alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Dua Ekor Sapi di Bangli Terjangkit PMK, Pasar Kayuambua Tetap Buka

BANGLI, BALI EXPRESS-  Kasus  sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) ditemukan di Kabupaten Bangli. Pemerintah setempat pun mengimbau peternak tetap waspada. Diimbau untuk sementara tidak membeli sapi untuk dipelihara, meskipun Pasar Hewan Kayuambua, Bangli tetap buka.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Made Alit Parwata mengatakan, pasar hewan satu-satunya di Bangli itu tidak ditutup karena pemerintah sudah melakukan upaya antisipasi penyebaran PMK. Seorang dokter hewan standby di pasar untuk memeriksa ternak sebelum masuk pasar.  Asal-usul ternak juga harus jelas. “Keluar (menjual sapi,Red) boleh, beli jangan dulu,” kata Alit Parwata dikonfirmasi Minggu (3/7).

Imbauan itu, jelas Alit Parwata sebenarnya sudah disampaikan sebelum PMK ditemukan di Bali atau saat merebak di luar Pulau Bali. Namun masih saja ada membeli sapi itu untuk dipelihara.

Baca Juga :  Vaksinasi Anak, Suwirta Minta Data Valid

Sementara disinggung terkait sapi terjangkit PMK di Bangli, mantan Asisten III Setda Bangli itu menyebutkan bahwa ada dua ekor sapi dipastikan positif terpapar PMK di Banjar Tabih, Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Sapi tersebut berada dalam satu kandang. Salah satunya baru dibeli di  Pasar Hewan Kayuambua.
Berdasarkan keterangan peternaknya, lanjut Alit Parwata, salah satu sapi dibeli di Pasar Kayuambua pada 23 Juni lalu. Saat transaksi tidak ada tanda-tanda sakit, apalagi PMK. Peternaknya baru curiga setelah beberapa hari dipelihara. Hewan itu menunjukkan gejala terserang PMK. Selanjutnya pada 1 Juli pihaknya turun bersama Balai Besar Veteriner (BB Vet) dan mengambil sampel. Berdasarkan hasil pemeriksaan dipastikan positif PMK.

Baca Juga :  Naas, Pekerja Tewas Tersengat Listrik Saat Perbaiki Stop Kontak

Pemerintah masih memastikan sumber penyakit itu. Dicurigai bersumber dari sapi yang dibeli di Pasar Hewan Kayuambua. Guna mengantisipasi penularan PMK semakin meluas di Bangli, Alit Parwata mengimbau masyarakat Bangli menjaga kesehatan sapi dan hewan peliharaan lainnya, terutama yang rawan terpapar PMK. Termasuk untuk sementara tidak membeli sapi untuk dipelihara.

Saat ini Pemkab Bangli masih menunggu vaksin dari pemerintah pusat. Alit Parwata menyebutkan populasi sapi di Bangli mencapai 68.800 ekor lebih. Paling banyak di Kecamatan Kintamani. Sedangkan jumlah populasi sapi, babi dan kambing tembus 120 ribu ekor. “Kalau babi paling banyak di Kecamatan Tembuku,” tandasnya.

 

 


BANGLI, BALI EXPRESS-  Kasus  sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) ditemukan di Kabupaten Bangli. Pemerintah setempat pun mengimbau peternak tetap waspada. Diimbau untuk sementara tidak membeli sapi untuk dipelihara, meskipun Pasar Hewan Kayuambua, Bangli tetap buka.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Made Alit Parwata mengatakan, pasar hewan satu-satunya di Bangli itu tidak ditutup karena pemerintah sudah melakukan upaya antisipasi penyebaran PMK. Seorang dokter hewan standby di pasar untuk memeriksa ternak sebelum masuk pasar.  Asal-usul ternak juga harus jelas. “Keluar (menjual sapi,Red) boleh, beli jangan dulu,” kata Alit Parwata dikonfirmasi Minggu (3/7).

Imbauan itu, jelas Alit Parwata sebenarnya sudah disampaikan sebelum PMK ditemukan di Bali atau saat merebak di luar Pulau Bali. Namun masih saja ada membeli sapi itu untuk dipelihara.

Baca Juga :  Kelas Terlalu Gemuk, Buleleng Bakal Bangun Sekolah Baru di Bali Barat

Sementara disinggung terkait sapi terjangkit PMK di Bangli, mantan Asisten III Setda Bangli itu menyebutkan bahwa ada dua ekor sapi dipastikan positif terpapar PMK di Banjar Tabih, Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Sapi tersebut berada dalam satu kandang. Salah satunya baru dibeli di  Pasar Hewan Kayuambua.
Berdasarkan keterangan peternaknya, lanjut Alit Parwata, salah satu sapi dibeli di Pasar Kayuambua pada 23 Juni lalu. Saat transaksi tidak ada tanda-tanda sakit, apalagi PMK. Peternaknya baru curiga setelah beberapa hari dipelihara. Hewan itu menunjukkan gejala terserang PMK. Selanjutnya pada 1 Juli pihaknya turun bersama Balai Besar Veteriner (BB Vet) dan mengambil sampel. Berdasarkan hasil pemeriksaan dipastikan positif PMK.

Baca Juga :  Mau Nyabu, Gus Bule Ditangkap

Pemerintah masih memastikan sumber penyakit itu. Dicurigai bersumber dari sapi yang dibeli di Pasar Hewan Kayuambua. Guna mengantisipasi penularan PMK semakin meluas di Bangli, Alit Parwata mengimbau masyarakat Bangli menjaga kesehatan sapi dan hewan peliharaan lainnya, terutama yang rawan terpapar PMK. Termasuk untuk sementara tidak membeli sapi untuk dipelihara.

Saat ini Pemkab Bangli masih menunggu vaksin dari pemerintah pusat. Alit Parwata menyebutkan populasi sapi di Bangli mencapai 68.800 ekor lebih. Paling banyak di Kecamatan Kintamani. Sedangkan jumlah populasi sapi, babi dan kambing tembus 120 ribu ekor. “Kalau babi paling banyak di Kecamatan Tembuku,” tandasnya.

 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/