alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Soal Kematian Bocah Tak Wajar, Pihak Desa Tunggu Kepastian Otopsi

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Kepastian penyebab kematian bocah 13 tahun asal Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, I Kadek Sepi, masih jadi pertanyaan publik. Kasus tersebut mencuat setelah pihak keluarga melaporkan sejumlah kejanggalan itu ke Polsek Abang, beberapa waktu lalu. 

Kasus itu kini tengah ditangani Polres Karangasem. Untuk memastikan penyebab kematian korban yang diduga akibat tindakan kekerasan, perlu dilakukan otopsi. Prajuru Desa Adat Linggawana, Kecamatan Abang, daerah asal korban, pun masih menunggu kepastian tersebut.

Ini karena berkaitan dengan kepercayaan di desa setempat. Sesuai kepercayaan, jika ada krama (warga) adat yang dimakamkan di kuburan desa setempat, setelah dilakukan pembongkaran, pantang untuk dimakamkan kembali di kuburan tersebut.

Bendesa Linggawana Nyoman Anta mengakui pihaknya masih menunggu kepastian kepolisian soal rencana otopsi. Meski diakui, kabarnya pembongkaran makam bakal dilakukan Selasa (5/10) pagi.

“Api kami juga menunggu apakah pasti atau tidak. Karena ini masalah Niskala jadi kami sudah sampaikan agar ada kepastian,” ujar Anta, Senin (4/10).

Dirinya membenarkan, mendiang I Kadek Sepi dan keluarganya merupakan warga asli Desa Adat Linggawana, di Desa Kerta Mandala. Namun tinggal di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang. “Kami sudah rapat internal desa. Kami siap terkait urusan adat kami. Jadi kami menunggu aparat terkait agar segera ada petunjuk, kejelasan,” ucapnya.

Terkait rencana otopsi, Kapolres Karangasem AKBP Ricko AA Taruna belum bisa memberikan keterangan jelas. “Silakan ke Kasatreskrim ya. Sudah ditangani di sana,” ujar Ricko dihubungi wartawan. Begitu pula Kasatreskrim Polres Karangasem AKP Aris Setyanto belum mau berkomentar terkait rencana pembongkaran makam jenazah bocah SD kelas VI itu.

Dihubungi melalui kontak teleponnya hingga malam, hanya terdengar nada sambung, tapi yang bersangkutan tidak menjawab. Sempat membalas pesan yang dikirim namun belum mau membeberkan konfirmasi. “Setelah rapat saya telepon,” ucap Aris.

Diberitakan sebelumnya, kematian I Kadek Sepi yang disebut meninggal karena diare menjadi atensi publik, belakangan ini. Kasus itu ramai setelah anggota keluarga melaporkan perihal kematian bocah tersebut ke Polsek Abang, beberapa waktu lalu.

Kecurigaan adanya dugaan tindakan kekerasan yang dialami korban pun jadi latar belakang keluarga melapor ke polisi. Awalnya, saat jenazah dimandikan sebelum prosesi pemakaman, Kamis (23/9), beberapa anggota keluarga mendapati luka lebam dan sejumlah kejanggalan di tubuh bocah kelas VI SD itu.

 

Di satu sisi, beberapa pihak mendapatkan informasi dari ayah korban, bocah yang tinggal di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, itu meninggal karena diare, Selasa (21/9). Di sisi lain, kematian Kadek Sepi dinilai tidak wajar.

 

Sumber di lapangan, Minggu (3/10) lalu menyebut beberapa jam sebelum meninggal, tepatnya sekitar pukul 13.00, I Kadek Sepi bermain layang-layang tak jauh dari rumah. Satu jam berselang, dia pulang. Namun kabar duka tentang kematian Kadek Sepi pun tersebar beberapa jam setelah itu. “Korban meninggal sekitar pukul 18.00 dikabarkan diare,” ujar sumber.

 

Pada Kamis (23/9) sekitar pukul 06.00, saat jenazah akan dimandikan, anggota kerabat korban melihat ada yang janggal. Mereka melihat terdapat luka lebam dan tampak lemas pada bagian leher. Namun jenazah akhirnya dimakamkan di kuburan setempat.

 

Kabar penyebab meninggalnya Kadek Sepi pun beragam versi. Saat ini kasus tersebut tengah ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karangasem.

 

Namun untuk memastikan kebenaran penyebab kematian korban, jenazah akan diotopsi. “Pembongkaran makam pada Selasa (5/10), dari hasil rapat aparat kepolisian dan pihak keluarga,” ujar Kepala Wilayah Banjar Dinas Babakan I Putu Soma.


