserang PMK.

Baca Juga :  Awal Tahun Amankan Ganja hingga Ekstasi dari Enam Tersangka

Selanjutnya pada 1 Juli pihaknya turun bersama Balai Besar Veteriner (BB Vet) dan mengambil sampel. Berdasarkan hasil pemeriksaan dipastikan positif PMK.

Pemerintah masih memastikan sumber penyakit itu. Dicurigai bersumber dari sapi yang dibeli di Pasar Hewan Kayuambua. Hingga kemarin, dua ekor sapi itu masih dipelihara pemiliknya di kandang yang sama.

Guna mengantisipasi penularan PMK semakin meluas di Bangli, Alit Parwata mengimbau masyarakat menjaga kesehatan sapi dan hewan peliharaan lainnya, terutama yang rawan terpapar PMK. Termasuk untuk sementara tidak membeli sapi untuk dipelihara.

Saat ini Pemkab Bangli masih menunggu vaksin dari pemerintah pusat. Alit Parwata menyebutkan, populasi sapi di Bangli mencapai 68.800 ekor lebih. Paling banyak berada di Kecamatan Kintamani. Sedangkan jumlah populasi sapi, babi dan kambing menembus angka 120 ribu ekor. “Kalau babi paling banyak di Kecamatan Tembuku,” tandasnya.

Terkait dengan rencana menutup Pasar Kayuambua, Alit Parwata mengatakan, pasar hewan satu-satunya di Bangli itu tidak ditutup, karena pemerintah sudah melakukan upaya antisipasi penyebaran PMK. Seorang dokter hewan standby di pasar untuk memeriksa ternak sebelum masuk pasar. Asal-usul ternak juga harus jelas.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/