alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Sejak Juli, Warga Bukit Tanah Barak Kesulitan Air

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Pemandangan warga berjalan kaki menuju sumber mata air, sudah biasa terlihat di Dusun Tanah Barak, Desa Seraya Timur, Karangasem. Kondisi serupa pun mulai terjadi beberapa waktu belakangan.

Puluhan kepala keluarga (KK) di dusun tersebut mulai kesulitan mendapat air bersih sejak Juli lalu. Alhasil mereka mencari air di beberapa sumber air di manapun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak sedikit dari mereka yang tinggal di bagian atas atau bebukitan berjalan kaki sejauh 2 km. Sumber air yang dinamai mata air Anakan  itu, lokasinya berbatasan dengan Desa Bunutan, Kecamatan Abang.

 

Kepala Dusun Tanah Barak I Made Putra menyebut, stok air di penampungan masing-masing rumah maupun cubang umum sudah habis. “Warga kami sampai antre di sumber air itu (Anakan). Kebanyakan pakai jerigen, tapi dapatnya sampai sore karena debit airnya juga mengecil,” tutur Made Putra, Selasa (4/8).

Baca Juga :  Siap Edar Pertengahan April, AMDK Tirta Sanjiwani Uji Coba Mesin

Kata Putra, warga mencari air di banyak tempat. Jika mengandalkan satu lokasi, jelas butuh waktu lama karena banyak warga yang manfaatkan. “Pokoknya sampai dapat air. Di mana pun ada, carinya ke sana. Tidak tetap di anakan,” ujarnya.

Penduduk di Banjar Tanah Barak sebanyak 318 KK. Namun hanya puluhan keluarga yang sebagian besar berada di atas bukit yang alami kesulitan air. Sementara warga di bagian bawah yang terdampak, membeli air per tangki Rp 300-350 ribu.

Untuk pasokan, warga juga mengandalkan penyaluran dari PDAM. Namun pasokan tidak dilakukan setiap hari dan tergantung jadwal. Maka dari itu, warga mencari air di sumber dekat bukit. Ini dilakukan untuk menutupi kekurangan saat tidak ada pasokan air.

Baca Juga :  Warga Bakar Motor Pencuri Sesari di Pura Dalem Subilang

Warga harus mengirit air bersih untuk kebutuhan tiap hari. Tiap jerigen bisa digunakan satu sampai dua hari tergantung kebutuhannya, misalnya untuk keperluan memasak. “Kemungkinan kondisi ini terus berlanjut hingga akhir tahun. Sama seperti sebelumnya. Warga kami jelas berharap bisa dapat bantuan air untuk makan dan minum,” ucapnya.


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Pemandangan warga berjalan kaki menuju sumber mata air, sudah biasa terlihat di Dusun Tanah Barak, Desa Seraya Timur, Karangasem. Kondisi serupa pun mulai terjadi beberapa waktu belakangan.

Puluhan kepala keluarga (KK) di dusun tersebut mulai kesulitan mendapat air bersih sejak Juli lalu. Alhasil mereka mencari air di beberapa sumber air di manapun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak sedikit dari mereka yang tinggal di bagian atas atau bebukitan berjalan kaki sejauh 2 km. Sumber air yang dinamai mata air Anakan  itu, lokasinya berbatasan dengan Desa Bunutan, Kecamatan Abang.

 

Kepala Dusun Tanah Barak I Made Putra menyebut, stok air di penampungan masing-masing rumah maupun cubang umum sudah habis. “Warga kami sampai antre di sumber air itu (Anakan). Kebanyakan pakai jerigen, tapi dapatnya sampai sore karena debit airnya juga mengecil,” tutur Made Putra, Selasa (4/8).

Baca Juga :  Gelapkan Bantuan Yayasan, Oknum Satgas Covid-19 Diganjar 2 Tahun

Kata Putra, warga mencari air di banyak tempat. Jika mengandalkan satu lokasi, jelas butuh waktu lama karena banyak warga yang manfaatkan. “Pokoknya sampai dapat air. Di mana pun ada, carinya ke sana. Tidak tetap di anakan,” ujarnya.

Penduduk di Banjar Tanah Barak sebanyak 318 KK. Namun hanya puluhan keluarga yang sebagian besar berada di atas bukit yang alami kesulitan air. Sementara warga di bagian bawah yang terdampak, membeli air per tangki Rp 300-350 ribu.

Untuk pasokan, warga juga mengandalkan penyaluran dari PDAM. Namun pasokan tidak dilakukan setiap hari dan tergantung jadwal. Maka dari itu, warga mencari air di sumber dekat bukit. Ini dilakukan untuk menutupi kekurangan saat tidak ada pasokan air.

Baca Juga :  Fraksi Golkar Ingatkan Implikasi Pinjaman Daerah pada DAU

Warga harus mengirit air bersih untuk kebutuhan tiap hari. Tiap jerigen bisa digunakan satu sampai dua hari tergantung kebutuhannya, misalnya untuk keperluan memasak. “Kemungkinan kondisi ini terus berlanjut hingga akhir tahun. Sama seperti sebelumnya. Warga kami jelas berharap bisa dapat bantuan air untuk makan dan minum,” ucapnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/