alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Penyebab Hujan saat Musim Kemarau di Bali, Ini Penjelasan BMKG

MANGUPURA, BALI EXPRESS- Juli hingga Agustus pada umumnya dikenal sebagai puncak musim kemarau di Bali. Namun beberapa hari ini malah turun hujan di beberapa wilayah di Bali. Kok bisa?

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar pun menanggapi fenomena ini. Sub Koordinator Subidang Pelayanan Jasa BBMKG Wilayah III Denpasar Tirtha Wijaya mengatakan, hujan di musim kemarau merupakan hal yang masih bisa terjadi.  Katanya, kemarau bukan berarti tidak terjadi hujan sama sekali. Namun intensitasnya tidak seperti pada musim hujan. 

Hal itu sesuai dengan prakiraan iklim BMKG yang di rilis pada Maret 2021, yang menyatakan musim kemarau pada tahun inj berpotensi lebih basah ketimbang tahun sebelumnya. “Untuk potensi hujan dapat terjadi hingga satu minggu ke depan,” ujar Wijaya pada Rabu (4/8).

Menurutnya, kondisi hujan beberapa hari terakhir di wilayah Bali disebabkan oleh kondisi suhu muka laut perairan di selatan Jawa, dan Bali Nusra cukup hangat. Hal itu meningkatkan peluang terjadinya penguapan dan dapat memicu tumbuhnya awan-awan konvektif (awan hujan) di wilayah Bali. Ditambah lagi dengan pengaruh melemahnya angin monsun timur Australia yang menambah terjadinya peluang terjadinya hujan di Bali.  “Selama 3 hari ke depan, kondisi cuaca diprediksi berawan dan hujan ringan hingga sedang secara tidak merata di wilayah Bali bagian barat, tengah, selatan dan timur,” ungkapnya. 

Wijaya menambahkan, berdasarkan pengamatan streamline, terlihat adanya daerah konvergensi yang memanjang dari perairan selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Nusa Tenggara Timur (NTT) bagian timur. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi, salah satunya di wilayah Bali. 

Hal itu juga ditambah pengaruh dari gelombang Atmosfer Rossby Ekuator, yang mempengaruhi signifikannya aktivitas potensi pembentukan awan hujan di wilayah Sumatera bagian utara, Jawa, Bali, NTB, dan NTT, akibat suplay uap air bergerak dari Pasifik Timur ke Pasifik Barat. “Gelombang Rossby umumnya bisa bertahan 7 hingga 10 hari di wilayah Indonesia,” jelasnya. (esa)


MANGUPURA, BALI EXPRESS- Juli hingga Agustus pada umumnya dikenal sebagai puncak musim kemarau di Bali. Namun beberapa hari ini malah turun hujan di beberapa wilayah di Bali. Kok bisa?

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar pun menanggapi fenomena ini. Sub Koordinator Subidang Pelayanan Jasa BBMKG Wilayah III Denpasar Tirtha Wijaya mengatakan, hujan di musim kemarau merupakan hal yang masih bisa terjadi.  Katanya, kemarau bukan berarti tidak terjadi hujan sama sekali. Namun intensitasnya tidak seperti pada musim hujan. 

Hal itu sesuai dengan prakiraan iklim BMKG yang di rilis pada Maret 2021, yang menyatakan musim kemarau pada tahun inj berpotensi lebih basah ketimbang tahun sebelumnya. “Untuk potensi hujan dapat terjadi hingga satu minggu ke depan,” ujar Wijaya pada Rabu (4/8).

Menurutnya, kondisi hujan beberapa hari terakhir di wilayah Bali disebabkan oleh kondisi suhu muka laut perairan di selatan Jawa, dan Bali Nusra cukup hangat. Hal itu meningkatkan peluang terjadinya penguapan dan dapat memicu tumbuhnya awan-awan konvektif (awan hujan) di wilayah Bali. Ditambah lagi dengan pengaruh melemahnya angin monsun timur Australia yang menambah terjadinya peluang terjadinya hujan di Bali.  “Selama 3 hari ke depan, kondisi cuaca diprediksi berawan dan hujan ringan hingga sedang secara tidak merata di wilayah Bali bagian barat, tengah, selatan dan timur,” ungkapnya. 

Wijaya menambahkan, berdasarkan pengamatan streamline, terlihat adanya daerah konvergensi yang memanjang dari perairan selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Nusa Tenggara Timur (NTT) bagian timur. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi, salah satunya di wilayah Bali. 

Hal itu juga ditambah pengaruh dari gelombang Atmosfer Rossby Ekuator, yang mempengaruhi signifikannya aktivitas potensi pembentukan awan hujan di wilayah Sumatera bagian utara, Jawa, Bali, NTB, dan NTT, akibat suplay uap air bergerak dari Pasifik Timur ke Pasifik Barat. “Gelombang Rossby umumnya bisa bertahan 7 hingga 10 hari di wilayah Indonesia,” jelasnya. (esa)


Most Read

Artikel Terbaru

/