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Kepastian penyebab kematian bocah 13 tahun asal Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, I Kadek Sepi, masih jadi pertanyaan publik. Kasus tersebut mencuat setelah pihak keluarga melaporkan sejumlah kejanggalan itu ke Polsek Abang, beberapa waktu lalu. 

Kasus itu kini tengah ditangani Polres Karangasem. Untuk memastikan penyebab kematian korban yang diduga akibat tindakan kekerasan, perlu dilakukan otopsi. Prajuru Desa Adat Linggawana, Kecamatan Abang, daerah asal korban, pun masih menunggu kepastian tersebut.

Ini karena berkaitan dengan kepercayaan di desa setempat. Sesuai kepercayaan, jika ada krama (warga) adat yang dimakamkan di kuburan desa setempat, setelah dilakukan pembongkaran, pantang untuk dimakamkan kembali di kuburan tersebut.

Bendesa Linggawana Nyoman Anta mengakui pihaknya masih menunggu kepastian kepolisian soal rencana otopsi. Meski diakui, kabarnya pembongkaran makam bakal dilakukan Selasa (5/10) pagi.

“Api kami juga menunggu apakah pasti atau tidak. Karena ini masalah Niskala jadi kami sudah sampaikan agar ada kepastian,” ujar Anta, Senin (4/10).

Dirinya membenarkan, mendiang I Kadek Sepi dan keluarganya merupakan warga asli Desa Adat Linggawana, di Desa Kerta Mandala. Namun tinggal di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang. “Kami sudah rapat internal desa. Kami siap terkait urusan adat kami. Jadi kami menunggu aparat terkait agar segera ada petunjuk, kejelasan,” ucapnya.

Terkait rencana otopsi, Kapolres Karangasem AKBP Ricko AA Taruna belum bisa memberikan keterangan jelas. “Silakan ke Kasatreskrim ya. Sudah ditangani di sana,” ujar Ricko dihubungi wartawan. Begitu pula Kasatreskrim Polres Karangasem AKP Aris Setyanto belum mau berkomentar terkait rencana pembongkaran makam jenazah bocah SD kelas VI itu.

Dihubungi melalui kontak teleponnya hingga malam, hanya terdengar nada sambung, tapi yang bersangkutan tidak menjawab. Sempat membalas pesan yang dikirim namun belum mau membeberkan konfirmasi. “Setelah rapat saya telepon,” ucap Aris.

Diberitakan sebelumnya, kematian I Kadek Sepi yang disebut meninggal karena diare menjadi atensi publik, belakangan ini. Kasus itu ramai setelah anggota keluarga melaporkan perihal kematian bocah tersebut ke Polsek Abang, beberapa waktu lalu.

Kecurigaan adanya dugaan tindakan kekerasan yang dialami korban pun jadi latar belakang keluarga melapor ke polisi. Awalnya, saat jenazah dimandikan sebelum prosesi pemakaman, Kamis (23/9), beberapa anggota keluarga mendapati luka lebam dan sejumlah kejanggalan di tubuh bocah kelas VI SD itu.

 

Di satu sisi, beberapa pihak mendapatkan informasi dari ayah korban, bocah yang tinggal di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, itu meninggal karena diare, Selasa (21/9). Di sisi lain, kematian Kadek Sepi dinilai tidak wajar.

 

Sumber di lapangan, Minggu (3/10) lalu menyebut beberapa jam sebelum meninggal, tepatnya sekitar pukul 13.00, I Kadek Sepi bermain layang-layang tak jauh dari rumah. Satu jam berselang, dia pulang. Namun kabar duka tentang kematian Kadek Sepi pun tersebar beberapa jam setelah itu. “Korban meninggal sekitar pukul 18.00 dikabarkan diare,” ujar sumber.

 

Pada Kamis (23/9) sekitar pukul 06.00, saat jenazah akan dimandikan, anggota kerabat korban melihat ada yang janggal. Mereka melihat terdapat luka lebam dan tampak lemas pada bagian leher. Namun jenazah akhirnya dimakamkan di kuburan setempat.

 

Kabar penyebab meninggalnya Kadek Sepi pun beragam versi. Saat ini kasus tersebut tengah ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karangasem.

 

Namun untuk memastikan kebenaran penyebab kematian korban, jenazah akan diotopsi. “Pembongkaran makam pada Selasa (5/10), dari hasil rapat aparat kepolisian dan pihak keluarga,” ujar Kepala Wilayah Banjar Dinas Babakan I Putu Soma.


Most Read

Artikel Terbaru

/